SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Peluang berkarier di industri minyak dan gas bumi (migas) ternyata terbuka bagi semua lulusan.
Berbagai keahlian dari bidang teknologi informasi, data, bisnis, keuangan, hukum, komunikasi, hingga lingkungan juga dibutuhkan untuk mendukung operasional industri energi nasional.
Peluang tersebut diperkenalkan PT Pertamina Hulu Energi (PHE) kepada mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) melalui kegiatan Upstream Youth Camp (UYC) 2026 di Surabaya.
Mengusung tema “Menggali Potensi, Menggerakkan Energi”, kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengenal lebih dekat industri hulu migas dan memahami peluang kontribusi berbagai latar belakang pendidikan.
Sebagai Subholding Upstream Pertamina, PHE menjalankan kegiatan eksplorasi, pengembangan, hingga produksi minyak dan gas bumi. Kompleksitas operasional tersebut membutuhkan sumber daya manusia dengan kompetensi beragam, tidak terbatas pada keahlian teknis.
Kebutuhan itu semakin berkembang seiring penerapan teknologi dan inovasi di sektor energi. PHE, misalnya, mengembangkan teknologi Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) untuk mengoptimalkan sumur-sumur mature, menjajaki potensi natural hydrogen, serta mendorong inisiatif dekarbonisasi melalui teknologi penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon (CCS/CCUS).
Head of Commrel & CID Zona 11 Subholding Upstream Pertamina, Wazirul Luthfi, mengatakan keterlibatan talenta muda dari berbagai latar belakang keilmuan sangat penting untuk menjaga keberlanjutan industri energi nasional.
Menurutnya, tantangan industri hulu migas membutuhkan perspektif baru, inovasi, serta kemampuan berkolaborasi lintas disiplin. Karena itu, mahasiswa perlu memahami bahwa kompetensi yang mereka bangun selama kuliah memiliki peluang untuk diterapkan di sektor energi.
“Masa depan energi Indonesia bukan hanya ditentukan oleh sumber daya yang ada di dalam bumi, tetapi juga oleh kualitas manusia yang mengelolanya. Tantangan industri hulu migas membutuhkan sudut pandang baru, inovasi, dan kolaborasi dari berbagai disiplin ilmu,” ujar Wazirul, Minggu (1/11/2026).
Besarnya kebutuhan tenaga profesional tersebut sejalan dengan skala operasional PHE. Perusahaan ini mengelola sekitar 27 persen wilayah kerja operator migas di Indonesia, dengan kontribusi sekitar 65 persen terhadap lifting minyak domestik dan 35 persen terhadap lifting gas domestik.
Pada semester I 2026, volume produksi migas PHE tercatat sekitar 935 ribu barel setara minyak per hari (MBOEPD). Skala kegiatan tersebut membutuhkan dukungan berbagai bidang keahlian untuk memastikan operasional berjalan efektif sekaligus mendorong inovasi.
Selain pengenalan industri, UYC 2026 menghadirkan praktisi karier sekaligus konten kreator, Vina Muliana, melalui sesi bertajuk “From Potential to Impact”. Dalam sesi tersebut, mahasiswa diajak mengenali potensi diri, membangun kompetensi, menguji gagasan melalui proyek nyata, serta mengembangkan nilai tambah sebelum memasuki dunia profesional.
Rangkaian kegiatan juga diisi talkshow interaktif yang membahas hubungan antara pendidikan tinggi dan kebutuhan industri strategis. Mahasiswa didorong untuk mengandalkan pengetahuan akademis dan mengembangkan pengalaman organisasi, riset, kemampuan komunikasi, dan kolaborasi.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
