get app
inews
Aa Text
Read Next : Kinerja Semester I 2026 Holding BUMN Jasa Survei Lampaui Target, Ini Pendorongnya

Ritel Jatim Masih Tumbuh, APPBI Sebut Konsumen Kini Lebih Selektif Berbelanja

Rabu, 05 Agustus 2026 | 20:41 WIB
header img
Keramaian pengunjung di salah satu gerai di Tunjungan Plaza. (Foto : tangkapan layar akun instagram @tunjungan_plaza).

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Kinerja sektor ritel di Jawa Timur (Jatim) sepanjang semester I 2026 masih menunjukkan tren positif

Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Jatim mencatat pertumbuhan penjualan tenant mencapai 8-9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Ketua APPBI Jatim, Sutandi Purnomosidi, mengatakan pertumbuhan tersebut menjadi indikator bahwa aktivitas konsumsi masyarakat masih cukup kuat meski di tengah berbagai tantangan ekonomi.

"Kinerja ritel semester I, Januari sampai Juni, masih sangat positif. Penjualan tenant juga tumbuh sekitar 8-9 persen dibandingkan tahun sebelumnya," kata Sutandi, Rabu (5/8/2026).

Menurutnya, tren positif tersebut masih berlanjut hingga Juli dan awal Agustus 2026. Hal itu terlihat dari tingginya kunjungan masyarakat ke sejumlah pusat perbelanjaan di Surabaya.

Sebagai contoh, pada akhir pekan 1-2 Agustus, jumlah kendaraan yang masuk ke Pakuwon Mall mencapai lebih dari 19.000 unit dalam sehari. Sementara Tunjungan Plaza mencatat sekitar 13.500 kendaraan pada hari yang sama.

"Weekend kemarin dibandingkan akhir pekan sebelumnya naik sekitar 10 persen. Artinya, sampai hari ini kondisi ritel masih sangat bagus," ujarnya.

Sutandi juga mengungkapkan sejumlah peritel besar seperti MAP dan Erajaya masih terus mencatat pertumbuhan bisnis sekaligus melakukan ekspansi dengan membuka gerai baru.

Bahkan, menurutnya, sejumlah merek internasional juga mulai masuk ke Indonesia, termasuk brand fesyen asal Korea Selatan, Musinsa, yang tengah mencari lokasi toko berukuran 1.000 hingga 1.500 meter persegi.

"Mereka masih melihat Indonesia sebagai pasar yang sangat menjanjikan untuk investasi jangka panjang karena jumlah penduduk usia produktifnya sangat besar," katanya.

Sementara itu, di tengah isu pelemahan daya beli masyarakat, Sutandi menilai yang terjadi bukan penurunan konsumsi secara menyeluruh, melainkan pergeseran pola belanja.

Menurutnya, kelompok masyarakat menengah atas masih berbelanja di restoran premium. Sementara kelompok menengah mulai beralih ke tempat makan atau kafe dengan harga lebih terjangkau.

"Orang masih spending, tetapi ada pergeseran. Yang bergeser adalah kelas menengah, mereka lebih memilih restoran yang lebih murah atau sekadar ngopi," jelasnya.

Ia juga melihat perubahan gaya hidup generasi muda turut mendorong konsumsi di sektor ritel.

"Gen Z sekarang lebih berani membelanjakan uang untuk gaya hidup. Mereka cenderung memilih menikmati pengalaman, nongkrong di kafe, berolahraga, dan menerapkan healthy lifestyle dibanding membeli rumah di usia muda," ujarnya.

Meski optimistis terhadap prospek ritel, Sutandi memperkirakan pertumbuhan pada semester II akan melambat. Menurutnya, kondisi tersebut merupakan siklus tahunan industri ritel.

"Kalau mulai Agustus biasanya memang melambat. September dan Oktober juga cenderung turun, lalu mulai naik lagi pada November dan Desember," katanya.

Ia menambahkan, perlambatan tersebut berpotensi semakin terasa apabila pemerintah tetap melakukan pengetatan anggaran.

"Kalau siklus ritel memang sedang melambat lalu ditambah pengetatan anggaran, tentu efeknya bisa menjadi ganda. Namun itu memang sudah menjadi pola yang terjadi hampir setiap tahun," ujarnya.

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut