get app
inews
Aa Text
Read Next : Jawab Tantangan Era Digital, Kampus Surabaya Hadirkan Kurikulum Berbasis Pengalaman Kerja Nyata

Menjaga Jejak Peneleh dari Ruang Kampus hingga Gang-Gang Kota

Kamis, 21 Mei 2026 | 08:22 WIB
header img
Untag Surabaya dan akademisi Belanda mendorong pelestarian heritage Kampung Peneleh. Foto : Trisna.

SURABAYA, iNewsSurabaya.id - Deretan bangunan tua di Kampung Peneleh, Surabaya, masih menyimpan rekam jejak panjang sejarah kota. 

Di antara lorong kampung dan kompleks makam tua yang menjadi saksi perjalanan zaman, kawasan ini kini kembali dilirik sebagai ruang belajar, riset, sekaligus pengabdian masyarakat berbasis heritage.

Upaya itu tampak dalam kegiatan International Joint Community Service yang digelar Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya bersama TiMe Amsterdam, Rabu (20/5/2026).

Bukan sekadar forum akademik, kegiatan tersebut mempertemukan dosen lintas disiplin, pegiat arsitektur heritage, hingga akademisi dari Belanda untuk membicarakan masa depan kawasan Peneleh sebagai bagian dari identitas sejarah Surabaya.

Ketua LPPM Untag Surabaya Prof. Slamet Riyadi mengatakan, kampus memiliki tanggung jawab untuk memastikan hasil penelitian tidak hanya berhenti di ruang akademik, tetapi juga memberi manfaat langsung bagi masyarakat.

Menurut dia, pengabdian masyarakat menjadi cara perguruan tinggi menghadirkan ilmu pengetahuan dan hasil riset agar dapat dirasakan secara nyata oleh warga.

Di tengah pesatnya pembangunan kota, kawasan-kawasan lama seperti Peneleh dinilai menghadapi tantangan besar untuk tetap bertahan. Padahal, kawasan tersebut menyimpan banyak nilai sejarah, mulai dari jejak permukiman kolonial hingga situs penting yang berkaitan dengan perjalanan tokoh-tokoh nasional.

"Karena itu, kolaborasi internasional dianggap penting untuk membuka perspektif baru dalam melihat kawasan heritage, bukan hanya sebagai peninggalan masa lalu, melainkan ruang hidup yang tetap memiliki fungsi sosial dan edukatif," ungkapnya.

Petra Timmer dari TiMe Amsterdam menjadi salah satu akademisi yang tertarik mempelajari pendekatan tersebut. Selama beberapa hari berada di Surabaya, ia berdiskusi dengan mahasiswa dan dosen Untag sekaligus meninjau langsung kawasan Peneleh.

Petra mengaku terkesan dengan sambutan yang diterimanya selama berada di Untag Surabaya. Ia melihat adanya peluang kolaborasi riset bersama mahasiswa di Jawa Timur, termasuk pengembangan pengabdian masyarakat berbasis kawasan heritage di Kampung Peneleh.

Diskusi mengenai pengembangan kawasan heritage itu juga melibatkan sejumlah akademisi Untag Surabaya dari berbagai bidang keilmuan. Di antaranya Dr. Ir. R.A. Retno Hastijanti, M.T., Prof. Dr. Made Warka, S.H., M.H., Tigor Wilfritz Soaduon P., S.T., M.T., Ph.D., Dr. Ar. Andarita Rolalisasi, S.T., M.T., IPM., IAI., Dr. Niken Titi Pratitis, S.Psi., M.Si., Psikolog., serta Dr. Rachmawati Novaria, M.M.

Keterlibatan lintas disiplin tersebut menunjukkan bahwa pelestarian kawasan heritage tidak hanya berkaitan dengan konservasi bangunan, tetapi juga menyangkut aspek sosial, budaya, hukum, hingga psikologi masyarakat.

Bagi Petra, kawasan bersejarah bukan hanya soal bangunan lama, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat menjaga memori kolektif kotanya. "Karena itu, keterlibatan warga menjadi bagian penting dalam upaya pelestarian heritage," katanya.

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut