get app
inews
Aa Text
Read Next : Aturan Baru di Surabaya, Siswa Tak Boleh Gunakan HP Saat Jam Pelajaran, Begini Alasannya

Banyak Mahasiswa PTS Nyaris Putus Kuliah, Pemkot Surabaya Buat Kebijakan Beasiswa Tanpa Batas Kuota

Minggu, 25 Januari 2026 | 08:10 WIB
header img
Rektor PTS di Surabaya menghadap Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi untuk menceritakan banyaknya mahasiswa swasta terancam putus kuliah karena tak mempunyai biaya. Wali Kota mengambil kebijakan untuk membuka beasiswa pendidikan tanpa batas kuota. (Foto: Arif).

Mendengar berbagai cerita tersebut, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengaku prihatin. Ia menyebut banyak mahasiswa sebenarnya memiliki semangat dan kemampuan, namun terhambat oleh biaya pendidikan.

“Saya mendengarkan langsung keluh kesah dari PTS. Ternyata banyak mahasiswa Surabaya yang tidak bisa melanjutkan kuliah sampai tuntas karena biaya. Ini membuat saya sangat prihatin,” ujar Eri.

Dari pertemuan itu, Eri menegaskan kebijakan baru: bantuan beasiswa untuk mahasiswa PTS dibuka tanpa kuota. Langkah ini menjadi penguatan komitmen Pemkot Surabaya dalam memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan.


Rektor PTS di Surabaya menghadap Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi untuk menceritakan banyaknya mahasiswa swasta terancam putus kuliah karena tak mempunyai biaya. Wali Kota mengambil kebijakan untuk membuka beasiswa pendidikan tanpa batas kuota. Foto arif

Eri kembali menegaskan visinya yang selama ini konsisten digaungkan, yakni “Satu Keluarga Miskin, Satu Sarjana.” Menurutnya, pendidikan tinggi adalah kunci agar kemiskinan tidak diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

“Aspirasi saya jelas. Bagaimana satu keluarga miskin di Surabaya itu punya satu sarjana. Tapi saat saya turun ke lapangan, banyak anak mengeluh tidak bisa kuliah karena bantuan justru dirasakan oleh orang-orang tertentu,” tuturnya.

Evaluasi terhadap Peraturan Wali Kota (Perwali) lama menunjukkan bahwa bantuan pendidikan sebelumnya lebih menekankan aspek prestasi akademik. Padahal, di lapangan, banyak penerima beasiswa yang ternyata tidak masuk kategori keluarga miskin.

“Sekitar 60 sampai 70 persen penerima berasal dari jalur mandiri. Setelah dicek, banyak yang tidak masuk desil 1 sampai 5. Karena bunyinya memang prestasi, bukan khusus untuk keluarga tidak mampu,” jelas Eri.

Kini, Pemkot Surabaya memfokuskan bantuan pendidikan bagi mahasiswa dari keluarga miskin desil 1 hingga 5, termasuk mahasiswa aktif yang kesulitan membayar UKT. Data mahasiswa dari PTS dicocokkan langsung dengan basis data pemerintah.

“Hasilnya, ratusan mahasiswa teridentifikasi membutuhkan bantuan. Bahkan yang sudah kuliah dan menunggak UKT, akan kami tutup supaya mereka bisa lanjut,” tegas Eri.

Menurutnya, bantuan ini tidak hanya menyasar mahasiswa baru, tetapi juga mahasiswa aktif yang selama ini berada di ambang putus kuliah.

“Cukup satu anak dari satu keluarga miskin jadi sarjana, dia bisa mengubah nasib keluarganya. Itu yang ingin kami dorong,” imbuhnya.

Dalam pertemuan tersebut, sejumlah pimpinan perguruan tinggi turut hadir, di antaranya Rektor Universitas Wijaya Putra Dr. Budi Endarto, SH., M.Hum, Rektor Universitas Surabaya (Ubaya) Dr. Ir. Benny Lianto, M.M.B.A.T., Rektor Universitas Wijaya Kusuma Surabaya Prof. Dr. Ir. Rr. Nugrahini Susantinah Wisnujati, M.Si., serta Rektor Universitas Hang Tuah Surabaya Laksamana Muda TNI (Purn) Dr. Ir. Avando Bastari, M.Phil., M.Tr.Opsla., IPM., ASEAN Eng, juga perwakilan Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, Diganto Gantok dan STESIA Surabaya. 

Dengan kebijakan beasiswa tanpa kuota ini, Pemkot Surabaya berharap tak ada lagi mahasiswa kurang mampu yang harus menghentikan mimpinya di tengah jalan, sekaligus membuka jalan keluar dari kemiskinan melalui pendidikan tinggi.

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut