Riset 20 Tahun Kepemimpinan 3 Presiden, Mahasiswa Untag Temukan Hubungan Korupsi dan Kemiskinan
Menurut Mahardika, tingginya kasus korupsi mencerminkan lemahnya pengawasan pengelolaan keuangan negara.
“Jika korupsi terus terjadi, maka dana pembangunan tidak sepenuhnya sampai kepada masyarakat. Dampaknya, program pengentasan kemiskinan tidak berjalan optimal,” jelasnya.
Mahardika juga menyoroti dinamika utang luar negeri Indonesia dalam dua dekade terakhir. Secara teori, utang dapat menjadi instrumen pembangunan apabila digunakan secara produktif dan akuntabel.
Namun, temuan risetnya menunjukkan bahwa penurunan angka kemiskinan belum sepenuhnya sebanding dengan peningkatan utang luar negeri dalam periode yang sama.
“Utang luar negeri seharusnya mampu mendorong pembangunan dan membantu masyarakat keluar dari garis kemiskinan. Penurunan kemiskinan memang ada, tetapi belum signifikan jika dibandingkan dengan kenaikan utangnya,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa utang bukan semata persoalan besar atau kecilnya nominal, melainkan soal efektivitas dan transparansi penggunaannya.
Salah satu temuan yang mengusik Mahardika adalah kesenjangan nyata antara wilayah perkotaan dan daerah terpencil.
Di kota besar, kemiskinan mungkin tidak tampak mencolok. Namun di wilayah tertinggal, akses dasar seperti pendidikan, layanan kesehatan, hingga infrastruktur masih menjadi persoalan serius.
“Di kota besar, kemiskinan mungkin tidak terlalu terlihat. Tapi di daerah terpencil Indonesia, kondisinya sangat terasa,” katanya.
Hal ini menunjukkan bahwa persoalan kemiskinan bukan hanya tentang angka nasional, tetapi juga tentang distribusi kesejahteraan yang belum merata.
Melalui riset ini, Mahardika berharap temuannya dapat menjadi bahan pertimbangan dalam perumusan kebijakan publik, terutama dalam upaya: Pemberantasan korupsi, Penguatan transparansi anggaran dan Optimalisasi pengelolaan utang luar negeri
Menurutnya, pengendalian korupsi bukan sekadar isu moral, melainkan kunci efektivitas pembangunan nasional.
Penelitian ini dibimbing oleh Dr. Arga Christian Sitohang, S.E., M.M. dan sempat menghadapi tantangan keterbatasan data domestik. Mahardika harus cermat dalam memverifikasi dan mengolah sumber informasi internasional.
Mahardika, mahasiswa angkatan 2022, berhasil menyelesaikan studinya dalam waktu 3,5 tahun dan dijadwalkan mengikuti wisuda pada 15 Februari 2026.
Di balik angka-angka statistik dan grafik ekonomi, ada kegelisahan seorang mahasiswa muda yang ingin memastikan bahwa pembangunan benar-benar menyentuh mereka yang paling membutuhkan.
Editor : Arif Ardliyanto