SURABAYA, iNewsSurabaya.id – SMAN 22 Surabaya menghadirkan inovasi Teh Gelis Smadda atau Gerakan Literasi Sekolah. Inovasi ini untuk memudahkan siswa mengakses bahan bacaan sekaligus memantau perkembangan aktivitas membaca secara digital.
Inovasi ini dikembangkan sebagai upaya menjawab tantangan rendahnya konsistensi membaca di kalangan pelajar generasi Z. Meski telah memiliki fasilitas perpustakaan yang memadai, sekolah menilai ketersediaan sarana fisik dan digital belum sepenuhnya menjamin terbentuknya kebiasaan membaca yang berkelanjutan.
Kepala SMAN 22 Surabaya, Agus Setiawan, mengatakan inovasi Teh Gelis Smadda dikembangkan untuk memperkuat budaya literasi siswa melalui pemanfaatan teknologi digital dan pendampingan yang berkelanjutan.
Menurutnya, program tersebut tidak hanya memudahkan siswa mengakses bahan bacaan, tetapi juga membantu sekolah memantau perkembangan membaca dan mendorong siswa lebih aktif menghasilkan karya.
“Melalui Teh Gelis Smadda, kami ingin membangun kebiasaan membaca yang tidak hanya menjadi kegiatan formal di sekolah, tetapi juga tumbuh menjadi kebutuhan dan budaya dalam kehidupan sehari-hari siswa,” ujarnya, Rabu (14/10/2026).
Agus berharap, integrasi perpustakaan digital, pendampingan literasi, dan program apresiasi karya dapat meningkatkan minat baca sekaligus mengembangkan kreativitas serta kemampuan berpikir kritis peserta didik.
Sebelumnya, perpustakaan SMAN 22 Surabaya telah menggunakan aplikasi INLISLite (Integrated Library System) untuk mengelola administrasi dan sirkulasi buku. Sistem tersebut didukung kartu anggota berbarcode untuk mempermudah proses peminjaman dan pengembalian. Sekolah juga memiliki Pojok Baca Dharma Wanita Persatuan (DWP) yang meraih Juara 2 dalam lomba pojok baca tingkat daerah.
Melalui Teh Gelis Smadda, siswa dapat mengakses perpustakaan virtual, mengisi angket literasi, mengumpulkan tugas, serta mencatat progres membaca melalui portal digital. Platform ini dirancang untuk menghubungkan berbagai kegiatan literasi dalam satu sistem sehingga aktivitas membaca dapat dipantau secara lebih terstruktur.
Untuk memastikan program berjalan berkelanjutan, SMAN 22 Surabaya membentuk Tim Pendamping Literasi GELIS SMADDA dengan melibatkan guru dan siswa, terutama di kelas XI sebagai tahap awal pelaksanaan. Siswa pendamping dipilih berdasarkan rekam jejak aktivitas membaca dan kedisiplinan dalam mencatat progres melalui aplikasi.
Tim tersebut bertugas mengawal rutinitas membaca, membantu teman sekelas mengakses layanan literasi digital, mengelola Sudut Baca kelas, serta memverifikasi laporan aktivitas membaca secara berkala. Pendekatan pendampingan sebaya atau peer mentoring diharapkan mampu menciptakan suasana membaca yang lebih dekat dengan keseharian siswa.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
