Kecelakaan Kerja Bisa Dicegah Sejak Sekolah, Begini Cara Siswa SMK Kenali Bahaya Saat Bekerja
Dalam kegiatan itu, DK3P Jatim turut menyerahkan sejumlah perlengkapan keselamatan kepada sekolah berupa Alat Pemadam Api Ringan (APAR) dan perlengkapan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K). Bantuan tersebut diserahkan oleh anggota Komisi I DK3P Jatim Karto Tri Sasmito.
Siswa SMK Dinilai Berhadapan dengan Banyak Risiko
Wakil Ketua DK3P Jatim Edi Priyanto menilai pengenalan K3 tidak seharusnya menunggu seseorang mengalami kecelakaan terlebih dahulu.
“Jangan menunggu seseorang mengalami kecelakaan untuk belajar tentang keselamatan. Dan jangan menunggu mereka menjadi pekerja untuk mengenalkan K3. Kalau kesadaran terhadap bahaya dan risiko sudah menjadi kebiasaan sejak sekolah, ketika masuk dunia kerja mereka sudah membawa budaya keselamatan dalam dirinya,” kata Edi.
Menurut dia, kebutuhan edukasi K3 semakin penting bagi siswa SMK. Sebab, kelompok pelajar tersebut relatif lebih dekat dengan aktivitas praktik dan lingkungan industri.
Siswa SMK dapat berhadapan dengan mesin, listrik, peralatan kerja, bahan kimia, pekerjaan di ketinggian hingga berbagai potensi bahaya lainnya. Sebagian siswa bahkan sudah mengenal lingkungan industri melalui kegiatan PKL dan magang sebelum berstatus sebagai pekerja.
Karena itu, edukasi K3 dinilai tidak cukup jika hanya sebatas menyampaikan teori.
“Target kita bukan membuat anak-anak menghafal teori K3. Yang lebih penting adalah membangun refleks berpikir mereka: sebelum melakukan sesuatu, apa bahayanya, apa risikonya, dan bagaimana agar saya serta orang di sekitar saya tetap selamat. Kalau pola pikir ini terbentuk sejak muda, itulah modal awal membangun budaya K3,” ujar Edi.
DK3P Jatim Dorong K3 Masuk Pendidikan SMK
Setelah pelaksanaan kegiatan perdana tersebut, DK3P Jatim berencana mendorong langkah yang lebih luas. Salah satunya dengan mengusulkan agar edukasi K3 dapat diintegrasikan ke dalam pendidikan tingkat menengah, terutama SMK di Jawa Timur.
Konsep tersebut tidak harus diwujudkan sebagai mata pelajaran khusus. Materi keselamatan dapat disisipkan dalam kegiatan pembelajaran, praktik laboratorium dan bengkel, proyek siswa, penguatan karakter hingga pembekalan menjelang PKL.
Materi yang diberikan juga dapat disesuaikan dengan kehidupan siswa. Di antaranya pengenalan bahaya dan risiko, keselamatan berkendara, keselamatan listrik, pencegahan kebakaran, penggunaan APAR, pertolongan pertama, ergonomi, kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat serta kesehatan kerja.
“Jawa Timur memiliki jumlah pelajar SMA dan SMK yang sangat besar. Bayangkan jika setiap tahun kita meluluskan generasi yang bukan hanya memiliki kompetensi akademik dan keterampilan kerja, tetapi juga memiliki kesadaran keselamatan. Ini merupakan investasi jangka panjang untuk dunia kerja Jawa Timur,” tutur Edi.
Dia menambahkan, upaya tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Dinas Pendidikan, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, sekolah, dunia usaha dan dunia industri, perguruan tinggi hingga praktisi K3.
SMKN 5 Surabaya Sambut Edukasi K3
Pihak SMKN 5 Surabaya menyambut positif kegiatan tersebut. Wakil Kepala SMKN 5 Surabaya Maulidijana Isneniwaty menilai pemahaman keselamatan merupakan bagian dari kesiapan siswa sebelum memasuki dunia profesional.
“Anak-anak tidak cukup hanya dibekali keterampilan teknis. Mereka juga harus memahami bagaimana bekerja dengan benar dan aman. Edukasi seperti ini membantu siswa memahami bahwa keselamatan bukan hanya aturan ketika berada di perusahaan, tetapi kebiasaan yang harus mulai dibangun sejak sekolah,” ujarnya.
Hal senada disampaikan guru Kimia Industri SMKN 5 Surabaya, Nanda Luktinia Firial. Menurutnya, materi K3 yang diberikan relevan bagi siswa, khususnya menjelang pelaksanaan PKL.
Dia berharap siswa mampu membawa pengetahuan tersebut ketika berada di lingkungan industri, termasuk dalam mengenali potensi risiko dan mengikuti prosedur keselamatan di tempat PKL.
Kegiatan DK3P Goes to School juga dikemas secara interaktif. Para siswa tidak hanya menerima materi, tetapi diajak melihat bahwa potensi bahaya dapat ditemukan dalam aktivitas sehari-hari.
Salah seorang siswa mengaku mendapat pemahaman baru setelah mengikuti kegiatan tersebut.
“Awalnya saya mengira K3 itu hanya soal memakai helm, sepatu safety atau APD ketika bekerja. Ternyata yang paling penting justru bagaimana kita mengenali bahaya sebelum terjadi kecelakaan. Jadi bukan hanya untuk di tempat kerja, tetapi juga bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.
Melalui DK3P Goes to School Series 1, DK3P Jatim ingin membangun kebiasaan keselamatan sejak bangku sekolah. Harapannya, siswa SMK di Jawa Timur nantinya tidak hanya memiliki keterampilan dan kompetensi untuk bekerja, tetapi juga mampu mengenali risiko serta mengambil keputusan yang mengutamakan keselamatan.
Sebab, ukuran pekerja profesional bukan hanya kemampuan menyelesaikan pekerjaan, melainkan juga kemampuan memastikan pekerjaan dilakukan dengan aman hingga akhirnya dapat kembali ke rumah dalam kondisi selamat.
Editor : Arif Ardliyanto