Pernah Tinggal di Surabaya Sejak 1990-an, Ahmad Dhani Ungkap Perubahan Kota yang Bikin Kaget
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Surabaya ternyata menyimpan perubahan besar yang dirasakan langsung oleh Ahmad Dhani. Musisi legendaris sekaligus Anggota Komisi X DPR RI itu mengaku melihat sendiri bagaimana wajah Kota Pahlawan berubah sejak awal 1990-an hingga sekarang.
Perubahan tersebut disampaikan Ahmad Dhani saat berkunjung ke Gedung DPRD Kota Surabaya. Dalam kesempatan itu, Dhani menjadi narasumber dalam bincang santai bersama Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kota Surabaya sekaligus Ketua Pokja Judes Indonesia, Inyong Maulana.
Perbincangan tersebut tidak hanya membahas pembangunan kota. Perubahan sosial, budaya, karakter warga hingga bagaimana Surabaya membangun identitas di tengah persaingan dengan kota-kota besar lainnya turut menjadi perhatian.
Dhani yang mulai meniti karier musik sejak awal 1990-an mengaku memiliki cukup banyak pengalaman untuk membandingkan Surabaya masa lalu dengan kondisi kota saat ini.
Menurutnya, perkembangan Surabaya dalam kurun waktu lebih dari tiga dekade terlihat sangat signifikan. Kawasan yang dahulu masih kosong kini berubah menjadi bagian dari kawasan perkotaan dengan berbagai bangunan dan fasilitas.
“Surabaya itu tidak kalah maju. Banyak daerah yang dulu kosong, tiba-tiba sekarang menjadi sebuah kota yang maju, penuh dengan gedung-gedung,” ujar Dhani.
Bagi Ahmad Dhani, perubahan Surabaya tidak sebatas pembangunan fisik. Citra masyarakat Surabaya di mata orang luar daerah juga ikut berubah.
Dia mengenang bagaimana warga Surabaya, khususnya generasi muda, dahulu kerap mendapat pandangan berbeda ketika berada di luar daerah. Namun, kondisi tersebut menurutnya kini sudah berubah.
“Dulu ada semacam anggapan bahwa anak Surabaya itu anak daerah. Sekarang mungkin tidak seperti itu. Surabaya sudah menjadi identitas yang menarik,” katanya.
Dhani bahkan menilai karakter khas masyarakat Surabaya yang tetap lekat dengan budaya Jawa justru menjadi daya tarik tersendiri.
Ia menyampaikannya dengan gaya khas dan disambut tawa peserta diskusi.
“Dulu kalau ada perempuan Surabaya yang cantik tetapi logatnya Jawa, cowok-cowok Jakarta bisa mundur. Sekarang malah rebutan. Sekarang itu menjadi menarik,” ujarnya.
Perubahan tersebut, kata Dhani, menunjukkan bahwa identitas lokal tidak selalu menjadi penghalang untuk berkembang. Sebaliknya, karakter daerah justru dapat menjadi kekuatan ketika sebuah kota semakin dikenal luas.
Sebut Era Risma, Ahmad Dhani: Surabaya Dulu Panas
Dalam perbincangan tersebut, Ahmad Dhani juga memberikan apresiasi kepada sejumlah kepala daerah yang dinilainya ikut mendorong perubahan Surabaya.
Salah satu periode yang mendapat sorotan adalah ketika Tri Rismaharini menjabat sebagai wali kota Surabaya.
Menurut Dhani, perubahan lingkungan dan wajah kota pada masa tersebut cukup terasa dibandingkan Surabaya yang dia kenal ketika masih aktif membangun karier musik.
“Saya harus mengakui bahwa Kota Surabaya ketika Bu Risma menjadi wali kota mengalami perubahan yang nyata. Dulu Surabaya itu panas. Zaman saya memang panas. Sekarang jauh berbeda,” kata Dhani.
Perubahan itu, menurutnya, bahkan tidak hanya dirasakan warga Surabaya. Sejumlah rekannya yang baru pertama kali datang ke Kota Pahlawan juga memberikan respons positif.
“Beberapa teman saya yang belum pernah ke Surabaya, ketika pertama kali datang ke Surabaya, suka. Mereka bilang, ‘Ini memang Surabaya sekarang jauh berbeda dengan Surabaya di zaman saya’,” tuturnya.
Pembangunan Surabaya Jangan Tinggalkan Seni dan Budaya
Meski mengapresiasi perkembangan Kota Surabaya, Dhani mengingatkan agar pembangunan tidak hanya berorientasi pada infrastruktur.
Menurutnya, kota yang berkembang juga membutuhkan ruang bagi seni, musik dan kreativitas anak muda. Infrastruktur yang semakin modern harus berjalan beriringan dengan kehidupan seni dan kebudayaan.
“Saya berharap fasilitas-fasilitas untuk dunia seni, musik, dan budaya tetap ada. Jangan sampai pembangunan kota justru membuat ruang kreativitas semakin jauh,” tegasnya.
Bagi Dhani, keberadaan ruang kreativitas penting untuk menjaga karakter sebuah kota. Surabaya tidak cukup hanya dikenal sebagai kota modern dan hijau, tetapi juga harus memiliki identitas budaya yang kuat.
Warga Surabaya Dinilai Berani dan Terbuka Mengkritik
Dhani juga menyoroti karakter masyarakat Surabaya. Salah satu hal yang menurutnya menjadi kelebihan warga Kota Pahlawan adalah keberanian menyampaikan kritik dan saran secara langsung.
Sikap tersebut dinilai menjadi modal penting dalam mengawal pembangunan kota agar tetap berjalan sesuai kebutuhan masyarakat.
“Kalau mengkritisi dan menyampaikan saran, mereka selalu to the point. Tidak bela-bela atau bagaimana. Saya yakin ini juga menjadi nilai tambah,” ujar Dhani.
Kunjungan Ahmad Dhani ke DPRD Surabaya akhirnya tidak hanya menjadi forum membicarakan pembangunan kota. Diskusi tersebut juga mempertemukan pengalaman seorang musisi yang tumbuh dari Surabaya dengan perspektif politik dan kebudayaan.
Dhani mengakui, perjalanan dari Surabaya menuju Jakarta untuk membangun karier musik merupakan keputusan yang membutuhkan keberanian. Begitu pula ketika dirinya kemudian memilih terjun ke dunia politik.
“Saya dari Surabaya, bermain musik di Jakarta, itu sudah sesuatu yang nekat. Kemudian masuk ke bidang politik juga nekat,” katanya.
Kini, setelah melihat Surabaya berubah selama lebih dari 30 tahun, Dhani berharap perkembangan Kota Pahlawan tetap mempertahankan karakter lokal.
Menurutnya, Surabaya perlu terus memperkuat citranya sebagai kota modern dan hijau tanpa meninggalkan seni, budaya serta ruang kreativitas masyarakat.
Dengan begitu, kemajuan Surabaya tidak hanya terlihat dari gedung dan infrastrukturnya, tetapi juga dari identitas serta karakter masyarakat yang tumbuh di dalamnya.
Editor : Arif Ardliyanto