Viral! Konten Kreator Ini Sebut Buku Jadi Momok Serius di Sekolah, Ini Penyebabnya
Percakapan tersebut langsung memantik perdebatan di kolom komentar. Salah satu warganet, @husnulhafiz2200, menyoroti pengelolaan perpustakaan yang dianggap kurang kreatif.
Ia berpendapat bahwa suasana perpustakaan yang kaku membuat anak muda enggan datang. Bahkan ia berkelakar, jika petugas perpustakaan diganti dengan penjaga warnet dan jam baca dibuat fleksibel seperti jam operasional warnet, mungkin minat baca bisa meningkat.
Komentar ini menggambarkan keresahan yang sama: akses literasi memang ada, tetapi belum dikemas secara menarik dan relevan dengan gaya hidup generasi muda.
Di sisi lain, warganet lain, @acaizinhoo, mengingatkan pentingnya buku dalam membangun daya pikir kritis.
Menurutnya, orang yang gemar membaca biasanya memiliki rasa ingin tahu tinggi. Meski kini tersedia podcast dan video edukatif, buku tetap menjadi medium yang mampu menghadirkan pemahaman lebih mendalam dan terstruktur.
Pandangan ini memperlihatkan bahwa di tengah era digital, buku belum sepenuhnya kehilangan relevansi. Justru, tantangannya adalah bagaimana menjadikan membaca sebagai kebutuhan, bukan kewajiban.
Diskusi yang muncul dari podcast tersebut menunjukkan bahwa persoalan literasi di Indonesia bukan sekadar soal minat baca yang rendah. Ada faktor lingkungan, pola asuh, hingga sistem pendidikan yang saling berkaitan.
Budaya baca tidak tumbuh dalam ruang kosong. Ia membutuhkan contoh di rumah, dukungan di sekolah, dan ruang publik yang ramah literasi.
Percakapan antara Ferry Irwandi dan Raditya Dika menjadi pengingat bahwa membangun budaya baca bukan pekerjaan instan. Namun, dari diskusi-diskusi kecil seperti inilah kesadaran kolektif mulai terbentuk.
Isu literasi pun kembali menjadi refleksi bersama: apakah membaca sudah menjadi bagian dari gaya hidup, atau masih sekadar tugas sekolah?
Penulis :
Hanny Wijaya Magang Unesa Surabaya
Editor : Arif Ardliyanto