Tim Putri Langsung Juara, Tim Putra Pertahankan Gelar
Dari kompetisi tingkat Jawa Timur, tim putra dan putri Surabaya menunjukkan hasil berbeda dari sisi pengalaman, tetapi sama-sama berujung gelar juara.
Tim putra sukses mempertahankan gelar juara GSI Jawa Timur selama dua tahun berturut-turut. Sementara bagi tim putri, keberhasilan tersebut menjadi catatan khusus karena merupakan keikutsertaan pertama mereka dalam ajang GSI.
Tim putri Surabaya harus bersaing dengan sejumlah tim dari kabupaten/kota di Jawa Timur. Dalam pertandingan penentuan, mereka berhasil mengatasi perlawanan Sidoarjo hingga akhirnya mengamankan posisi pertama.
“Yang paling membanggakan, putra dan putri sama-sama bisa menjadi juara. Untuk tim putri, ini merupakan pengalaman pertama mengikuti GSI, tetapi mereka mampu menunjukkan kemampuan dan mental bertanding yang baik,” ujar Febri.
Menurut dia, hasil tersebut juga memperlihatkan bahwa pembinaan sepak bola pelajar putri di Surabaya mulai menunjukkan perkembangan. Kesempatan bertanding menjadi salah satu bagian penting untuk membentuk mental dan kemampuan pemain sejak usia sekolah.
Seleksi Ketat, Pemain Tak Dipilih Secara Penunjukan
Dispendik Surabaya menerapkan proses seleksi secara kompetitif. Pemain tidak langsung ditunjuk untuk masuk ke dalam tim, melainkan harus memperlihatkan kemampuan melalui pertandingan.
Pemantauan dilakukan berdasarkan posisi dan karakter permainan masing-masing pemain. Mulai dari penjaga gawang, pemain tengah, hingga penyerang, seluruhnya dinilai berdasarkan kemampuan yang ditunjukkan selama proses seleksi.
“Proses tersebut membuat pemain yang terpilih benar-benar melewati tahapan kompetisi sebelum dipercaya menjadi bagian dari tim Surabaya. Pemantauan kemampuan juga dilakukan berdasarkan posisi dan karakter permainan, mulai dari penjaga gawang, gelandang hingga penyerang,” terangnya.
Pembinaan juga melibatkan guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK), Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP, serta Surabaya Legend.
Keterlibatan Surabaya Legend menjadi bagian dari proses pendampingan. Para mantan pemain Persebaya yang tergabung dalam komunitas tersebut turut membantu memantau serta mengembangkan kemampuan pemain muda.
“Yang kami dorong bukan hanya hasil pertandingan, tetapi juga proses pembinaan. Anak-anak mendapatkan pengalaman bertanding, belajar disiplin, bekerja sama dalam tim, sekaligus mengembangkan kemampuan mereka,” tutur Febri.
Sebelum berlaga di tingkat Jawa Timur, para pemain menjalani pemusatan latihan selama kurang lebih dua pekan. Program tersebut tidak hanya berisi latihan rutin, tetapi juga pertandingan persahabatan menghadapi sejumlah klub di Surabaya.
Laga uji coba tersebut digunakan untuk melihat perkembangan pemain sekaligus mengukur kesiapan tim sebelum menghadapi persaingan di tingkat provinsi.
Sekitar 14 Pemain Surabaya Berpeluang Masuk Skuad Jatim
Gelar juara Jawa Timur belum menjadi akhir perjalanan para pemain Surabaya. Mereka masih harus mengikuti proses seleksi bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk menentukan pemain yang akan memperkuat tim Jatim di tingkat nasional.
Sebagai juara pertama, Surabaya mendapat peluang mengisi sekitar 70 persen komposisi pemain skuad Jawa Timur. Dari total 20 pemain yang nantinya dipilih, sekitar 14 pemain diperkirakan berasal dari Surabaya.
“Setelah ini masih ada proses seleksi lagi untuk menentukan siapa saja yang akan mewakili Jawa Timur. Jadi, anak-anak tetap harus menunjukkan kemampuan terbaiknya,” kata Febri.
Berdasarkan keterangan tim pendamping, proses penentuan pemain tersebut dijadwalkan berlangsung pada 15 September 2026. Artinya, para pemain yang sebelumnya membawa Surabaya menjadi juara masih harus kembali bersaing untuk mendapatkan tempat di skuad Jawa Timur.
Febri berharap pengalaman yang diperoleh dalam GSI dapat menjadi modal bagi para pelajar untuk melanjutkan pengembangan kemampuan mereka.
“Kami berharap pengalaman di GSI ini menjadi bekal bagi anak-anak untuk terus berkembang. Semoga ada yang terpilih mewakili Jawa Timur dan bisa melanjutkan perjuangan hingga tingkat nasional,” pungkasnya.
Daftar Pemain Tim GSI Surabaya
Tim putra Surabaya diperkuat 20 pemain dari berbagai SMP negeri dan swasta. Mereka yakni Ifan Kurnia Yulianto (SMP Wachid Hasyim 1), Muhammad Rizky Al Bani Azwan Luthan (SMP Taman Pelajar), Bryan Azka Alexis Latief (SMPN 60), Rizki Ghaniy Iryanto dan Messi Haikal Agung Ibrahim (SMPN 21), Muhammad Dhana Darmawan (SMPN 41), Muhammad Fachri Al Anshofi (SMPN 50), serta Muhammad Fariz Djias Syahputra (SMPN 44 Surabaya).
Berikutnya Ricardo Ade Maulana (SMPN 28), Muhammad Kenzou Armando (SMPN 40), Chale Moussa (SMPN 13), Muhammad Azmi Azhar (SMPN 14), Muhammad Raihan ZdulqarnaIn (SMPN 25), Danu Arya Ibrakirta (SMPN 18), Fallah Alfiansyah Putra Darmawan (SMPN 20), Mochammad Ridho Susanto (SMPN 30), M. Darrel Kennard Kalani Defianto (SMPN 33), Carlo Prawira Yudha Hartanto (SMPN 3), M Fhatoni Ferdiansyah (SMPN 15), serta Nizam Arya As'ari (SMPN 20 Surabaya).
Sementara itu, tim putri diperkuat 18 pemain. Mereka adalah Deby Ria Handini (SMPN 46), Naswa Khoirunnisa Az-Zahra (SMPN 33), Anindita Keisha Zahra (SMPN 5), Alethia Cherryl Chavaly (SMPN 3), Aura Zenneta dan Grace Febiona (SMPN 58), Angel Aura Nafiza Azzara (SMPN 47 Surabaya), serta Aprillia Andry Susanti (SMPN 37 Surabaya).
Kemudian Thalita Zalfa Aprilla (SMPN 1), Nadine Faranissa Sugianto (SMPN 46), Khinar Fatimah Azzahra (SMPN 58), Salsabil Azharah Afroz (SMPN 19), Nasywa Nathania (SMPN 48), Kinanthi Martha Syakilla (SMP Taman Pelajar), Aprilia Putri (SMP Hidayatul Ummah), Maulidya Bonita Saputri (SMPN 3), Kamila Nuril Laili (SMP PGRI 1 Surabaya), serta Widya Asmara (SMPN 46 Surabaya).
Capaian tim putra dan putri Surabaya di GSI 2026 sekaligus memperlihatkan luasnya keterlibatan sekolah dalam pembinaan sepak bola pelajar. Setelah sukses di tingkat Jawa Timur, tantangan berikutnya adalah mempertahankan performa dalam proses seleksi dan membawa nama Jawa Timur ke level nasional.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
