Sektor Percetakan di Jatim Tetap Potensial di Era Digital
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Industri percetakan di Jawa Timur (Jatim) terbukti masih memiliki prospek cerah di tengah pesatnya arus transformasi digital. Optimisme ini ditandai dengan bakal digelarnya pameran Surabaya Printing Expo (SPE) 2026 pada 8–11 Juli 2026 di Grand City Convention & Exhibition, Surabaya.
Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Dalam Negeri Disperindag Jatim, Yudi Arianto, menyatakan bahwa SPE 2026 sejalan dengan upaya Pemprov Jatim dalam memperkuat sektor industri pengolahan yang menjadi motor utama perekonomian daerah.
Sebagai catatan, pada triwulan I-2026, pertumbuhan ekonomi Jatim sukses menyentuh angka 5,96%, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,61%.
"Industri percetakan memegang peran vital sebagai penunjang berbagai sektor strategis, mulai dari makanan-minuman, farmasi, hingga manufaktur. Kehadiran teknologi percetakan terbaru dipastikan akan mendongkrak daya saing industri di Jatim," ujar Yudi, Jumat (3/7/2026).
Kepala Bidang Pemasaran Dinas Koperasi dan UKM Jatim, Haryo Bimo Pramantio, mengungkapkan bahwa Jatim saat ini menaungi sekitar 4,58 juta UMKM. Guna mendorong skalabilitasnya, akses terhadap teknologi, inovasi kemasan, dan pemasaran modern menjadi kebutuhan yang mendesak.
Haryo berharap SPE 2026 mampu menjadi ruang kolaborasi strategis antara pemerintah, industri besar, asosiasi, akademisi, dan UMKM, agar pelaku usaha lokal bisa masuk ke dalam rantai pasok industri nasional. "Kami ingin UMKM tidak sekadar menjadi penjual produk langsung, tetapi juga mampu mendukung industri besar melalui inovasi kemasan, promosi, dan adopsi teknologi," jelasnya.
Ketua Umum Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI), Ahmad Mughira Nurhani, menambahkan bahwa dinamika ekonomi saat ini justru menjadi momentum tepat bagi industri grafika untuk melakukan efisiensi lewat teknologi baru.
Menurutnya, ceruk pasar yang tumbuh paling masif saat ini bukan lagi percetakan konvensional, melainkan industri packaging (kemasan), labeling (label), dan percetakan penunjang kebutuhan e-commerce.
"SPE bukan lagi sekadar tempat transaksi mesin, melainkan ruang solusi agar industri kita lebih efisien, hemat energi, minim limbah, namun produktivitasnya berlipat ganda," kata Ahmad.
Senada dengan hal itu, Ketua DPD PPGI Jatim, Iwan Damar Suprihatono, menegaskan bahwa digitalisasi tidak membunuh industri percetakan, melainkan menggeser bentuk kebutuhannya. Permintaan terhadap kemasan premium, produk promosi personal, digital printing, hingga 3D printing justru melonjak tajam.
"Industri percetakan tidak kehilangan masa depan. Sebaliknya, industri ini sedang menjemput masa depan baru lewat perkawinan kreativitas dan teknologi," tegas Iwan.
Editor : Arif Ardliyanto