get app
inews
Aa Text
Read Next : Pasokan Energi Global Terganggu Konflik Timur Tengah, Distribusi LPG di Jatim Diperketat

Konflik Timur Tengah Memanas, Organisasi Mahasiswa Ini Ingatkan Ancaman Stabilitas Dunia dan Ekonomi

Minggu, 08 Maret 2026 | 10:28 WIB
header img
Ketegangan Iran, Israel, dan Amerika Serikat di Timur Tengah dinilai GMNI dapat berdampak pada stabilitas global, energi dunia, hingga ekonomi Indonesia. Foto tangkap layar

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran dunia. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran dinilai bukan sekadar konflik regional, tetapi juga mencerminkan perebutan pengaruh politik global yang dapat berdampak luas, termasuk terhadap stabilitas ekonomi dunia.

Di tengah meningkatnya tensi tersebut, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) mengingatkan bahwa situasi yang berkembang di Timur Tengah perlu disikapi dengan serius oleh banyak negara, termasuk Indonesia.

Ketua Bidang Politik DPP GMNI, Dhipa Satwika Oey, menilai dinamika konflik yang terus memanas di kawasan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kepentingan geopolitik negara-negara besar yang saling berhadapan.

“Ketegangan yang terjadi saat ini memperlihatkan bahwa Timur Tengah masih menjadi kawasan yang sangat rentan terhadap perebutan pengaruh geopolitik. Ketika kepentingan negara-negara besar saling berhadapan, potensi eskalasi konflik tentu semakin terbuka,” ujar Dhipa.

Menurutnya, rivalitas antara Iran dan Israel yang turut melibatkan kepentingan Amerika Serikat berpotensi memperluas ketegangan jika tidak segera diredam melalui jalur diplomasi.

Dhipa menilai konflik geopolitik seperti ini jarang berdiri sendiri. Ketika rivalitas antar negara semakin tajam, dampaknya bisa merambat ke berbagai kawasan dunia dan memicu ketidakstabilan dalam hubungan internasional.

“Konflik seperti ini tidak berdiri sendiri. Ketika rivalitas geopolitik semakin tajam, dampaknya dapat menjalar ke berbagai kawasan dan memperbesar ketegangan dalam hubungan internasional,” jelasnya. 

Selain persoalan geopolitik, GMNI juga menyoroti potensi krisis kemanusiaan yang bisa muncul jika konflik terus berlangsung.

Dalam banyak konflik bersenjata di dunia, masyarakat sipil hampir selalu menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya. Mereka harus menghadapi ancaman kehilangan tempat tinggal, krisis pangan, hingga trauma berkepanjangan.

“Pengalaman dari berbagai konflik menunjukkan bahwa masyarakat sipil sering kali menjadi korban paling besar. Karena itu, upaya penyelesaian melalui dialog dan diplomasi harus terus didorong agar dampak kemanusiaan yang lebih luas dapat dihindari,” kata Dhipa.

Ketegangan di Timur Tengah juga berpotensi memicu efek domino terhadap sektor energi global. Kawasan ini selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu pusat produksi energi terbesar di dunia.

Jika konflik semakin memanas, pasokan energi internasional bisa terganggu dan memicu lonjakan harga minyak dunia. Situasi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi stabilitas ekonomi banyak negara.

Menurut Dhipa, Indonesia juga tidak sepenuhnya kebal terhadap dampak tersebut. Fluktuasi harga energi global dapat memengaruhi berbagai sektor ekonomi nasional, mulai dari industri hingga daya beli masyarakat.

“Gejolak geopolitik di kawasan yang menjadi pusat energi dunia tentu akan berdampak pada stabilitas ekonomi global. Indonesia juga tidak sepenuhnya terlepas dari pengaruh dinamika tersebut,” ujarnya.

Indonesia Diminta Lebih Aktif dalam Diplomasi

Dalam konteks tersebut, GMNI menilai Indonesia perlu memainkan peran yang lebih aktif dalam menjaga stabilitas global. Sebagai negara yang menjunjung tinggi prinsip perdamaian dunia serta politik luar negeri bebas aktif, Indonesia dinilai memiliki posisi strategis untuk mendorong dialog antar negara.

“Indonesia tidak seharusnya hanya menjadi penonton ketika konflik global berpotensi mengganggu stabilitas dunia. Prinsip bebas aktif justru menuntut adanya peran yang lebih aktif dalam mendorong diplomasi dan dialog internasional,” tegasnya.

Langkah diplomasi melalui berbagai forum internasional dinilai penting untuk mendorong de-eskalasi konflik sekaligus menjaga stabilitas kawasan.

Lebih jauh, GMNI juga menekankan pentingnya kesadaran geopolitik di kalangan mahasiswa. Bagi organisasi tersebut, generasi muda perlu memahami bahwa dinamika politik internasional sering kali berkaitan langsung dengan kepentingan nasional.

Dhipa menegaskan gerakan mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk tetap kritis terhadap ketimpangan dalam tatanan politik global.

“Dalam semangat nasionalisme, mahasiswa perlu terus mendorong terciptanya perdamaian dunia dan hubungan internasional yang lebih adil,” pungkasnya.

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut