Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Usia Bertambah, Fungsi Tubuh Menurun? Ini Cara Klinik di Surabaya Mencegahnya Sejak Dini
Advertisement . Scroll to see content

Angka Kematian Ibu Masih Jadi Ancaman, Kemendagri Instruksikan Daerah Bergerak Cepat

Sabtu, 25 Juli 2026 | 11:42 WIB
  • author Hendro Djatmiko
Angka Kematian Ibu Masih Jadi Ancaman, Kemendagri Instruksikan Daerah Bergerak Cepat
Kemendagri mendorong pemerintah daerah memperkuat koordinasi lintas sektor untuk menekan angka kematian ibu di Jawa Timur demi mencapai target SDGs 2030. Foto iNewsSurabaya.id/hendro

Ia mengungkapkan, hasil evaluasi Kemendagri menunjukkan masih terdapat sejumlah kendala yang memperlambat penurunan AKI. Mulai dari lemahnya koordinasi antarorganisasi perangkat daerah (OPD), perencanaan yang belum terintegrasi, keterbatasan anggaran, hingga kapasitas sumber daya manusia yang masih perlu diperkuat.

Menurutnya, persoalan kematian ibu tidak bisa ditangani oleh satu instansi saja. Diperlukan kolaborasi lintas sektor agar seluruh program berjalan selaras.

Untuk mempercepat pencapaian target tersebut, Kemendagri mendorong pemerintah daerah menjalankan lima langkah strategis, yakni memperkuat koordinasi lintas sektor, meningkatkan sinergi antar-OPD tanpa ego sektoral, mengintegrasikan program kesehatan reproduksi ke dalam dokumen perencanaan dan penganggaran daerah, memperluas pertukaran praktik baik antarwilayah, serta memperkuat peran pemerintah provinsi dalam membina kabupaten dan kota.

Sebagai landasan, Kemendagri telah menerbitkan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 400.5/4591/SJ tentang penyelenggaraan upaya kesehatan reproduksi guna mendukung percepatan penurunan AKI.

Selain itu, melalui Surat Menteri Dalam Negeri Nomor 400.9.5/4860/Bangda tertanggal 18 Juni 2026, seluruh pemerintah daerah didorong membentuk Tim Koordinasi Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu yang ditetapkan melalui keputusan kepala daerah.

Sementara itu, Direktur Bina Kesehatan Reproduksi Kemendukbangga/BKKBN, dr. Ruri Mutia Ichwan, menilai kader pendamping keluarga memiliki peran vital dalam mendeteksi risiko kehamilan sejak dini.

Menurutnya, keberadaan kader yang dekat dengan masyarakat memungkinkan potensi komplikasi kehamilan diketahui lebih cepat sehingga ibu hamil segera mendapatkan pendampingan dan layanan kesehatan yang dibutuhkan.

"Deteksi dini menjadi bagian penting untuk mencegah risiko kehamilan berkembang menjadi kondisi yang membahayakan ibu maupun bayi," jelasnya.

Kemendukbangga/BKKBN juga terus mendorong integrasi program penyiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja, keluarga berencana, kesehatan reproduksi, hingga pemenuhan gizi bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

Pemerintah menilai seluruh rangkaian tersebut harus dilakukan secara terpadu, mulai dari edukasi masyarakat, perencanaan keluarga, pemenuhan gizi, deteksi dini, hingga akses layanan kesehatan yang berkualitas.

Talkshow ini turut dihadiri perwakilan Kementerian Kesehatan, Bappeda Provinsi Jawa Timur, BKKBN Jawa Timur, serta sejumlah organisasi perangkat daerah dari berbagai provinsi dan kabupaten/kota.

Melalui forum tersebut, pemerintah kembali menegaskan bahwa keberhasilan menekan angka kematian ibu bukan sekadar memenuhi target nasional. Lebih dari itu, setiap ibu yang berhasil diselamatkan berarti menjaga keutuhan keluarga dan memastikan anak-anak tetap memiliki kesempatan tumbuh bersama sosok ibu. Dengan sinergi lintas sektor yang kuat, diharapkan tidak ada lagi ibu yang kehilangan nyawa akibat terlambat memperoleh pertolongan medis.

Editor: Arif Ardliyanto

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut