get app
inews
Aa Text
Read Next : ​Konflik Iran–Israel Picu Kelangkaan Kapal, Tarif Sewa Diprediksi Melonjak

Perang Siber di Iran: Saat Infrastruktur Sipil Jadi Laboratorium Senjata Digital

Selasa, 17 Maret 2026 | 03:38 WIB
header img
Wakil Rektor II Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Dosen Fakultas Teknologi Elektro dan Informatika Cerdas (FTEIC) Untag Surabaya, Supangat, Ph.D., ITIL., COBIT., CLA., CISA. Foto ist

Supangat, Ph.D., ITIL., COBIT., CLA., CISA Wakil Rektor II Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Dosen Fakultas Teknologi Elektro dan Informatika Cerdas (FTEIC) Untag Surabaya

PERANG MODERN tidak lagi selalu ditandai dengan suara ledakan atau kepulan asap dari bangunan yang runtuh. Di era digital, konflik juga terjadi dalam bentuk yang jauh lebih sunyi—tetapi dampaknya bisa sama menghancurkan.

Ketegangan di Timur Tengah pada awal 2026 menjadi contoh nyata bagaimana peperangan telah berubah wajah. Jika fajar 28 Februari 2026 diwarnai serangan rudal dalam operasi militer yang dikenal sebagai Operation Epic Fury, konflik sesungguhnya tidak berhenti di medan tempur konvensional. Ada perang lain yang berlangsung diam-diam di balik layar jaringan internet: perang siber.

Yang menjadi korban bukan hanya militer, tetapi juga masyarakat sipil yang bergantung pada sistem digital untuk menjalani kehidupan sehari-hari.

Awal Maret 2026 menjadi momen yang mengkhawatirkan bagi warga Iran. Laporan keamanan siber menunjukkan konektivitas internet negara itu sempat merosot drastis hingga hanya tersisa sekitar 1–4 persen dari kapasitas normal.

Bagi masyarakat biasa, ini bukan sekadar gangguan teknis.

Bayangkan ketika internet tiba-tiba hilang: transaksi bank terhenti, komunikasi keluarga terputus, akses informasi global menghilang, bahkan layanan publik tidak bisa diakses. Dalam hitungan jam, sebuah negara bisa terasa seperti terisolasi dari dunia.

Fenomena ini menunjukkan bahwa perang digital tidak lagi sekadar soal mencuri data rahasia atau membobol server pemerintah. Kini, serangan siber telah berkembang menjadi alat untuk menguji ketahanan sosial suatu negara.

Serangan siber yang terjadi di Iran menunjukkan pola yang jauh lebih kompleks. Kelompok peretas seperti Predatory Sparrow (Gonjeshke Darande) dilaporkan berhasil melumpuhkan bursa kripto Nobitex dan menghancurkan data penting di Bank Sepah.

Kerugian finansial yang ditimbulkan diperkirakan mencapai sekitar 90 juta dolar AS hanya dalam satu malam.

Namun yang lebih mengkhawatirkan adalah jenis target yang diserang. Sistem perbankan, distribusi bahan bakar, hingga kamera pengawas lalu lintas menjadi sasaran.

Ini bukan sekadar operasi intelijen digital. Banyak pengamat keamanan melihatnya sebagai semacam “uji coba” untuk melihat bagaimana masyarakat bereaksi ketika sistem vital kehidupan sehari-hari tiba-tiba lumpuh akibat serangan digital.

Dengan kata lain, infrastruktur sipil berubah menjadi laboratorium hidup bagi teknologi perang siber.

Salah satu alasan mengapa perang siber semakin sering digunakan adalah karena sifatnya yang sulit dilacak secara pasti.

Negara yang melancarkan serangan dapat menyangkal keterlibatan secara langsung. Tanpa bukti fisik seperti rudal atau pesawat tempur, konflik digital sering berada di wilayah abu-abu hukum internasional.

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut