get app
inews
Aa Text
Read Next : Sukses Tekan Bansos Salah Sasaran, Uji Coba Perlinsos Digital di Surabaya Hampir 100 Persen

Sempat Ada Kerusuhan di Surabaya, Puluhan Pelajar Kini Dibentuk Jadi Kader Anti Kenakalan Remaja

Rabu, 19 Agustus 2026 | 17:22 WIB
header img
Puluhan pelajar SMA di Surabaya dibentuk menjadi kader anti kenakalan remaja. Mereka diajak menjadi penggerak, melawan narasi negatif, dan bijak bermedia sosial. Foto iNewsSurabaya.id/fahrezi

Arif mengajak para pelajar mengubah cara pandang terhadap remaja. Menurut dia, generasi muda seharusnya tidak selalu ditempatkan sebagai sumber persoalan, tetapi justru dapat menjadi bagian dari solusi atas berbagai masalah sosial.

Kemampuan berpikir kritis, memahami persoalan dari berbagai sudut pandang, serta berani menyampaikan gagasan dinilai menjadi modal penting bagi para kader.

Ia juga mengingatkan pelajar agar tidak mudah memberikan stigma kepada kelompok tertentu hanya karena tindakan sejumlah individu.

Salah satu contoh yang disampaikan adalah keberadaan perguruan pencak silat yang terkadang mendapat pandangan negatif akibat tindakan oknum tertentu.

Menurut Arif, pemberitaan mengenai tindakan individu harus tetap memperhatikan konteks agar kesalahan seseorang tidak kemudian digeneralisasi kepada seluruh kelompok.

Padahal, perguruan pencak silat juga dapat menjadi ruang bagi anak muda untuk menyalurkan energi secara positif, membangun kedisiplinan, sekaligus mengejar prestasi.

Lawan Narasi Negatif dengan Konten Positif

Menghadapi persoalan sosial, kata Arif, tidak selalu harus menggunakan kekerasan. Para pelajar justru perlu memiliki kemampuan berkomunikasi dan menyampaikan pandangan secara positif.

“Kita harus mampu melawan secara opini, opini lawan opini. Kalau dilawan dengan kekerasan pasti kalah, itu teori komunikasi,” ujarnya.

Karena itu, para kader didorong menjadi anak muda yang mampu meredam persoalan, bukan memperbesar konflik.

Mereka juga diminta membangun lingkungan pergaulan yang sehat dengan cara mengajak, merangkul, dan memberikan pemahaman kepada teman sebaya.

Arif mengibaratkan pencegahan kenakalan remaja seperti upaya mencegah penularan penyakit. Menurutnya, yang harus dicegah adalah perilaku atau persoalannya, bukan kemudian mengucilkan orang yang sedang menghadapi masalah.

Pendekatan tersebut dinilai penting agar edukasi kepada remaja tidak berhenti pada larangan, tetapi juga membangun empati dan kesadaran.

“Coba posisikan posisi teman-teman dalam posisi tengah. Harus mampu membangkitkan pemikiran itu secara bersama-sama,” tuturnya.

Kader Bukan Polisi

Arif juga memberikan penekanan khusus mengenai posisi para pelajar yang telah ditunjuk sebagai kader anti kenakalan remaja.

Menurutnya, kader tidak memiliki tugas untuk bertindak seperti aparat penegak hukum. Mereka merupakan penggerak di lingkungan sebaya yang memiliki tugas mengajak dan merangkul.

“Ingat, kalian itu kader, penggerak, bukan polisi. Kader itu harus punya daya tahan yang luar biasa,” tegasnya.

Karena itu, para kader diharapkan memiliki kemampuan berpikir kritis, tidak mudah percaya terhadap informasi viral, memiliki empati, mampu merangkul teman, serta dapat menjadi penengah ketika muncul persoalan di lingkungan pergaulan.

Pelajar Diajak Manfaatkan Media Sosial

Peran kader juga diarahkan ke ruang digital. Para pelajar didorong menggunakan media sosial bukan hanya untuk mengikuti tren, tetapi juga menghasilkan konten yang memberikan manfaat.

Arif mengajak para peserta mulai membuat konten edukasi yang dekat dengan kehidupan remaja sehingga lebih mudah diterima oleh teman sebaya.

Materi ditutup dengan ajakan membuat konten bertajuk “17 Konten untuk 17 Langkah Kebaikan”. Dalam sesi tersebut, peserta mendapatkan sejumlah tips membuat konten edukatif yang menarik sekaligus berpotensi menjangkau lebih banyak pengguna media sosial.

Melalui pembentukan kader ini, Pemkot Surabaya berharap pelajar tidak hanya memahami bahaya kenakalan remaja. Lebih dari itu, mereka diharapkan mampu menjadi penggerak di lingkungannya masing-masing.

Para kader diharapkan dapat membangun budaya pergaulan yang sehat, bertanggung jawab, saling menghargai, serta berani mengajak teman sebaya menjauhi berbagai perilaku negatif.

Dengan melibatkan pelajar secara langsung, upaya pencegahan kenakalan remaja di Surabaya tidak hanya mengandalkan pendekatan penindakan, tetapi juga menguatkan edukasi, komunikasi, dan peran anak muda sebagai bagian dari solusi.

Penulis: 

Nikmatul Karomah, Mahasiswa Magang Unesa Surabaya

 

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut