get app
inews
Aa Text
Read Next : Pembiayaan Emas Menguat, OSL Pegadaian Surabaya Tembus Rp14 Triliun

Harga Emas Terus Naik, Prediksi Akhir 2026 Hampir Tembus Rp3 Juta, Pengamat Ekonomi Ungkap Alasannya

Senin, 26 Januari 2026 | 09:22 WIB
header img
Tren kenaikan harga emas berlanjut di 2026. Pengamat menilai emas makin diminati karena stabilitas nilai dan perannya sebagai pelindung aset. Foto Surabaya.iNews.id/tangkap layar

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Awal 2026 menjadi momen bersejarah bagi pasar emas dunia. Logam mulia mencuri perhatian setelah harga globalnya menembus rekor tertinggi sepanjang masa. Sejak akhir 2025, grafik emas terus menanjak tanpa banyak jeda, mencerminkan kegelisahan pelaku pasar menghadapi ketidakpastian ekonomi global yang belum mereda.

Data pasar menunjukkan harga spot emas sempat menyentuh kisaran USD 158 per gram atau sekitar Rp 2,64 juta per gram. Angka tersebut melonjak lebih dari 60 persen dibandingkan periode sebelumnya dan bertahan kuat hingga kuartal awal 2026. Bagi sebagian investor, emas kini bukan sekadar komoditas, melainkan “tempat berlindung” di tengah situasi dunia yang sulit diprediksi.

Pengamat Ekonomi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Zulfikri Charis, menilai lonjakan harga emas mencerminkan perubahan pola pikir investor global. Ketidakpastian ekonomi, inflasi yang masih menekan, hingga tensi geopolitik membuat banyak pihak memilih bermain aman.

“Emas kembali menegaskan perannya sebagai aset safe haven. Saat risiko meningkat dan pasar keuangan bergejolak, investor cenderung memindahkan dananya ke instrumen yang dianggap paling stabil dan bernilai jangka panjang,” ujar Zulfikri.

Ia menjelaskan, konflik geopolitik yang belum menemukan titik terang, perlambatan ekonomi di sejumlah negara besar, serta tekanan inflasi global menjadi kombinasi kuat yang menopang reli harga emas. Dalam kondisi seperti ini, emas kerap dipersepsikan sebagai penjaga nilai aset yang relatif tahan terhadap guncangan.

Optimisme terhadap emas bahkan datang dari lembaga keuangan internasional. Goldman Sachs, salah satu bank investasi terbesar dunia, merevisi proyeksi harga emas ke level yang lebih tinggi. Mereka mematok target harga emas mencapai USD 174 per gram atau sekitar Rp 2,91 juta per gram pada akhir 2026, seiring ekspektasi permintaan yang terus menguat.

Menurut Zulfikri, revisi proyeksi tersebut memiliki dasar yang kuat secara fundamental. Salah satu faktor kunci adalah arah kebijakan moneter global, terutama dari bank sentral Amerika Serikat.

“Ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar, khususnya dari The Fed, membuat emas semakin menarik. Ketika suku bunga berpotensi diturunkan, biaya peluang memegang emas menjadi lebih rendah dibanding instrumen berbunga,” jelasnya.

Selain itu, langkah bank sentral di berbagai negara yang terus menambah cadangan emas juga menjadi katalis penting. Fenomena ini dinilai bukan sekadar respons jangka pendek, melainkan strategi jangka panjang untuk memperkuat stabilitas cadangan devisa.

“Diversifikasi cadangan devisa agar tidak terlalu bergantung pada dolar AS mendorong bank sentral membeli emas dalam jumlah besar. Ini menjadi penopang kuat harga emas ke depan,” tambah Zulfikri.

Dampak kenaikan harga emas global turut terasa hingga ke dalam negeri. Di tengah dinamika ekonomi yang cepat berubah, minat masyarakat Indonesia terhadap investasi emas justru semakin menguat. PT Pegadaian, sebagai salah satu penyedia layanan investasi emas, mencatat antusiasme yang masih tinggi dari masyarakat.

Kepala Bagian Hubungan Masyarakat PT Pegadaian Kanwil XII Surabaya, Mualimin, mengungkapkan bahwa emas tetap menjadi instrumen favorit, baik bagi investor pemula maupun masyarakat yang ingin menjaga nilai asetnya.

“Di tengah fluktuasi pasar dan ketidakpastian ekonomi, emas masih dipercaya sebagai investasi yang relatif aman. Minat terhadap produk emas Pegadaian, seperti cicilan emas dan tabungan emas, masih sangat kuat,” kata Mualimin.

Menariknya, kenaikan harga emas justru dinilai meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya investasi jangka panjang. Banyak nasabah mulai memahami bahwa emas bukan instrumen spekulasi sesaat, melainkan sarana menjaga nilai kekayaan.

“Masyarakat kini semakin sadar bahwa emas cocok untuk tujuan jangka panjang. Kami terus mendorong literasi keuangan agar masyarakat berinvestasi secara bijak dan sesuai kebutuhan,” ujarnya.

Meski prospeknya dinilai cerah, para pengamat tetap mengingatkan potensi volatilitas harga emas dalam jangka pendek. Rilis data ekonomi global atau perubahan sentimen pasar masih bisa memicu koreksi harga.

“Koreksi tetap mungkin terjadi. Namun secara fundamental, prospek emas sepanjang 2026 masih cukup solid,” pungkas Zulfikri.

Dengan peran sebagai aset safe haven, dukungan kebijakan moneter yang lebih akomodatif, serta pembelian agresif oleh bank sentral dunia, emas diperkirakan tetap menjadi primadona investasi di tengah ketidakpastian ekonomi global yang belum berakhir.

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut