get app
inews
Aa Text
Read Next : Produk Air Minum Kemasan Ringan Dorong Gaya Hidup Ramah Lingkungan

Pasangan Usia 20-an Mulai Dominasi Program Bayi Tabung di Surabaya

Minggu, 15 Februari 2026 | 20:38 WIB
header img
Acara Deep Talk Pejuang Dua Garis yang digelar di Auditorium Waron Hospital.

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Pergeseran usia pasien di klinik fertilitas menjadi sorotan dalam acara Deep Talk Pejuang Dua Garis yang digelar di Auditorium Waron Hospital. 

Jika sebelumnya program bayi tabung identik dengan pasangan usia di atas 30 tahun, kini antrean konsultasi justru mulai didominasi pasangan usia 20-an dari generasi Z.

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi subspesialis fertilitas di ASHA-IVF Surabaya, dr. Ali Mahmud, Sp.OG., Subsp. FER, menekankan pentingnya deteksi dini dalam menangani infertilitas. Ia menyebut anggapan bahwa program bayi tabung (in vitro fertilization/IVF) merupakan “jalan terakhir” sudah tidak lagi relevan.

“Edukasi terpenting adalah memahami kondisi tubuh sedini mungkin. Ada pasangan yang baru menikah tiga bulan, tetapi diketahui saluran tuba istrinya mengalami sumbatan. Dalam kondisi medis seperti itu, IVF justru menjadi langkah pertama yang paling rasional untuk menjaga peluang kehamilan,” ujar dr. Ali, Minggu (15/2/2026).

Ia juga menyoroti faktor infertilitas pria yang kerap terabaikan. Menurutnya, penurunan kualitas sperma banyak dipengaruhi gaya hidup, seperti pola makan tidak sehat, kurang olahraga, merokok, hingga stres.

“Jika hasil analisis sperma kurang baik, kami beri waktu maksimal tiga bulan untuk perbaikan gaya hidup dan terapi. Jika tidak ada perubahan signifikan, pasangan perlu mempertimbangkan inseminasi atau IVF demi mengejar waktu biologis,” tegasnya.

Dari sisi psikologis, Sinta Yudisia, M.Psi., Psikolog, menilai tekanan sosial menjadi salah satu faktor penghambat yang jarang disadari pasangan. Pertanyaan berulang seperti “kapan hamil?” disebut dapat memicu stres berlebih.

“Secara psikologis, stres meningkatkan hormon kortisol yang bisa mengganggu keseimbangan sistem reproduksi. Pasangan perlu membangun ketahanan mental dan saling memvalidasi perasaan satu sama lain,” jelas Sinta.

Ia juga mengingatkan pentingnya manajemen emosi ketika menghadapi kegagalan program kehamilan. Strategi step back atau jeda sejenak dinilai penting untuk pemulihan mental sebelum kembali menjalani program lanjutan.

“Jika hasil belum sesuai harapan, jangan langsung memaksakan diri mencoba lagi dalam kondisi emosi yang belum stabil. Hindari pula diagnosis mandiri dari media sosial atau kecerdasan buatan tanpa konsultasi medis. Kunci utamanya tetap komunikasi terbuka dengan pasangan dan tenaga profesional,” pungkasnya.

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut