get app
inews
Aa Text
Read Next : Pensi SMA Hangtuah 4 Surabaya: Ekspresi Seni, Emosi, dan Solidaritas

Gua Bulu Sipong 4 di Pangkep Simpan Lukisan Prasejarah Tertua Dunia Berusia 44.000 Tahun

Sabtu, 07 Maret 2026 | 08:31 WIB
header img
Situs prasejarah Bulu Sipong 4 menjadi bukti awal peradaban manusia di Sulawesi. Foto : istimewa.

PANGKEP, iNewsSurabaya.id - Leang atau Gua Bulu Sipong 4 di Bukit Bulu Sipong menjadi salah satu saksi penting peradaban manusia. Di gua ini terdapat seni cadas tertua di dunia yang diperkirakan berusia sekitar 44.000 tahun, menggambarkan adegan perburuan hewan oleh manusia prasejarah.

Cagar budaya Bulu Sipong 4 ini berada di area tambang tanah liat milik PT Semen Tonasa di Kelurahan Bontoa, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Berdasarkan buku Cultural Heritage Management Plan yang diterbitkan PT Semen Tonasa, gua ini pertama kali ditemukan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Makassar pada 2016.

Penemuan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan penelitian berupa pengambilan sampel untuk penentuan usia lukisan cadas. Selanjutnya, PT Semen Tonasa menjalin kerja sama dengan Direktorat Jenderal Kebudayaan untuk melindungi situs prasejarah tersebut.

Atas rekomendasi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk atau SIG sebagai induk perusahaan, PT Semen Tonasa menetapkan kawasan Bukit Bulu Sipong seluas 31,64 hektare atau sekitar 11,3 persen dari total lahan tambang seluas 280 hektare sebagai kawasan konservasi.

Pada 18 Mei 2018, perusahaan meresmikan Taman Keanekaragaman Hayati (Kehati) dan Geopark Bulu Sipong guna melindungi keanekaragaman hayati di sekitar area tambang sekaligus menjaga kawasan geopark dan situs purbakala.

Bulu Sipong 4 yang menjadi salah satu geosite di Geopark Maros-Pangkep kemudian resmi masuk dalam daftar Unesco Global Geopark setelah ditetapkan melalui Sidang Dewan Eksekutif Unesco ke-216 di Paris, Prancis, pada 2023.

Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni, mengatakan penetapan kawasan Bulu Sipong sebagai area konservasi mencerminkan komitmen perusahaan dalam menyeimbangkan kegiatan industri dengan pelestarian lingkungan dan nilai budaya.

“Bulu Sipong diharapkan menjadi sarana edukasi sekaligus membantu mempromosikan sejarah dan budaya peradaban kepada masyarakat luas,” ujar Vita, Sabtu (7/3/2026).

SIG bersama PT Semen Tonasa juga berkolaborasi dengan LPPM Universitas Hasanuddin dalam menyusun Cultural Heritage Management Plan sebagai panduan pengelolaan situs prasejarah Bulu Sipong 4.

“Dokumen ini menjadi panduan pengelolaan warisan budaya perusahaan agar dapat dikelola secara berkelanjutan serta menjaga nilai-nilai budaya yang ada,” jelasnya.

Dalam pengelolaan kawasan tersebut, PT Semen Tonasa juga bekerja sama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIX. Berbagai upaya dilakukan, mulai dari pemantauan getaran dan kualitas udara secara berkala, pengecoran jalan sepanjang 1.800 meter, hingga penyiraman jalan tambang untuk mengurangi debu.

Perusahaan juga melakukan edukasi kepada karyawan dan masyarakat mengenai pentingnya pelestarian situs prasejarah, memasang rambu peringatan, membatasi akses dengan pagar sepanjang 1.900 meter, serta melakukan revegetasi di kawasan konservasi.

Selain menyimpan seni cadas purbakala, kawasan Taman Kehati dan Geopark Bulu Sipong juga menjadi habitat alami berbagai flora dan fauna dengan indeks keanekaragaman hayati yang terus meningkat.

Hingga 2025, kawasan ini tercatat memiliki 25 jenis flora dengan total 2.898 pohon, di antaranya eboni (Diospyros celebica), kayu kuku (Pericopsis mooniana), dan bitti (Vitex cofassus) yang merupakan tanaman endemik Sulawesi.

Sementara itu, tercatat pula 41 jenis satwa liar yang terdiri dari 37 jenis burung, dua jenis primata, satu jenis unggas, dan satu jenis reptil. Total populasi satwa yang terpantau mencapai 869 ekor, termasuk monyet dare (Macaca maura) dan tarsius yang merupakan primata endemik yang dilindungi.

Vita menambahkan, kawasan konservasi tersebut berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Pada 2025, indeks keanekaragaman hayati flora di kawasan Bulu Sipong tercatat sebesar 1,54, meningkat dari 1,38 pada 2020. Sementara indeks fauna naik menjadi 2,85 dari sebelumnya 2,51.

“Kenaikan indeks ini menunjukkan kondisi lingkungan kawasan Bulu Sipong yang semakin baik sekaligus menjadi benteng perlindungan bagi keanekaragaman hayati dan warisan arkeologi di dalamnya,” ujarnya.

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut