Layanan Darurat di Rumah Sakit Belum Optimal, 443 Tenaga Medis Ikuti Pelatihan ALERT di Surabaya
443 Peserta Ikuti Pelatihan ALERT
Pelatihan ALERT tahun ini diikuti 443 peserta, terdiri dari mahasiswa kedokteran, dokter umum, residen, perawat, hingga dokter spesialis dari berbagai bidang seperti obstetri, kardiologi, paru, dan mata.
Peserta mendapatkan pembekalan teknis serta praktik langsung mengenai penanganan keadaan kritis. Selain meningkatkan keterampilan teknis, pelatihan ini juga memperkuat kolaborasi lintas profesi agar respons dalam kasus darurat semakin cepat dan terkoordinasi.
“Kami ingin generasi muda tenaga kesehatan terus mengasah kompetensinya sebagai calon tenaga ahli masa depan,” kata dr. Martha.

Workshop ini turut menekankan pentingnya meningkatkan waktu respons, mulai dari tahap awal penanganan hingga proses penyelamatan akhir, termasuk dalam situasi bencana. Peningkatan kualitas SDM medis menjadi kunci mengingat tidak meratanya fasilitas kesehatan di berbagai daerah.
Robot Medis Bukan Pengganti Tenaga Kesehatan
Dari sisi teknologi medis, Dokter Spesialis Ortopedi Tulang Belakang RS Kemenkes Surabaya, dr. Luthfi Gatam, mengingatkan bahwa teknologi robotik tidak akan menggantikan peran tenaga medis.
“Robot hanyalah alat bantu. Pengoperasiannya tetap membutuhkan tenaga kesehatan yang terampil,” jelasnya.
Plh Direktur SDM, Pendidikan, dan Penelitian Kemenkes, Warno Hidayat, menambahkan bahwa pelatihan ALERT adalah bagian dari upaya pemerintah meningkatkan standar pelayanan kesehatan nasional.
“Kami mendorong RS Kemenkes Surabaya untuk segera meraih akreditasi nasional hingga paripurna. Program pelatihan seperti ini adalah langkah strategis menuju standar internasional,” ujarnya.
Editor : Arif Ardliyanto