get app
inews
Aa Text
Read Next : Bolehkah Niat Puasa Ramadan Dilakukan Sekali Dalam Sebulan? Ini Penjelasan Ulama

Pakar Psikologi Ungkap Fakta Baru, Puasa Ramadan Bisa Menguatkan Mental, Begini Penjelasannya

Sabtu, 07 Maret 2026 | 04:57 WIB
header img
Ngabuburit di Unesa diisi edukasi kesehatan mental. Dekan Fakultas Psikologi Unesa menjelaskan puasa Ramadan dapat melatih kontrol diri, emosi, hingga ketahanan mental. Foto ist

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Menjelang waktu berbuka puasa, halaman Rektorat Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dipenuhi aktivitas yang berbeda dari biasanya. Sejumlah mahasiswa, dosen, hingga masyarakat sekitar tampak berkumpul menikmati suasana ngabuburit yang hangat.

Namun sore itu bukan sekadar menunggu azan magrib. Di tengah pembagian takjil dan agenda buka puasa bersama, para peserta juga diajak memahami sisi lain dari Ramadan: bagaimana puasa ternyata berperan penting dalam menjaga kesehatan mental.

Dekan Fakultas Psikologi Unesa, Dr. Diana Rahmasari, S.Psi., M.Si., Psikolog, menyampaikan bahwa puasa memiliki makna lebih luas daripada sekadar menahan lapar dan dahaga. Dalam kajian psikologi, puasa menjadi sarana latihan pengendalian diri yang sangat efektif.

“Puasa dapat dipahami sebagai latihan regulasi diri yang komprehensif. Melalui ibadah ini seseorang belajar menunda dorongan, mengendalikan impuls, dan mengarahkan perilaku sesuai nilai yang diyakini,” ujarnya saat memberikan pemaparan di sela kegiatan ngabuburit.

Menurutnya, proses menahan diri selama berpuasa berkaitan erat dengan fungsi eksekutif otak yang berperan dalam mengatur kontrol diri. Ketika seseorang mampu mengendalikan keinginan dasar seperti makan dan minum, secara tidak langsung kemampuan mengelola emosi juga ikut terlatih.

Kemampuan ini dalam psikologi dikenal sebagai emotional regulation, yakni keterampilan seseorang untuk mengelola emosi agar tetap stabil meskipun berada dalam tekanan.

Tidak hanya itu, puasa juga membantu meningkatkan distress tolerance, yaitu kemampuan bertahan dalam situasi tidak nyaman tanpa bereaksi berlebihan.

Dalam kehidupan sehari-hari yang penuh distraksi, Ramadan memberi ruang bagi seseorang untuk berhenti sejenak, melakukan refleksi diri, dan merespons berbagai tekanan secara lebih tenang.

“Ketika seseorang mampu bertahan dalam kondisi yang tidak nyaman dengan cara yang sehat, ketahanan mentalnya akan semakin kuat,” jelas Diana.

Selain melatih ketahanan mental secara individu, Ramadan juga memberikan dampak sosial yang signifikan. Aktivitas berbagi makanan, ibadah bersama, hingga kebersamaan saat berbuka puasa dapat memperkuat hubungan sosial.

Rasa kebersamaan atau sense of belonging tersebut, kata Diana, berperan penting dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis sekaligus membantu menekan tingkat stres.

Menariknya, manfaat puasa juga didukung oleh kajian dalam bidang neuroscience. Penelitian menunjukkan bahwa puasa dapat memicu neuroplastisitas, yakni kemampuan otak membentuk koneksi baru antar sel saraf.

Proses ini juga berkaitan dengan neurogenesis, yaitu pembentukan sel saraf baru yang membantu meningkatkan konsentrasi serta ketangguhan otak dalam menghadapi tekanan.

“Ketika koneksi antar neuron semakin kuat, kemampuan otak dalam beradaptasi juga meningkat. Ini yang membuat seseorang lebih tangguh secara mental,” terangnya.

Meski demikian, Diana mengingatkan bahwa setiap individu memiliki kondisi psikologis yang berbeda. Bagi mereka yang memiliki masalah kesehatan mental tertentu, konsultasi dengan tenaga profesional tetap penting dilakukan.

Dengan pendekatan yang tepat, puasa tidak hanya menjadi ibadah spiritual, tetapi juga dapat menjadi momentum untuk memperkuat kesehatan mental sekaligus memperdalam makna refleksi diri selama Ramadan.

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut