Sosok Ety Prawesti, ASN Jatim yang Bantu Guru Honorer Punya Usaha hingga Raih Penghargaan Gubernur
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Menjelang masa purnatugasnya sebagai aparatur sipil negara, Ety Prawesti justru menorehkan capaian yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Perempuan yang selama ini dikenal dekat dengan para guru itu menerima penghargaan Jer Basuki Mawa Beya kategori perunggu dari Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.
Bagi banyak orang, penghargaan mungkin hanya simbol keberhasilan. Namun bagi Ety, penghargaan tersebut menyimpan cerita panjang tentang perjuangan mendengar keluh kesah guru honorer, memperjuangkan kesejahteraan tenaga pendidik, hingga menghadirkan inovasi pendidikan dari balik ruang birokrasi.
Sebagai Kepala Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Dinas Pendidikan Jawa Timur, Ety dikenal aktif mendorong program-program yang langsung menyentuh kebutuhan guru di lapangan. Dua inovasi yang paling mendapat perhatian ialah Program Ekonomi Terapan Guru Non-ASN (PROTEG) dan East Java Innovation Education Summits (EJIES).
Ety mengungkapkan, lahirnya PROTEG berawal dari kegelisahan sederhana yang selama ini ia lihat sendiri. Banyak guru honorer harus bertahan hidup dengan penghasilan terbatas di tengah kebutuhan ekonomi yang terus meningkat.
Dari situ, Dinas Pendidikan Jawa Timur bersama Institut Teknologi Sepuluh Nopember mulai merancang program pemberdayaan ekonomi untuk guru non-ASN.
Melalui PROTEG, guru honorer, GTT hingga PPPK paruh waktu didorong membangun usaha mandiri tanpa meninggalkan tugas utama sebagai pendidik.
Kini, banyak guru binaan PROTEG berhasil mengembangkan usaha di berbagai bidang. Mulai dari kuliner, percetakan, tata busana, permainan edukatif anak, jasa pendidikan hingga sektor ekonomi kreatif lainnya.
Tak hanya mendapat pelatihan, usaha mereka juga dibantu dalam proses legalitas agar memiliki kepastian hukum dan peluang berkembang lebih luas.
“PROTEG bukan sekadar program, tetapi bentuk kepedulian nyata untuk meningkatkan kesejahteraan guru. Kami melihat langsung bagaimana guru honorer mulai mandiri secara ekonomi dengan usaha yang legal dan berkelanjutan,” ujar Ety.
Menurutnya, program tersebut menjadi langkah konkret untuk membangun kemandirian finansial guru melalui kewirausahaan dan ekonomi kreatif yang tetap selaras dengan profesi mereka sebagai pendidik.
Sejak dipercaya menjabat Kabid GTK pada 2024, Ety mengaku menemukan banyak persoalan guru yang harus segera dicarikan solusi bersama. Mulai dari pelatihan yang belum merata hingga persoalan kesejahteraan tenaga pendidik.
Ia menyebut, sebelumnya pelatihan guru hanya mampu menjangkau sekitar seratus peserta untuk seluruh Jawa Timur. Namun atas dorongan Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, pelatihan kini digelar lebih luas agar manfaatnya dirasakan lebih banyak guru.
“Menangani guru artinya kami harus hadir untuk setiap persoalan yang mereka alami,” katanya.
Tak hanya guru, perhatian Ety juga tertuju pada para pengawas sekolah. Ia memahami beratnya medan yang harus ditempuh pengawas demi menjangkau sekolah-sekolah binaan di wilayah pegunungan hingga kepulauan.
Karena itu, ia mengusulkan bantuan transportasi sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi mereka menjaga mutu pendidikan di daerah terpencil.
“Kalau pengawas mendapat tugas di pegunungan atau kepulauan tentu membutuhkan biaya dan tenaga lebih. Paling tidak kami ingin memberikan perhatian dan rasa terima kasih kepada mereka,” tuturnya.
Sebelum menjadi Kabid GTK, Ety lebih dulu dikenal lewat berbagai inovasi pendidikan saat menjabat Kabid SMA pada 2017-2023.
Sejumlah program yang lahir dari tangannya antara lain sekolah empat matra seperti SMAN 3 Taruna Angkasa, SMAN 5 Taruna Brawijaya, SMAN 2 Bhayangkara, hingga SMAN 1 Taruna Madani. Ia juga memperkuat organisasi siswa melalui Himpunan Musyawarah OSIS (HIMO) Jawa Timur.
Selain itu, Ety turut menggagas program SMA Double Track serta menyusun USP-BKS dan EHB2KS sebagai instrumen pemetaan mutu sekolah pengganti Ujian Nasional.
Saat menjabat Kabid GTK, inovasinya terus berkembang melalui program Gempita Award, DEKAP hingga aplikasi administrasi layanan GTK bernama ISMA yang mempermudah tata kelola pendidikan.
Penghargaan yang Datang di Penghujung Pengabdian
Di balik suasana bahagia malam penghargaan, tersimpan momen haru yang membuat banyak orang tersentuh. Ety akan memasuki masa purnatugas pada 1 Juni mendatang.
Dengan mata berkaca-kaca, perempuan kelahiran Kediri, 13 Mei 1968 itu mengaku penghargaan tersebut menjadi penyemangat untuk terus berkontribusi bagi dunia pendidikan, meski nantinya tak lagi berstatus ASN.
“Penghargaan ini menjadi motivasi bagi saya untuk terus mempunyai andil dalam pembangunan pendidikan. Semoga juga bisa menginspirasi banyak pihak untuk bersama-sama memajukan pendidikan di Jawa Timur,” ungkapnya lirih.
Di akhir penyampaiannya, Ety menyampaikan rasa terima kasih kepada Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai yang selama ini mendukung langkah-langkah inovatifnya.
“Terima kasih Ibu Gubernur atas dukungannya, terima kasih Pak Kadis atas bimbingannya,” tutup Ety.
Editor: Arif Ardliyanto