Kacau! Banyak Laga WO di Liga TopSkor KU-14, Pembinaan Usia Muda Ternoda
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan serius terkait koordinasi dan kesiapan penyelenggara. Beberapa tim merasa dirugikan karena kehilangan kesempatan bertanding, sementara tim lain justru mendapat keuntungan instan berupa tambahan poin tanpa harus turun ke lapangan.
Pelatih SSA, Achmad Andi, secara terbuka menyampaikan kritiknya terhadap kondisi tersebut. Ia menilai maraknya WO sangat merugikan proses pembinaan pemain usia dini.
“Kompetisi ini seharusnya jadi wadah belajar, bukan hanya soal hasil. Kalau banyak WO, anak-anak kehilangan menit bermain, itu yang paling disayangkan,” tegasnya.
Bagi para pemain muda, setiap menit di lapangan adalah pengalaman berharga. Ketika pertandingan batal digelar, bukan hanya skor yang hilang, tetapi juga kesempatan untuk berkembang, belajar strategi, hingga membangun mental bertanding.
Situasi ini menjadi alarm keras bagi penyelenggara Liga TopSkor KU-14. Tanpa evaluasi menyeluruh dan langkah perbaikan yang cepat, bukan tidak mungkin kepercayaan peserta akan mulai terkikis.
Pekan berikutnya pun kini dinantikan sebagai momentum pembenahan. Jika tidak ada perubahan signifikan, Liga TopSkor KU-14 dikhawatirkan akan kehilangan esensinya sebagai ajang pembinaan generasi muda sepak bola yang berkualitas.
Editor : Arif Ardliyanto