SMKN 1 Tulungagung Budidaya Melon Gunakan Hidroponik dan AutoGrow, Sekali Panen Capai 3,5 Ton

Saipul Yudi
SMKN 1 Tulungagung mengembangkan budidaya melon menggunakan sistem hidroponik NFT (Nutrient Film Technique) yang terintegrasi dengan AutoGrow System. (Foto : istimewa).

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – SMKN 1 Tulungagung berhasil mengembangkan budidaya melon berbasis teknologi hingga menghasilkan sekitar 3,5 ton dalam sekali panen.

Budidaya dilakukan menggunakan sistem hidroponik NFT (Nutrient Film Technique) yang terintegrasi dengan AutoGrow System, sehingga kondisi tanaman dapat dipantau melalui telepon seluler.

Inovasi tersebut menjadi salah satu unggulan yang ditampilkan dalam SEMESTA Harvest Day 2026, Senin (14/9). 

Program ini sekaligus menunjukkan pengembangan pembelajaran vokasi pertanian yang tidak hanya berorientasi pada praktik, tetapi juga produksi, teknologi, hingga pemasaran.

Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur Aries Agung Paewai mengapresiasi langkah SMKN 1 Tulungagung mengembangkan lahan sekolah menjadi laboratorium pembelajaran produktif.

Model tersebut dapat menjadi contoh bagi SMK lain, khususnya yang memiliki konsentrasi keahlian di bidang pertanian.Tuturnya.

“Menurut saya ini adalah proses yang sangat luar biasa yang bisa dicontoh oleh SMK-SMK kita yang punya jurusan pertanian. Nantinya akan dikembangkan lagi, termasuk bagaimana pola kemitraan yang dibangun,” kata Aries.

Budidaya Melon Inthanon dikembangkan di greenhouse seluas 949 meter persegi dengan kapasitas sekitar 2.350 populasi tanaman. Dari panen perdana, produksi yang dihasilkan mencapai sekitar 3,5 ton.

Sistem AutoGrow memungkinkan murid memantau kondisi tanaman menggunakan telepon seluler. Mereka dapat mengecek kelembapan, kondisi pertumbuhan, hingga menentukan waktu panen. Ucap Aries.

Selain Melon Inthanon, sekolah mengembangkan Melon Diva 15 di greenhouse seluas 160 meter persegi menggunakan sistem polibag dengan media tanah, cocopeat, dan kotoran hewan yang telah dihaluskan. Total luas greenhouse untuk budidaya melon mencapai sekitar 1.109 meter persegi.

Aries menilai pemanfaatan teknologi tersebut memperlihatkan perubahan pembelajaran pertanian di SMKN 1 Tulungagung. 

Lahan yang sebelumnya belum dimanfaatkan optimal kini dikembangkan menjadi kegiatan produktif, mulai dari perkebunan, peternakan hingga perikanan.

“Dulu masih banyak lahan yang kosong. Sekarang dikembangkan, sehingga kelihatan hasilnya. Itu kenapa saya datang ke sana, karena saya ingin menyaksikan perubahan yang dilakukan SMK tersebut,” ujarnya.

Menurut Aries, pembelajaran seperti itu penting karena siswa tidak boleh hanya menjadi pelaksana praktik. Mereka perlu memahami seluruh rantai usaha, mulai dari produksi, menjaga kualitas, hingga pemasaran.

“Saya sanjung mereka karena mereka sudah siap betul menjadi petani kreatif dan petani yang berwirausaha. Mereka tidak hanya di pertanian, tetapi juga di perkebunan dan perikanan,” katanya.

Kepala SMKN 1 Tulungagung Ning Fadlillah mengatakan pengembangan budidaya melon diperkuat melalui program SIKAP dan kemitraan dengan dunia industri, salah satunya Vertindo Semarang.

Melalui kemitraan tersebut, siswa mendapat pendampingan teknologi dan budidaya, termasuk penggunaan sistem NFT dan AutoGrow. Siswa juga menjalani praktik kerja lapangan (PKL) di perusahaan mitra.

“Anak-anak tidak hanya menanam. Mereka juga mengecek melalui handphone dengan sistem AutoGrow, memantau kelembapan dan memastikan tingkat kemanisan melon,” jelas Ning.

Melon dipanen sekitar 65–70 hari setelah tanam (HST). Setelah panen, produk menjalani pengecekan kualitas sebelum dipasarkan. 

Pada tahap awal, pemasaran dilakukan melalui mitra, namun sekolah mulai mendorong siswa melakukan pemasaran secara mandiri dengan tetap mengikuti standar kualitas dan harga yang disepakati.

Selain melon, sekolah mengembangkan kelas peminatan komoditas dan kewirausahaan, seperti ayam petelur, ayam kampung, sapi, domba, serta ayam broiler sistem closed house.

Khusus budidaya melon, terdapat 32 siswa dari Konsentrasi Keahlian Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura (ATPH).

“Harapannya, kami menjadi laboratorium hidup. Anak-anak semakin lincah dan terpacu dalam pertanian modern,” kata Ning.

 

Editor : Arif Ardliyanto

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network