get app
inews
Aa Text
Read Next : Sambut Idulfitri, Masyarakat Mulai Berburu Busana Lebaran

Pasar Bandeng Gresik, Jejak Tradisi sejak Era Sunan Giri yang Terus Hidup

Kamis, 19 Maret 2026 | 09:22 WIB
header img
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengunjungi Pasar Bandeng di Gresik. Pasar Bandeng diyakini sudah ada sejak era Sunan Giri. (Foto : Istimewa).

SURABAYA, iNewsSurabaya.id - Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa mengajak cucu pertamanya, Aisyah Nabila (Aila), mengunjungi Pasar Bandeng di Gresik, pada Rabu (18/3/2026). 

Pasar Bandeng Gresik merupakan salah satu tradisi khas yang telah mengakar kuat di tengah masyarakat Gresik. Tradisi ini tidak sekadar aktivitas jual beli ikan bandeng, tetapi juga menjadi simbol budaya, ekonomi, dan religius yang terus hidup hingga kini, khususnya saat bulan Ramadan menjelang Idulfitri.

Kunjungan orang nomor satu di Jatim itu menjadi momen hangat sekaligus untuk memperkenalkan kekayaan tradisi lokal kepada generasi muda, di tengah suasana Ramadan menjelang Idulfitri.

Sejarah Pasar Bandeng diyakini sudah ada sejak masa penyebaran Islam di Gresik, terutama pada era Sunan Giri pada abad ke-15. Saat itu, Gresik dikenal sebagai pusat perdagangan sekaligus pusat dakwah Islam di pesisir utara Jawa.

Menurut cerita turun-temurun, tradisi ini bermula dari kebiasaan masyarakat pesisir yang membudidayakan ikan bandeng di tambak. Hasil panen kemudian dijual menjelang Hari Raya Idulfitri sebagai bentuk rasa syukur sekaligus untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat saat Lebaran.

Sunan Giri disebut mendorong masyarakat untuk menghidupkan aktivitas ekonomi sekaligus memperkuat silaturahmi melalui pasar tradisional menjelang hari besar keagamaan. Dari sinilah Pasar Bandeng berkembang menjadi tradisi tahunan.

Memasuki masa kolonial, Pasar Bandeng semakin dikenal luas. Aktivitas jual beli tidak hanya diikuti warga lokal, tetapi juga pedagang dari luar daerah. Ikan bandeng menjadi komoditas unggulan karena mudah diolah dan memiliki nilai ekonomi tinggi.

“Ikan-ikan ini (bandeng), mayoritas berasal dari petambak wilayah Mengare, Gresik. Saya setiap tahun berusaha  ke sini. Dan hari ini, saya membawa cucu saya. Jadi saya ajak dia untuk melihat langsung ikan bandeng di pasar ini," ujar Khofifah.

Menurutnya, pengenalan tradisi lokal sejak dini merupakan langkah penting dalam Ajak mengenali tradisi dan terus menjaga keberlangsungan kekayaan budaya Jatim. Dengan melihat langsung aktivitas pasar, generasi muda dapat memahami nilai sosial, ekonomi, dan kultural yang hidup di tengah masyarakat.

“Dengan melihat langsung proses dan suasana pasar, dia bisa memahami budaya yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Gresik," imbuhnya.

Khofifah menegaskan bahwa Pasar Bandeng Gresik bukan sekadar aktivitas jual beli, tetapi merupakan tradisi yang sarat nilai sosial, kebersamaan, dan kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.

“Keberadaan tradisi seperti ini menjadi identitas budaya yang harus terus dijaga dan dilestarikan, terutama oleh generasi muda,” jelasnya.

Khofifah menjelaskan bahwa Pasar Bandeng Gresik bukan hanya sekadar tradisi, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat, khususnya bagi para petambak dan pedagang lokal.

Ikan bandeng yang dijual di pasar tersebut umumnya berukuran besar, dengan bobot rata-rata 4–5 kilogram, dan membutuhkan waktu pemeliharaan hingga empat tahun di tambak.

"Artinya, pembesaran ikan bandeng membutuhkan waktu yang cukup lama, sehingga kita perlu menghargai mereka yang telah menyiapkan ikan-ikan ini untuk disajikan saat Lebaran," katanya.

Dalam kesempatan ini, Khofifah juga membeli sejumlah ikan bandeng dalam jumlah cukup banyak. Ikan-ikan tersebut akan digunakan dalam kegiatan lomba memasak yang melibatkan jajaran Perangkat Daerah (PD) serta Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di lingkungan Pemprov Jatim. 

Kegiatan lomba memasak tersebut merupakan agenda rutin tahunan yang telah memasuki penyelenggaraan ke-6.  Kegiatan akan diawali dengan qiyamul lail pada pukul 01.00 WIB, dilanjutkan lomba memasak pada pukul 02.00 WIB, dan ditutup dengan sahur bersama menggunakan hasil olahan masakan di Gedung Negara Grahadi, Surabaya.

 

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut