get app
inews
Aa Text
Read Next : Akui Jadi Korban KDRT, Dokter Meiti Ungkap Kekerasan yang Dilakukan Suami Anggota DPRD Jatim

Dari Dunia Politik hingga Layar Televisi, Kisah Inspiratif Dr Sumiati yang Setia pada Dunia Akademik

Selasa, 07 Oktober 2025 | 09:10 WIB
header img
Sosok Dr. Sumiati, M.M., Wakil Rektor III Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, pernah menapaki jalan politik bersama sejumlah tokoh terkenal. Foto iNewsSurabaya/ist

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Tak banyak yang tahu, sosok Dr. Sumiati, M.M., Wakil Rektor III Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, pernah menapaki jalan politik bersama sejumlah tokoh terkenal, termasuk Krisdayanti. Ia bahkan sempat duduk sebagai anggota DPRD Jawa Timur periode 2009–2014. Namun di balik gemerlap panggung politik, Sumiati tetap setia pada panggilan jiwanya: dunia pendidikan.

Perjalanan hidup perempuan kelahiran Gresik, 4 Januari 1969 ini penuh warna. Lahir sebagai anak sulung dari dua bersaudara, Sumiati tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai pedagang bahan bangunan dan pamong desa, sementara sang ibu adalah ibu rumah tangga dengan tekad kuat, anak-anaknya harus mengenyam pendidikan tinggi dan hidup mandiri.

“Ibu sering bilang, camat itu orang yang dihormati karena sekolahnya tinggi. Dari situ saya sadar, pendidikan adalah jalan untuk mengubah nasib,” kenang Sumiati.

Sejak kecil, semangat belajar Sumiati memang tak pernah padam. Ia menempuh pendidikan di SD Negeri 1 Tanjung Gresik, lalu melanjutkan ke SMP Negeri 1 Cerme. Ketika banyak teman seusianya memilih SMA, orang tuanya justru mengarahkannya ke Sekolah Pendidikan Guru (SPG) agar kelak bisa menjadi pendidik.

Namun perjalanan hidup tak selalu berjalan lurus. Usai lulus SPG, Sumiati dihadapkan pada keputusan besar, orang tuanya ingin segera menikahkannya. Ia menolak. Dengan keyakinan kuat, ia memilih menentukan jalan hidupnya sendiri.

Demi bisa kuliah, Sumiati bekerja sebagai guru les. Siang ia mengajar, malamnya belajar di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP). “Rasanya berat, tapi saya percaya ilmu akan membuka jalan,” ujarnya tersenyum.

Setelah menyelesaikan studi S1, tak disangka langkahnya justru berbelok ke dunia media. Tahun 1992, ia diterima bekerja di SCTV Surabaya, saat televisi swasta baru dua di Indonesia SCTV dan RCTI. Awalnya ia sempat kebingungan karena belum tahu akan ditempatkan di mana, namun kemudian lolos placement test dan masuk ke Departemen Programming yang menangani promosi program televisi.

Di sanalah Sumiati belajar banyak tentang dunia komunikasi. Ia menulis sinopsis film untuk koran dan menerima pelatihan langsung dari budayawan Arswendo Atmowiloto. “Tulisan pertama saya sederhana sekali. Tapi setelah dilatih Arswendo, saya belajar menulis dengan rasa. Dari situ saya tahu, menulis itu tentang menyentuh hati pembaca,” tuturnya.

Karya-karyanya kemudian dikenal provokatif dan mampu menarik minat penonton. Namun, masa keemasannya di dunia televisi harus terhenti saat Menteri Penerangan Harmoko di era Orde Baru mewajibkan semua siaran televisi swasta terpusat di Jakarta. SCTV Surabaya pun berhenti beroperasi penuh.

Di saat bersamaan, ibunya jatuh sakit, sementara sang ayah telah tiada. Sumiati akhirnya memutuskan kembali ke Gresik. Ia meninggalkan dunia media dan kembali ke akar hidupnya: pendidikan.

Tahun 1996 menjadi titik balik. Setelah menyelesaikan studi Magister Manajemen di Untag Surabaya, Sumiati resmi bergabung sebagai dosen. Dari ruang kelas, ia menemukan kembali makna perjuangan hidup: mencerdaskan generasi muda.

Kini, di posisinya sebagai Wakil Rektor III Untag Surabaya, Sumiati terus menularkan semangat yang sama kepada mahasiswanya. Ia percaya, pendidikan bukan sekadar gelar, tapi perjalanan untuk menemukan diri dan memberi manfaat bagi banyak orang.

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut