AI Bisa Jadi Kunci Indonesia Kuasai Energi Nuklir, Benarkah Ini Masa Depan Ketahanan Energi?

OPINI
Mahasiswa Pascasarjana S2 Wawasan Pertahanan Nasional Universitas Brawijaya dan Aktivis LTN PCNU Kota Surabaya, M. Bahrul Marzuki, S.Fil. Foto istimewa

M. Bahrul Marzuki, S.Fil

Mahasiswa Pascasarjana Wawasa  Pertahanan Nasional Universitas Brawijaya dan Aktivis LTM PCNU Kota Surabaya 

Ketika kata  “nuklir” disebut, bayangan yang muncul di kepala banyak orang masih sama: perang, kehancuran, radiasi, dan ancaman terhadap umat manusia. Persepsi itu tidak sepenuhnya keliru. Sejarah telah menunjukkan betapa mengerikannya senjata nuklir jika berada di tangan negara yang menjadikannya instrumen peperangan.

Namun, persoalannya menjadi berbeda ketika nuklir dibicarakan sebagai sumber energi. Di tengah kebutuhan listrik yang terus meningkat, perubahan iklim, ketergantungan terhadap energi fosil, dan tuntutan menuju ketahanan energi nasional, Indonesia sebenarnya perlu berani membuka ruang diskusi yang lebih rasional mengenai energi nuklir.

Bukan untuk membuat senjata, Bukan pula untuk mengikuti perlombaan persenjataan negara-negara besar. Tetapi untuk bertanya: apakah Indonesia akan terus menjadi konsumen teknologi energi atau mulai membangun kemampuan sendiri?

Pertanyaan tersebut semakin relevan memasuki era kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

AI telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, melakukan penelitian, hingga mengambil keputusan. Jika dahulu seseorang harus mengumpulkan buku dan jurnal selama berbulan-bulan untuk memahami sebuah bidang, kini akses terhadap pengetahuan jauh lebih terbuka. AI dapat membantu menjelaskan konsep rumit, mengolah data, membuat simulasi, hingga membantu peneliti menemukan pola yang sebelumnya sulit terlihat. Di sinilah peluang Indonesia sebenarnya berada. Nuklir Jangan Selalu Dipandang Sebagai Senjata

Presiden Prabowo Subianto pernah mengingatkan mengenai ancaman perang dunia dengan penggunaan senjata nuklir. Pesan tersebut menunjukkan bahwa nuklir memang memiliki dimensi keamanan yang sangat serius.

Tetapi membicarakan nuklir hanya dari sisi militer juga membuat kita kehilangan perspektif yang lebih luas.

Teknologi nuklir memiliki banyak penggunaan damai. Di bidang energi, nuklir dapat menjadi salah satu sumber listrik dengan emisi karbon yang rendah. Dalam bidang kesehatan, teknologi nuklir digunakan untuk diagnosis dan terapi sejumlah penyakit. Di bidang pertanian, radiasi dapat dimanfaatkan dalam penelitian dan pengembangan varietas maupun pengendalian tertentu.

Artinya, nuklir pada dasarnya hanyalah teknologi. Dampaknya sangat bergantung pada bagaimana manusia menggunakannya.

Karena itu, Indonesia tidak perlu terjebak pada dua kutub ekstrem: menganggap nuklir sebagai solusi untuk semua persoalan atau menganggap nuklir sebagai sesuatu yang selalu berbahaya.

Yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk memahami, menguasai, mengatur, dan mengawasinya.

Editor : Arif Ardliyanto

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network