Berawal dari Pilah Sampah Rumah Tangga, Kampung di Sidoarjo Kini Jadi Contoh Internasional
SIDOARJO, iNewsSurabaya.id – Tak pernah terbayang oleh warga RT 23 RW 07 Kelurahan Sekardangan, Sidoarjo, bahwa kebiasaan sederhana memilah sampah dari rumah justru mengantarkan kampung mereka menjadi rujukan internasional. Kampung Edukasi Sampah (KES) kini tak hanya mengubah wajah lingkungan, tetapi juga menarik perhatian dunia.
Pada Rabu (28/1/2026), kawasan berbasis pengelolaan sampah komunitas tersebut menerima kunjungan resmi delegasi Tanjong Malim District Council (MDTM), Perak, Malaysia. Rombongan datang khusus untuk mempelajari pengelolaan sampah berbasis masyarakat sebagai bagian dari penguatan konsep Smart Environment dalam pembangunan Smart City.
Sebanyak 45 delegasi hadir, mulai dari pejabat pemerintah daerah, anggota dewan, wali kota, hingga kepala dinas lintas sektor. Mereka tidak sekadar mendengarkan paparan, tetapi turun langsung menyusuri gang kampung, berdialog dengan warga, serta melihat proses pemilahan dan pengolahan sampah yang dijalankan secara mandiri.
Kampung Edukasi Sampah berawal dari keresahan warga terhadap tumpukan sampah dan bau selokan yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Dari persoalan itu, lahirlah kesadaran kolektif untuk mengubah kebiasaan. Sampah rumah tangga dipilah, diolah, dan dimanfaatkan kembali, hingga membentuk sistem terpadu di tingkat RT.

Di lokasi ini, delegasi MDTM meninjau berbagai fasilitas sederhana namun efektif, seperti komposter aerob, metode Takakura, sumur resapan, bank sampah, instalasi pengolahan air limbah (IPAL), hingga pemanfaatan panel surya. KES juga berkembang menjadi ruang edukasi terbuka yang setiap tahunnya dikunjungi lebih dari 4.000 pelajar, mahasiswa, dan perwakilan instansi dari berbagai daerah.
Pegiat lingkungan Kampung Edukasi Sampah, Edi Priyanto, menyebut gerakan tersebut lahir murni dari kesadaran warga, bukan dari proyek besar atau teknologi mahal.
“Awalnya hanya karena kami tidak tahan melihat sampah menumpuk dan selokan bau. Kami tidak mulai dari teknologi canggih, tapi dari kebiasaan kecil: memilah, mengolah, dan tidak membuang sembarangan,” ujar Edi.
Ia mengaku tidak pernah membayangkan gerakan berbasis RT mampu menjadi ruang belajar lintas negara. Menurutnya, kunjungan delegasi Malaysia menjadi bukti bahwa perubahan lingkungan dapat dimulai dari level paling dasar.
“Perubahan tidak harus menunggu kebijakan besar. Kalau dilakukan bersama dan konsisten, kebiasaan kecil bisa memberi dampak luas,” tambahnya.
Kunjungan berlangsung hangat dan interaktif. Delegasi terlihat antusias berdiskusi dengan warga, mempelajari alur pengelolaan bank sampah, serta melihat langsung bagaimana sampah organik diolah menjadi kompos yang bernilai guna.
Ketua Komite Perumahan dan Pemerintahan Daerah Negeri Perak, YB Sandrea Ng Shy Ching, menilai Kampung Edukasi Sampah sebagai contoh nyata perubahan lingkungan yang dimulai dari rumah tangga.
“Yang paling kami kagumi adalah semangat komunitasnya. Bukan soal teknologi mahal, tapi kesadaran kolektif warganya,” ungkapnya.
Ia menambahkan, praktik pengelolaan sampah di Sidoarjo sejalan dengan agenda Smart City 2040 Negeri Perak dan berpotensi direplikasi sebagai model pengelolaan lingkungan yang sederhana namun berdampak jangka panjang.
Hal senada disampaikan Wali Kota Tanjong Malim, Dr. Shazree Idzham. Ia menilai keberhasilan Kampung Edukasi Sampah terletak pada kolaborasi yang kuat antara warga dan aparatur setempat, sehingga program berjalan konsisten dan menjadi budaya bersama.
“Kami melihat ini bukan program sementara, tetapi kebiasaan yang hidup di masyarakat. Itu yang membuatnya bertahan,” ujarnya.
Sementara itu, Setiausaha MDTM, Roslan bin Kamaruzaman, mengaku terkesan dengan komunitas berskala kecil yang mampu menjaga keberlanjutan program secara konsisten.
“Walaupun komunitasnya kecil, mereka mampu mempertahankan program ini dalam jangka panjang. Itu sangat menginspirasi,” katanya.
Bagi delegasi Malaysia, Kampung Edukasi Sampah menjadi contoh konkret penerapan konsep Smart City yang bertumpu pada edukasi, partisipasi warga, dan kolaborasi sosial. Dari sebuah kampung di Sidoarjo, mereka melihat bahwa masa depan kota tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi oleh kesadaran dan keterlibatan aktif warganya.
Editor : Arif Ardliyanto