Papeda Jadi Pembuka, Kisah Hutan Sorong Selatan Ternyata Lebih Menarik dari yang Dibayangkan

Arif Ardliyanto
Papeda menjadi pintu masuk mengenal Sorong Selatan. Ekowisata Papua dikembangkan dengan menjaga hutan, budaya, pangan lokal, dan peran masyarakat. Foto iNewsSurabaya.id/ist

JAKARTA, iNewsSurabaya.id – Aroma pangan lokal menyeruak di tengah rimbunnya pepohonan Hutan Kota by Plataran, Jakarta. Dua mama asal Sorong Selatan, Lidia Sawor dan Orpa Sawen, terlihat sibuk mengaduk sagu hingga berubah menjadi papeda yang bening dan kenyal.

Di sekeliling mereka, para pengunjung menyaksikan proses tersebut. Sebagian mengabadikan momen menggunakan ponsel, sementara lainnya penasaran dan bertanya tentang sagu yang digunakan.

Bagi masyarakat di kawasan Kepala Burung Papua, papeda bukan sekadar hidangan khas. Makanan berbahan dasar sagu itu merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari sekaligus warisan pangan yang terus dijaga.

Dari papeda, cerita tentang Sorong Selatan pun mulai diperkenalkan kepada masyarakat Jakarta.

Momen tersebut menjadi bagian dari pembukaan kegiatan “Jelajah Kemolekan Sorong Selatan: Ekowisata, Kebudayaan, dan Gastronomi Kepala Burung Papua”. Kegiatan ini digagas melalui kolaborasi Konservasi Indonesia (KI), National Geographic Indonesia, dan Legenda Khatulistiwa.


Papeda menjadi pintu masuk mengenal Sorong Selatan. Ekowisata Papua dikembangkan dengan menjaga hutan, budaya, pangan lokal, dan peran masyarakat. Foto iNewsSurabaya.id/ist

Program tersebut mengangkat potensi tiga kampung di Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat Daya, yakni Klaogin, Konda, dan Bariat. Ketiganya tengah mengembangkan ekowisata berbasis masyarakat dengan tetap mempertahankan hubungan antara warga, budaya, dan lingkungan.

Pembukaan kegiatan turut dihadiri Kepala Bidang Promosi dan Kemitraan, Asisten Deputi Event Daerah Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Eni Komiarti. Rangkaian acara meliputi pameran foto, dialog mengenai konservasi dan pariwisata, pertunjukan tari, hingga demonstrasi memasak pangan lokal.

Sorong Selatan memiliki bentang hutan rawa gambut tropis yang menjadi habitat bagi berbagai jenis flora dan fauna. Namun, bagi masyarakat setempat, hutan memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar kawasan dengan keanekaragaman hayati.

Hutan menjadi tempat masyarakat memperoleh pangan, mengenali perubahan musim, sekaligus menjaga pengetahuan dan cerita yang diwariskan para leluhur.

Senior Vice President and Executive Chair Konservasi Indonesia, Meizani Irmadhiany, mengatakan kawasan Sorong Selatan memiliki kekayaan ekologis yang besar.

“KI bangga dan haru berdiri di tanah Sorong Selatan yang dianugerahi kekayaan alam luar biasa, menyimpan hutan rawa gambut tropis yang menjadi rumah bagi 416 spesies tumbuhan dan 372 spesies satwa,” ujar Meizani.

Menurut dia, keberadaan hutan tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

“Bagi masyarakatnya, kekayaan ekologis ini lebih dari sekadar habitat biodiversitas. Di sanalah mereka menggantungkan pangan, membaca tanda-tanda musim, serta merawat cerita leluhur,” katanya.

Editor : Arif Ardliyanto

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network