Proses itu membutuhkan waktu, terutama pada tahap awal ketika anggota mulai mengenali karakter pemimpin baru. Mereka perlu memahami bagaimana instruksi disampaikan, bagaimana koordinasi dilakukan, serta target apa yang menjadi perhatian pimpinan.
"Proses itu harus cepat. Mereka harus belajar tentang pemimpin yang akan memimpin mereka. Saya yakin generasi sekarang yang menjadi bawahannya memiliki kesiapan untuk belajar lebih cepat," jelas Amanda.
Pergantian Kapolda juga dapat membawa penyesuaian dalam pola kerja internal. Bukan hanya pimpinan yang perlu memahami kondisi organisasi, anggota juga dituntut membaca pola kepemimpinan yang baru.
Amanda menyebut kemampuan belajar dan beradaptasi menjadi penting agar perubahan pimpinan tidak mengganggu pelaksanaan tugas organisasi.
Dalam proses tersebut, komunikasi menjadi salah satu faktor penting. Perbedaan gaya kepemimpinan antara pejabat lama dan pejabat baru dapat membuat anggota harus kembali menyesuaikan cara berkoordinasi.
Kondisi seperti itu, kata Amanda, merupakan dinamika yang lazim terjadi ketika sebuah organisasi mengalami pergantian pemimpin.
Pemimpin Baru Berpotensi Menata Tim Kerja
Selain berdampak terhadap bawahan, pergantian pimpinan juga dapat diikuti dengan penataan tim kerja. Amanda menjelaskan, seorang pemimpin membutuhkan orang-orang yang dapat memahami sekaligus mendukung visi dan target yang hendak dicapai.
"Seorang pemimpin itu pasti akan mencari tim yang sesuai agar semuanya berjalan. Visi dan misinya agar didukung oleh circle-nya. Jadi, dia akan memilih orang-orang yang satu circle," ujarnya.
Menurut Amanda, kebutuhan membangun tim yang memiliki kesamaan cara pandang merupakan bagian dari dinamika kepemimpinan.
Meski demikian, hal tersebut tidak otomatis berarti orang yang tidak memiliki kedekatan atau sejarah kerja dengan pimpinan baru akan kehilangan kepercayaan.
Seorang pemimpin tetap dapat memberikan kepercayaan kepada anggota di luar lingkaran dekatnya apabila orang tersebut dinilai memiliki kemampuan dan arah kerja yang sesuai dengan visi kepemimpinannya.
"Saya tidak mengatakan bahwa orang-orang baru atau orang-orang yang tidak punya sejarah dengan dia kemudian tidak dipercaya. Mungkin saja ada yang diberikan kepercayaan bila dia merasa orang tersebut masih sejalan dengan visi dan misinya," tuturnya.
Amanda menambahkan, tantangan lain dapat muncul ketika pimpinan baru bekerja dengan tim yang belum sepenuhnya memahami pola pikir atau arah kepemimpinannya.
Dalam situasi tersebut, diperlukan komunikasi dan pengarahan agar visi pimpinan dapat dipahami oleh seluruh anggota. Briefing menjadi salah satu cara untuk menyatukan pemahaman mengenai target yang hendak dicapai.
"Kalaupun didukung, dia butuh waktu untuk briefing dan meyakinkan bahwa mereka mengikuti visi dan misi saya," katanya.
Karena itu, dari perspektif psikologi organisasi, pergantian Kapolda tidak berhenti pada perubahan jabatan. Ada proses transisi yang berlangsung di dalam organisasi, mulai dari penyesuaian anggota hingga pembentukan pola kerja baru.
Kemampuan beradaptasi dari anggota menjadi penting agar perubahan kepemimpinan tidak menghambat pekerjaan. Di sisi lain, pimpinan baru juga membutuhkan komunikasi yang efektif untuk membangun pemahaman bersama dengan tim yang dipimpinnya.
Amanda menilai kebutuhan pemimpin untuk membangun tim yang sejalan dengan visi kepemimpinannya merupakan bagian dari dinamika organisasi. Terlebih, setiap pemimpin memiliki target yang harus dicapai sesuai arah kebijakan institusi.
"Pada saat Kapolri mencari orang-orang yang satu circle dengan dia, itu adalah hal yang wajar karena dia membutuhkan dukungan untuk mencapai target-target yang mungkin sudah ditetapkan bersama pemerintah," pungkasnya.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
