Siswa SMA Surabaya Ini Bikin Karya dari Daun, Hasilnya Bisa Jadi Baju hingga Tote Bag untuk Dijual
SMA IPIEMS Surabaya tidak ingin kegiatan ecoprint berhenti sebagai praktik sesaat. Sekolah telah menyiapkannya sebagai salah satu bagian dari pembelajaran mendalam yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
Bahkan, ecoprint nantinya diarahkan agar memiliki sisi kewirausahaan. Produk yang dibuat siswa diharapkan dapat dikembangkan menjadi barang yang mempunyai nilai jual.
“Nanti keberlanjutannya akan dijadikan sebuah usaha, termasuk melalui ekskul anak-anak. Karena kami bekerja sama dengan Dekranasda, produk-produk anak-anak tentang ecoprint ini nantinya akan ditampung oleh Dekranasda,” kata Sukariono.
Konsep tersebut membuka ruang bagi siswa untuk belajar lebih jauh. Mereka tidak hanya dituntut menghasilkan karya, tetapi juga memahami bagaimana sebuah produk kreatif dapat dikembangkan hingga memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.
Pembelajaran semacam ini juga diharapkan dapat mempertemukan tiga hal sekaligus, yakni kepedulian lingkungan, kreativitas, dan keterampilan kewirausahaan.
Kegiatan ecoprint mendapat respons positif dari siswa. Salah satunya Aulia Jasmine Nabila Syifa, siswa kelas 11-1 SMA IPIEMS Surabaya.
Aulia mengaku senang karena bisa merasakan langsung proses pembuatan ecoprint. Ia sebelumnya sudah mengenal ecoprint saat masih duduk di bangku SMP, tetapi kala itu pembelajaran hanya sebatas materi.
“Saya senang sekolah bisa mengadakan acara seperti ini. Ini sebenarnya acara yang saya tunggu-tunggu sejak SMP. Dulu di SMP ecoprint hanya menjadi materi dan tidak ada praktiknya. Jadi saya senang di SMA ini bisa langsung praktik,” ujar Aulia.
Menurut Aulia, praktik langsung membuat dirinya memahami bahwa menghasilkan motif alami pada kain membutuhkan ketelitian. Ada sejumlah tahapan yang sebelumnya tidak ia bayangkan.
“Pengalaman saya tadi seru. Ada pengalaman baru seperti mencuci menggunakan air tawas dan bahan lainnya. Ternyata membuat pola untuk ecoprint tidak semudah yang dibayangkan,” ungkapnya.
Dari praktik tersebut, Aulia melihat ecoprint bukan sekadar kegiatan membuat kain bermotif. Kreativitas dalam memilih bahan, menentukan pola, hingga proses pengerjaan ikut menentukan hasil akhir.
Ia berharap kain yang dihasilkan dalam kegiatan tersebut dapat dikembangkan menjadi berbagai produk yang lebih fungsional.
“Harapan saya, kain ini bisa diolah menjadi baju atau merchandise seperti tote bag,” katanya.
SMA IPIEMS Siapkan Sharing Session Isu Global
Penguatan wawasan lingkungan di SMA IPIEMS Surabaya juga tidak berhenti pada kegiatan ecoprint.
Sekolah berencana kembali menggandeng ITS pada September mendatang melalui sharing session mengenai isu global. Agenda tersebut direncanakan menghadirkan mahasiswa dari Malaysia dan Jepang.
“Kami berharap kegiatan tersebut bisa terlaksana pada September. Ini menjadi bagian dari program untuk memperkenalkan anak-anak pada isu lingkungan dan isu global secara lebih luas,” tutur Sukariono.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, siswa diharapkan tidak hanya mengenal persoalan lingkungan dari sisi lokal. Mereka juga mulai diperkenalkan dengan isu global dan berbagai perspektif dari generasi muda di negara lain.
Bangun Kesadaran Lingkungan dari Sekolah
Sukariono berharap pembelajaran berbasis lingkungan dapat membentuk siswa yang memiliki kepedulian sekaligus kemampuan berpikir kritis.
“Harapan ke depan anak-anak SMA IPIEMS, generasi muda ini punya pemikiran kritis dan punya kesadaran tentang isu-isu lingkungan,” ujarnya.
Bagi SMA IPIEMS Surabaya, ecoprint menjadi salah satu contoh bahwa pembelajaran lingkungan bisa dikemas melalui aktivitas kreatif. Siswa diajak melihat potensi bahan alami sekaligus memahami bahwa menjaga lingkungan dapat dilakukan melalui tindakan sederhana.
Semangat tersebut kemudian dirangkum sekolah melalui jargon “Cantik dari Bumi, Menumbuhkan Kreativitas Tinggi.”
Melalui kegiatan ecoprint, SMA IPIEMS Surabaya berupaya menjadikan isu perubahan iklim dan lingkungan lebih dekat dengan kehidupan siswa. Dari bahan alami menjadi motif kain, dari praktik sederhana berkembang menjadi kreativitas, hingga membuka peluang bagi siswa mengenal dunia usaha sejak di bangku sekolah.
Editor : Arif Ardliyanto