get app
inews
Aa Text
Read Next : Tak Tergantung Cuaca, Alat Pengering Gabah Otomatis Mahasiswa Untag Surabaya Bikin Petani Bahagia

Bangun Fondasi Mutu, Untag Surabaya Ajak Kampus Se-Surabaya Tingkatkan Kualitas Tenaga Pendidik

Senin, 26 Januari 2026 | 09:53 WIB
header img
Puluhan tenaga pendidik lintas kampus mengikuti workshop SPMI di Untag Surabaya sebagai upaya memperkuat fondasi mutu dan kesiapan akreditasi Unggul. Foto Surabaya.iNews.id/arif

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Di tengah persaingan global pendidikan tinggi yang kian ketat, Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya memilih memperkuat fondasi dari dalam. Bukan sekadar mengejar status akreditasi, kampus ini menata ulang sistem penjaminan mutu internal agar kualitas sumber daya manusia—khususnya tenaga pendidik—benar-benar siap bersaing di level nasional hingga internasional.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui kolaborasi strategis dengan Asosiasi Pendidikan Tinggi Informatika dan Komputer (APTIKOM) Provinsi Jawa Timur. Bersama sejumlah perguruan tinggi di Surabaya, Untag Surabaya menggelar Workshop Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) yang menjadi ruang belajar bersama untuk memperkuat tata kelola mutu kampus.

Workshop bertajuk “Best Practice Keselarasan Implementasi SPMI dengan Instrumen Akreditasi LAM INFOKOM 2.1” itu menyoroti satu pesan utama: mutu tidak bisa dibangun secara instan. Ia harus disusun melalui standar yang jelas, indikator terukur, dan komitmen berkelanjutan dari seluruh elemen kampus.

Wakil Rektor I Untag Surabaya, Rr. Amanda Pasca Rini, menegaskan bahwa penguatan SPMI merupakan langkah paling mendasar sebelum perguruan tinggi melangkah ke tahapan administratif akreditasi. Menurutnya, banyak kampus terjebak pada penyusunan dokumen tanpa terlebih dahulu memastikan sistem mutunya berjalan kokoh.

“SPMI ini yang harus kita benar-benar perkuat dulu sebelum melangkah lebih jauh menyusun LKPS dan LED. Harapannya, setelah SPMI tertata dengan baik, perguruan tinggi bisa terakreditasi Unggul, minimal tiga tahun, dan syukur-syukur lima tahun,” ujarnya.

Amanda menjelaskan, workshop ini juga menjadi respons atas perubahan instrumen akreditasi LAM INFOKOM dari versi 2.0 ke 2.1 yang menyesuaikan regulasi terbaru. Perubahan tersebut, kata dia, tidak bisa disikapi sekadar sebagai kewajiban administratif, melainkan harus dipahami secara menyeluruh agar implementasi SPMI tetap relevan dengan standar nasional pendidikan tinggi.

Sementara itu, Ketua APTIKOM Provinsi Jawa Timur, Yoyon Arie Budi, menekankan bahwa keselarasan antara SPMI dan instrumen akreditasi adalah kunci bagi perguruan tinggi yang ingin unggul dan berkelanjutan. Ia mengingatkan agar kampus tidak memandang akreditasi sebagai agenda musiman.

“Standar SPMI harus disusun selaras dengan kriteria akreditasi, audit mutu internal dilakukan berbasis data, dan setiap temuan ditindaklanjuti secara nyata dalam perencanaan serta penganggaran,” tegasnya.

Yoyon menambahkan, jika siklus PPEPP—Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, dan Peningkatan—dijalankan secara konsisten, maka akreditasi akan menjadi hasil alami dari sistem mutu yang hidup, bukan sekadar target jangka pendek. “Akreditasi bukan kegiatan insidental, tetapi cerminan dari budaya mutu yang berjalan sehari-hari,” katanya.

Nuansa praktik lapangan juga menguat dalam workshop ini. Dekan Fakultas Ilmu Komputer UPN Veteran Jawa Timur, Novirina Hendrasarie, memaparkan pengalaman kampusnya dalam mengimplementasikan SPMI yang telah diselaraskan dengan Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SN-Dikti) 2023. Ia menekankan pentingnya indikator yang konkret dan terukur.

“SPMI itu harus punya standar, lalu standar tersebut memiliki indikator, dan indikator itu wajib terukur. Harus ada angka dan target yang jelas,” ungkap Novirina.

Menurutnya, indikator yang terukur membantu kampus menyusun rencana peningkatan mutu secara realistis. Setiap unit, lanjut Novirina, perlu menetapkan baseline sesuai dengan kekuatan dan kondisi masing-masing agar target mutu dapat dicapai secara bertahap.

“Dengan baseline yang jelas, target mutu bisa dicapai secara berjenjang dan terukur,” imbuhnya.

Workshop ini juga menghadirkan asesor LAM INFOKOM, Dr. I Gede Susrama, MD, yang mengulas secara mendalam keterkaitan langsung antara implementasi SPMI dan instrumen akreditasi LAM INFOKOM 2.1. Pemaparan tersebut memberikan gambaran teknis sekaligus praktis tentang bagaimana sistem mutu yang dijalankan sehari-hari akan tercermin dalam penilaian akreditasi.

Ke depan, APTIKOM Jawa Timur berencana melanjutkan rangkaian penguatan mutu ini melalui workshop lanjutan secara luring, khusus membahas penyusunan instrumen LAM INFOKOM 2.1. Langkah ini diharapkan mampu mempercepat lahirnya kampus-kampus unggul yang tidak hanya kuat di atas kertas, tetapi juga matang dalam praktik sistem mutu yang berkelanjutan.

Bagi Untag Surabaya, kolaborasi ini bukan sekadar agenda akademik. Ia menjadi bagian dari perjalanan panjang membangun budaya mutu—sebuah investasi jangka panjang agar lulusan dan tenaga pendidik siap menjawab tantangan zaman.

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut