Muktamar NU ke-35 Makin Dekat, Para Kiai Beri Peringatan Keras soal Politik Uang, Ini Poinnya
KH Said Aqil Ingatkan Bahaya Politik Uang
Selain persoalan marwah organisasi, KH Said Aqil secara khusus menyinggung praktik politik uang. Ia meminta agar proses Muktamar NU tidak ditentukan oleh kepentingan materi.
"Jauhkan dari money politik, kita tidak butuh uang, kita tidak butuh dunia, kita tidak takut mati. Insya Allah akan menghasilkan hasil yang sah dan yang baik," tegasnya.
Pesan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam halaqah. Para pengasuh pesantren didorong ikut mengawal proses muktamar bukan hanya secara organisatoris, tetapi juga melalui tanggung jawab moral sebagai ulama.
Dengan pengawalan tersebut, keputusan yang lahir dari Muktamar NU ke-35 diharapkan benar-benar berorientasi pada kepentingan organisasi dan kemaslahatan umat.
KH Said Aqil juga menilai tantangan NU ke depan membutuhkan kekuatan kolektif serta keteguhan dalam mempertahankan prinsip. Karena itu, muktamar diharapkan tidak berhenti pada persoalan pergantian kepemimpinan.
Lebih dari itu, forum tersebut diharapkan mampu melahirkan keputusan strategis untuk memperkuat peran NU dalam membina, mengayomi, dan melindungi umat.
Lima Pokok Pikiran Halaqah Alim Ulama
Halaqah di Pondok Pesantren Al Khoziny diikuti sejumlah ulama dan pengasuh pesantren dari berbagai daerah.
Di antaranya KH R Abdussalam Mujib Buduran, KH Lukman Hafis Dirnyati Tremas, KH Kafabihi Mahrus Lirboyo Kediri, KH Nurul Huda Djazuli Kediri, KH Masnur Hasan Sidoarjo, KH Jami’ Bangil, KH R Abdul Hamid Abdul Qodir Krapyak-Yogyakarta, KH Al Akbar Marbun Medan, serta KH Ubaidillah Shodaqoh Semarang.
Turut hadir KH M. Ali Kholil, KH Nailurrokhman Idris Hamid, KH Makki Nashir Bangkalan, KH Latief Maliq Tambakberas, KH Said Abd. Rokhim Sarang, KH Muhammad bin Abd Abbas, KH Abun Bunyamin, KH Sholeh Bahaudin, KH Zuhri Zaini, KH Ali Maschan Musa Surabaya, KH Ahmad Subakir Kediri, dan KH Abi Dawud Sidoarjo.
Dalam forum itu, para kiai merumuskan sejumlah pokok pikiran sebagai bahan yang diharapkan dapat menjadi landasan dalam pelaksanaan Muktamar NU ke-35.
KH Ali Maschan Musa menyebut terdapat lima poin utama yang menjadi hasil pembahasan para alim ulama.
Pertama, NU ditegaskan tetap menjadi organisasi sosial keagamaan yang berorientasi pada pengabdian kepada umat, bangsa, dan kemaslahatan masyarakat.
Kedua, NU diharapkan konsisten menjalankan fungsi himayatul ummah, yaitu memberikan perlindungan dan pengayoman kepada umat. Keberlangsungan organisasi, tradisi, serta cita-cita perjuangan NU juga harus tetap dijaga.
Ketiga, pesantren ditempatkan sebagai pusat pengembangan tradisi keilmuan NU. Selain menjadi tempat kaderisasi ulama dan pembentukan karakter, pesantren dinilai memiliki peran penting dalam menjaga turats serta nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.
Keempat, kepemimpinan NU ke depan dinilai tidak cukup hanya memiliki kemampuan manajerial. Seorang pemimpin juga diharapkan memiliki landasan spiritual, dekat dengan jamaah, serta mampu menunjukkan keteladanan ulama dan akhlakul karimah.
Kelima, para ulama menekankan penerapan kaidah fikih dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih. Prinsip tersebut menekankan bahwa mencegah kerusakan harus lebih diutamakan daripada mengejar kemaslahatan.
Muktamar NU ke-35 Digelar di Jombang
Muktamar NU ke-35 dijadwalkan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, pada 27–30 Agustus 2026.
Halaqah alim ulama di Sidoarjo menjadi salah satu ruang untuk menyampaikan harapan agar agenda besar tersebut tidak hanya berjalan lancar secara teknis, tetapi juga menghasilkan keputusan yang memperkuat persatuan warga Nahdliyin.
Para kiai berharap Muktamar NU ke-35 dapat menjadi momentum untuk menjaga marwah organisasi sekaligus meneguhkan kembali khittah perjuangan NU di tengah berbagai tantangan yang akan dihadapi pada masa mendatang.
Editor : Arif Ardliyanto