Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Hebat! Siswa Jawa Timur Kuasai FIKSI 2025 dengan 11 Medali, Dua di Antaranya Emas
Advertisement . Scroll to see content

58 Pelajar Jatim Jadi Diplomat PBB, Diuji Negosiasi hingga Susun Resolusi PBB Mirip Aslinya

Senin, 24 Agustus 2026 | 05:13 WIB
  • author Hendro Djatmiko
58 Pelajar Jatim Jadi Diplomat PBB, Diuji Negosiasi hingga Susun Resolusi PBB Mirip Aslinya
Sebanyak 58 pelajar dari berbagai daerah di Jawa Timur menjajal peran sebagai diplomat dalam Model United Nations (MUN) di Surabaya, dari debat hingga negosiasi. Foto iNewsSurabaya.id/hendro

Menurut Kezia, pembelajaran tidak hanya didapatkan peserta. Panitia juga memperoleh pengalaman dalam mengelola sebuah konferensi, mulai dari menyusun agenda hingga memastikan seluruh rangkaian persidangan berjalan sesuai rencana.

Bukan Sekadar Belajar Bahasa Inggris

English Teacher MYP Grade 7–9 sekaligus Supervisor Acara Cita Hati West Model United Nations, Yuditha Putri, M.Pd., melihat MUN sebagai metode pembelajaran yang membuat siswa berhadapan langsung dengan persoalan dan situasi yang menyerupai dunia nyata.

“Melalui MUN, siswa mendapatkan pengalaman untuk menggunakan kemampuan bahasa Inggris, berpikir kritis, berkomunikasi, bernegosiasi, sekaligus memahami isu-isu global. Mereka belajar bukan hanya dari materi yang diberikan guru, tetapi juga dari interaksi dan proses menemukan solusi bersama,” kata Yuditha.

Menurutnya, pengalaman tersebut membentuk kemampuan yang tidak bisa diperoleh hanya melalui pembelajaran di kelas. Siswa harus berani menyampaikan pendapat sekaligus belajar menerima pandangan yang berbeda.

“Yang ingin kami bangun adalah keberanian siswa untuk menyampaikan gagasan, tetapi tetap memiliki kemampuan untuk menghargai pendapat yang berbeda. Dalam diplomasi, kita tidak bisa hanya berbicara. Kita juga harus mampu mendengarkan, memahami kepentingan pihak lain, kemudian mencari jalan tengah,” tuturnya.

Kepala Sekolah Cita Hati Citraland Campus, Robin Simon, menambahkan bahwa MUN memberikan pengalaman belajar yang berkaitan erat dengan persoalan kehidupan sehari-hari.

“Dalam MUN, siswa tidak hanya belajar menyampaikan pendapat, tetapi juga belajar mendengarkan sudut pandang yang berbeda, melakukan negosiasi, dan mencari solusi yang dapat diterima bersama,” katanya.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pembelajaran tidak selalu harus berlangsung melalui buku atau materi di ruang kelas. Ketika siswa diberi kesempatan menghadapi persoalan, berinteraksi dengan orang lain dan mencari solusi, kemampuan berpikir kritis serta komunikasi ikut terasah.

Pada akhirnya, Model United Nations di Surabaya bukan hanya menghadirkan simulasi sidang internasional. Forum tersebut mengajarkan satu hal penting kepada para pelajar: menyelesaikan masalah tidak selalu ditentukan oleh siapa yang paling keras atau paling kuat berargumentasi.

Terkadang, jalan keluar justru muncul ketika seseorang mau mendengarkan, memahami kepentingan pihak lain, berkompromi dan membangun kesepakatan.

Bagi 58 pelajar yang mengikuti kegiatan tersebut, pengalaman menjadi “diplomat” sehari menjadi latihan menghadapi dunia yang semakin membutuhkan kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, berpikir kritis dan menghargai perbedaan.

Editor: Arif Ardliyanto

Related News

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut