get app
inews
Aa Text
Read Next : Pendampingan Bisnis Berbasis Digital Bantu UMKM Tingkatkan Daya Saing

Rumah Seken Jadi Penyelamat Pasar Properti Surabaya, Permintaan Tetap Tinggi

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:36 WIB
header img
Permintaan hunian Surabaya tetap kuat, rumah seken menjadi pilihan konsumen. (Foto : Lukman Hakim).

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) BCA di Surabaya menunjukkan pertumbuhan di tengah kondisi pasar properti yang masih menghadapi tantangan

Hingga Agustus 2026, pertumbuhan new booking KPR BCA Surabaya tercatat sekitar 10 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Vice President Consumer Loan BCA Surabaya, Meliani Tjondro, mengatakan pertumbuhan tersebut menunjukkan masih adanya permintaan masyarakat terhadap pembiayaan rumah, meski kondisi sektor properti belum sepenuhnya pulih.

“Kalau new booking, puji Tuhan kami ada kenaikan dibandingkan tahun lalu. Dengan kondisi seperti ini kami masih dapat berkatnya. Kurang lebih kenaikan sekitar 10 persen,” ujar Meliani, Kamis (20/8/2026).

Menurut dia, angka pertumbuhan new booking lebih tepat digunakan untuk melihat perkembangan permintaan KPR dibandingkan pertumbuhan kredit secara keseluruhan. 

Pasalnya, pertumbuhan kredit dapat dipengaruhi oleh pelunasan atau run off yang terjadi karena berbagai faktor, termasuk kondisi kualitas kredit nasabah.

Meliani menjelaskan, KPR BCA mencakup pembiayaan pembelian rumah baru (primary), rumah bekas (secondary), serta refinancing. 

Dari sejumlah segmen tersebut, perlambatan aktivitas pengembang menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pembelian rumah di pasar primer.

“Pembelian di primary ini terasa karena developer belum melakukan launching secara besar-besaran. Otomatis kami juga terdampak akibat perlambatan dari developer tersebut,” katanya.

Namun, permintaan terhadap rumah di pasar sekunder masih relatif berjalan. Begitu pula dengan kebutuhan refinancing yang masih muncul dari masyarakat.

Menurut Meliani, konsumen saat ini tidak semata-mata mempertimbangkan tingkat suku bunga terendah ketika memilih pembiayaan KPR. Di tengah ketidakpastian ekonomi, sebagian nasabah justru mencari kepastian dan stabilitas cicilan.

“Ketika kami gali, mereka merasa nyaman. Meskipun mungkin sekarang sounding-nya BCA bukan yang terendah, tetapi apa yang menjadi komitmen kami yang kami sampaikan kepada masyarakat dan nasabah, mereka bisa pegang,” ujarnya.

Ia mengatakan kebutuhan konsumen terhadap kepastian tersebut juga menjadi pertimbangan BCA dalam menyiapkan program KPR baru. Program tersebut akan menawarkan skema suku bunga khusus yang rencananya diumumkan dalam waktu dekat.

Meliani belum merinci skema program tersebut. Namun, ia mengatakan program baru itu disiapkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang menginginkan kepastian dalam membayar cicilan di tengah kondisi yang penuh ketidakpastian.

“Intinya masyarakat dalam kondisi seperti ini membutuhkan stabil. Kalau saya mencicil, jangan sampai ada apa-apa,” katanya.

Meliani juga menilai kondisi kredit saat ini membutuhkan pendekatan yang lebih adaptif dari perbankan. Menurutnya, tidak semua pengajuan kredit dapat dinilai hanya berdasarkan indikator konvensional.

“Kalau dibilang semua aplikasi sekarang bagus, susah. Dari mungkin 10 aplikasi, belum tentu satu aplikasi semuanya lancar. Dengan kondisi saat ini banyak permasalahan setiap nasabah,” ujarnya.

Karena itu, menurut Meliani, perbankan perlu menggali lebih jauh kondisi calon debitur untuk menentukan apakah suatu persoalan masih dapat dimitigasi atau dicarikan solusi.

“Tugas kami adalah bagaimana perbankan ini support untuk roda perekonomian dengan cara menggali. Kalau ada kondisi yang perlu menjadi perhatian, apakah kondisi tersebut bisa kami mitigasi atau memberikan solusi terbaik,” katanya.

Ia menilai pendekatan tersebut semakin penting setelah pandemi Covid-19 mengubah kondisi ekonomi dan pola kehidupan masyarakat.

“Tidak bisa seperti dulu kalau kita ngomong satu tambah satu sama dengan dua. BI checking jelek berarti tidak bisa. Tidak bisa seperti itu, karena fenomenanya sudah berubah. Covid mengubah semuanya,” tutur Meliani.

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut