Hidroponik Canggih Masuk Desa, Warga Mondoluku Bisa Pantau Nutrisi Tanaman Pakai IoT
Menariknya, pengembangan hidroponik di Desa Mondoluku juga dipadukan dengan teknologi Internet of Things (IoT). Teknologi ini diperkenalkan untuk membantu anggota PKK memantau kondisi air dan larutan nutrisi secara lebih terukur.
Beberapa parameter yang dapat dipantau antara lain pH air, TDS (Total Dissolved Solids), suhu, dan EC (Electrical Conductivity).
Data hasil pemantauan dapat dikirim melalui jaringan Wi-Fi sehingga kondisi sistem hidroponik bisa diketahui dengan lebih mudah. Dengan cara tersebut, perawatan tanaman tidak hanya mengandalkan perkiraan, tetapi dapat dilakukan berdasarkan kondisi yang terukur.
“Teknologi IoT ini kami kenalkan agar proses budidaya dapat dilakukan dengan lebih terukur. Mitra dapat mengetahui kondisi air dan nutrisi secara lebih mudah sehingga apabila terjadi perubahan yang berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman, dapat segera dilakukan tindakan,” jelas Andri.
Pendampingan juga menyasar tahap setelah tanaman dipanen. Anggota PKK mendapatkan pelatihan mengenai sortasi, pengemasan, dan penyimpanan sederhana agar kualitas hasil budidaya tetap terjaga sebelum sampai ke konsumen.
Tim PKM UWP turut memberikan timbangan digital untuk membantu kelompok mengetahui jumlah hasil produksi secara lebih akurat.
Data tersebut nantinya dapat digunakan sebagai bagian dari pencatatan usaha, sehingga kelompok memiliki gambaran mengenai volume produksi yang dihasilkan dari kegiatan hidroponik.
Pengelolaan pascapanen menjadi bagian penting karena kualitas dan tampilan produk turut menentukan nilai jual. Produk yang disortir dan dikemas dengan baik diharapkan memiliki daya tarik lebih tinggi bagi konsumen.
Aspek pengembangan usaha juga tidak luput dari perhatian. Tim PKM UWP memberikan pendampingan mengenai manajemen dan kelembagaan kelompok.
Anggota PKK diperkenalkan dengan pembukuan sederhana untuk mencatat hasil produksi, biaya operasional, pemasukan hingga pengeluaran.
Pencatatan tersebut diharapkan membuat kelompok lebih mudah mengevaluasi perkembangan usaha dan menentukan langkah pengembangan hidroponik pada tahap berikutnya.
Limbah Hidroponik Diolah Menjadi Pupuk Organik
Konsep pertanian terpadu yang dikembangkan juga menempatkan pengelolaan limbah sebagai salah satu bagian penting.
Sisa hasil budidaya yang berpotensi menjadi limbah diarahkan untuk dimanfaatkan kembali sebagai bahan pupuk organik. Untuk menunjang proses tersebut, Tim PKM UWP menyediakan mesin pencacah bahan organik.
Pengolahan ini diharapkan mampu mengurangi limbah sekaligus menciptakan siklus produksi yang lebih ramah lingkungan.
Dengan konsep pertanian terpadu, hasil samping dari satu proses tidak langsung dibuang, tetapi dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung proses lainnya.
PKK Mondoluku Sambut Positif Pendampingan
Ketua PKK Desa Mondoluku, Suyati, menyambut positif program yang diberikan Tim PKM UWP. Menurutnya, pendampingan tersebut memberikan pengalaman baru bagi anggota PKK, terutama dalam memanfaatkan teknologi untuk kegiatan pertanian.
“Kami sangat berterima kasih kepada Tim PKM UWP karena telah memberikan pelatihan dan pendampingan secara langsung. Kami mendapatkan banyak pengetahuan baru, mulai dari cara menanam hidroponik, pemberian nutrisi, perawatan, sampai penanganan hasil panen,” ungkap Suyati.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti setelah program pendampingan selesai, tetapi dapat terus dikembangkan sehingga memberikan manfaat bagi PKK dan masyarakat Desa Mondoluku.
Dukungan juga datang dari Kepala Desa Mondoluku, Supardi. Ia menilai hidroponik dapat menjadi alternatif pengembangan pertanian karena tidak membutuhkan lahan yang luas.
“Hidroponik menjadi salah satu alternatif yang menarik untuk dikembangkan karena dapat dilakukan dengan lahan yang relatif terbatas,” kata Supardi.
Ia berharap fasilitas dan pengetahuan yang telah diberikan dapat dimanfaatkan PKK untuk menghasilkan pangan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Target Akhir: PKK Produktif dan Mandiri
Program pendampingan ini pada akhirnya tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan tanaman hidroponik. Lebih jauh, UWP ingin membangun kemampuan kelompok agar mampu mengelola kegiatan tersebut secara mandiri.
Mulai dari budidaya, pemanfaatan IoT, pengelolaan pascapanen, pembukuan usaha hingga pengolahan limbah, seluruh rangkaian kegiatan dirancang untuk membentuk ekosistem pertanian yang produktif dan berkelanjutan.
Andri menegaskan, keberhasilan program tidak cukup hanya dilihat dari tersedianya instalasi hidroponik.
“Target akhirnya adalah tumbuhnya kemandirian kelompok, baik dalam memenuhi kebutuhan pangan maupun dalam mengembangkan usaha yang memiliki nilai ekonomi,” pungkasnya.
Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa dan PKK diharapkan mampu menjadikan Desa Mondoluku memiliki model pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan. Hidroponik pun diharapkan tidak sekadar menjadi metode bercocok tanam, tetapi berkembang menjadi bagian dari upaya desa memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi masyarakat.
Editor : Arif Ardliyanto