get app
inews
Aa Text
Read Next : BSI Hentikan Sementara Pembiayaan SPPG Baru

BGN Ancam SPPG yang Beli Telur Lewat Tengkulak, Sanksi Penghentian Operasional Bakal Diterapkan

Senin, 01 Juni 2026 | 16:23 WIB
header img
BGN mengancam mengevaluasi hingga menskors SPPG yang membeli telur melalui tengkulak. Program MBG diwajibkan menyerap telur langsung dari peternak Magetan untuk mendongkrak harga dan ekonomi lokal. Foto iNewsSurabaya.id/arif

MAGETAN, iNewsSurabaya.id – Badan Gizi Nasional (BGN) mengeluarkan peringatan keras kepada seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan mitra Program Makan Bergizi Gratis (MBG). SPPG yang masih membeli telur melalui tengkulak atau pedagang perantara terancam dievaluasi hingga dikenai sanksi penghentian sementara (suspend).

Ketegasan itu disampaikan Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Nanik Sudaryati Deyang, saat melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Langkah tersebut diambil untuk melindungi peternak lokal yang saat ini menghadapi anjloknya harga telur di tingkat produsen meski permintaan pasar terus meningkat.

Menurut Nanik, seluruh kebutuhan telur untuk Program Makan Bergizi Gratis harus diprioritaskan berasal dari koperasi peternak maupun peternak lokal secara langsung. Dengan cara itu, keuntungan ekonomi dari program pemerintah dapat dirasakan langsung oleh para peternak, bukan justru dinikmati rantai distribusi di tengah.

"Saya instruksikan kepada seluruh SPPG, khususnya di Magetan, agar membeli telur langsung dari koperasi peternak atau peternak. Jangan melalui tengkulak maupun pedagang perantara. Kalau masih dilakukan, kami akan evaluasi bahkan bisa kami suspend," tegas Nanik.

Pernyataan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa BGN tidak ingin Program MBG hanya berfungsi sebagai program pemenuhan gizi, tetapi juga menjadi instrumen penggerak ekonomi masyarakat di daerah.

Nanik mengungkapkan, berdasarkan laporan yang diterimanya, harga telur di tingkat peternak Magetan saat ini masih berkisar Rp22.000 hingga Rp23.000 per kilogram. Kondisi tersebut dinilai tidak sebanding dengan meningkatnya permintaan telur yang terjadi sejak pelaksanaan Program MBG di berbagai daerah.

Ia menilai ada ketidakseimbangan dalam rantai distribusi yang membuat peternak belum menikmati dampak positif dari meningkatnya kebutuhan pangan nasional.

"Permintaan telur sebenarnya naik, tetapi peternak belum merasakan manfaatnya secara maksimal. Jangan sampai keuntungan terbesar justru dinikmati pedagang perantara, sementara peternak yang memproduksi telur tetap mengalami tekanan harga," ujarnya.

Sebagai langkah cepat, BGN meminta seluruh dapur MBG di Magetan meningkatkan penggunaan telur lokal dalam menu makanan bergizi yang disajikan kepada penerima manfaat. Konsumsi telur bahkan didorong meningkat hingga dua sampai tiga kali lipat untuk membantu menyerap produksi peternak.

Nanik berharap kebijakan tersebut mampu mendorong kenaikan harga telur dalam waktu singkat dan memperbaiki kondisi ekonomi peternak yang selama ini tertekan.

"Saya minta dalam satu minggu sudah ada perubahan harga. Untuk sementara gunakan telur dari peternak Magetan dan beli langsung dari sumbernya sampai harga kembali stabil," katanya.

Selain sektor peternakan, BGN juga menaruh perhatian terhadap komoditas pertanian yang mengalami penurunan harga. Dalam kunjungannya, Nanik menemukan harga pokcoy sedang mengalami tekanan sehingga perlu mendapat dukungan pasar.

Karena itu, dapur-dapur MBG didorong untuk meningkatkan penggunaan sayuran lokal yang sedang mengalami penurunan harga agar hasil panen petani tetap terserap.

"Kami meminta jika ada harga sayuran yang jatuh segera diinformasikan. Saat ini pokcoy perlu dibantu penyerapannya. Dapur MBG bisa memperbanyak penggunaan pokcoy agar harga di tingkat petani membaik," jelasnya.

Ia mencontohkan keberhasilan intervensi serupa yang pernah dilakukan BGN saat harga kentang anjlok di sejumlah daerah. Saat itu, dapur MBG diarahkan menggunakan kentang sebagai alternatif sumber karbohidrat sehingga hasil panen petani dapat terserap lebih optimal.

MBG Didorong Jadi Penggerak Ekonomi Daerah

Nanik menegaskan Program Makan Bergizi Gratis memiliki misi yang lebih luas daripada sekadar meningkatkan kualitas gizi masyarakat. Program strategis nasional tersebut juga diharapkan mampu menjadi motor penggerak ekonomi lokal melalui penyerapan hasil pertanian dan peternakan daerah.

Dengan kebijakan pembelian langsung kepada petani dan peternak, BGN ingin memastikan manfaat anggaran negara benar-benar dirasakan masyarakat di tingkat akar rumput.

"Kami ingin Program MBG memberikan manfaat langsung kepada petani, peternak, dan pelaku usaha lokal. Karena itu seluruh pengadaan bahan pangan harus mengutamakan produk lokal yang tersedia di daerah masing-masing," pungkasnya.

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut