Eks Sekolah Soekarno Disulap Jadi Restoran, Cara Baru Menikmati Kuliner di Tengah Jejak Sejarah
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Ada cara baru menikmati kuliner di Kota Pahlawan. Bukan sekadar soal rasa, tetapi juga tentang menyelami jejak sejarah yang masih hidup di balik dinding bangunan tua.
Di kawasan Kebon Rojo, sebuah gedung cagar budaya yang dulunya dikenal sebagai Kantor Pos kini bertransformasi menjadi ruang makan bernuansa heritage. Tempat ini bernama 10 Regentstraat, destinasi kuliner yang memadukan cerita masa lalu dengan sajian khas Nusantara.
Dijadwalkan melakukan soft opening pada 1 Mei 2026, restoran ini menghadirkan pengalaman bersantap yang tak biasa: makan malam ditemani arsitektur kolonial yang tetap terjaga, lengkap dengan pencahayaan temaram yang menciptakan suasana hangat dan intim.

Nama “Regentstraat” sendiri bukan tanpa makna. Pada masa kolonial, kawasan ini merupakan bagian penting dari wajah lama Surabaya. Angka “10” merujuk pada nomor bangunan yang kini dihidupkan kembali—seolah menjadi penanda bahwa sejarah tidak benar-benar hilang, hanya menunggu untuk diceritakan ulang.
Gedung ini dulunya merupakan bagian dari Hogere Burgerschool (HBS) Soerabaja, sekolah elit era Hindia Belanda yang berdiri sejak 1875 dan pernah menjadi tempat belajar Ir. Soekarno. Seiring waktu, bangunan ini sempat beralih fungsi menjadi Kantor Pos Kebon Rojo, sebelum akhirnya direvitalisasi.
Kini, nuansa klasik itu tetap dipertahankan. Dinding-dindingnya dihiasi lukisan bangunan tua, lorongnya membawa suasana tempo dulu, dan ruang VIP-nya terasa seperti potongan kecil dari masa silam.
Tak hanya mengandalkan suasana, 10 Regentstraat juga serius dalam urusan menu. Hidangan yang disajikan mengangkat kekayaan kuliner Nusantara, namun dengan sentuhan nostalgia yang kuat.
Beberapa menu yang ditawarkan antara lain: Bitterballen, camilan khas peninggalan kolonial, Klappertaart dengan rasa klasik, Olahan ayam, bebek, dan seafood, dan Hidangan tradisional seperti karedok
Untuk minuman, sensasi tempo dulu juga terasa melalui sajian seperti limun Cap Badak yang membawa ingatan pada cita rasa lawas.

Setiap menu seolah menjadi penghubung antara generasi—menghadirkan rasa yang akrab, namun dikemas dalam pengalaman yang berbeda.
Direktur PT Imperium Buana Sakti, Steffiani Setyadji, menyebut konsep yang diusung bukan sekadar restoran, melainkan ruang yang menghidupkan memori kolektif kota.
Menurutnya, bangunan bersejarah seperti ini memiliki cerita panjang yang sayang jika hanya menjadi artefak diam. Dengan pendekatan kuliner, masyarakat bisa merasakan sejarah secara lebih dekat dan relevan.
Hal senada disampaikan CEO Pos Bloc Surabaya, Jimmy Saputro. Ia melihat kehadiran tempat seperti ini sebagai langkah awal untuk menghidupkan kembali kawasan Kota Lama.
Revitalisasi, menurutnya, tak cukup hanya dengan menjaga bangunan, tetapi juga menghadirkan aktivitas yang membuatnya kembali bernapas. Kuliner menjadi salah satu pintu masuk paling efektif karena dekat dengan keseharian masyarakat.
Dengan harga yang relatif terjangkau, 10 Regentstraat membuka peluang bagi siapa saja untuk merasakan sensasi makan di bangunan berusia ratusan tahun.
Perpaduan antara cagar budaya, arsitektur kolonial, dan kuliner Nusantara menjadikan tempat ini lebih dari sekadar restoran. Ia hadir sebagai ruang temu antara masa lalu dan masa kini—tempat di mana orang tidak hanya datang untuk makan, tetapi juga untuk merasakan cerita.
Di tengah modernisasi kota, kehadiran destinasi seperti ini menjadi pengingat sederhana: bahwa sejarah tidak harus selalu dibaca di buku, kadang cukup dinikmati di atas meja makan.
Editor: Arif Ardliyanto