Tak Mau Wayang Kulit Hilang Ditelan Zaman, Kampus Merah Putih Gelar Pertunjukan Spektakuler
Menurutnya, pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Perguruan tinggi tidak hanya berperan dalam bidang pendidikan, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan dan menjaga kesenian tradisional agar tetap memiliki tempat di tengah masyarakat.
Sementara itu, Ketua YPTA Surabaya J. Subekti, S.H., M.M., menyampaikan apresiasi kepada seluruh unsur universitas yang selama ini turut bekerja keras mengembangkan Untag Surabaya.
“Saya pribadi berterima kasih atas kerja sama dan kerja keras seluruh bagian dari universitas. Tetes keringat kalianlah yang melaksanakan tanggung jawab pekerjaan sebaik-baiknya. Mari terus membangun Untag sebaik-baiknya selamanya,” tuturnya.
Wayang Kulit Jadi Ruang Kebersamaan
Pagelaran tersebut tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat. Untag Surabaya juga memberikan kesempatan kepada penonton untuk mengikuti kupon undian berhadiah.
Beragam hadiah disiapkan dengan total nilai mencapai puluhan juta rupiah. Salah satu hadiah yang paling menarik perhatian masyarakat adalah satu unit sepeda motor sebagai hadiah utama.
Antusiasme penonton pun semakin tinggi. Warga tidak hanya menikmati alur cerita wayang dan pertunjukan karawitan, tetapi juga bertahan mengikuti rangkaian acara hingga pengundian hadiah selesai.
Bagi sejumlah warga, kegiatan semacam ini menjadi kesempatan untuk menikmati kembali kesenian tradisional sekaligus merasakan suasana kebersamaan bersama masyarakat lainnya.
Yanti, salah satu penonton asal Semolowaru, menjadi salah satu warga yang membawa pulang hadiah dari acara tersebut. Ia mendapatkan dispenser melalui undian.
“Semoga di ulang tahun Untag Surabaya ini semakin jaya, dan rutin mengadakan pagelaran untuk masyarakat seperti ini,” ungkap Yanti.
Sementara itu, kebahagiaan lebih besar dirasakan Zakaria, warga Manyar, setelah namanya keluar sebagai penerima hadiah utama berupa satu unit sepeda motor lengkap dengan helm.
“Saya sangat bersyukur dan senang sekali mendapatkan hadiah utama sepeda motor beserta helm. Semoga Untag Surabaya semakin maju dan semakin banyak mahasiswanya. Semoga kegiatan seperti ini bisa terus dilaksanakan dan membawa kebahagiaan bagi masyarakat,” ujar Zakaria.
Pagelaran wayang kulit tersebut bukan kegiatan yang baru dilakukan Untag Surabaya. Pertunjukan serupa telah menjadi agenda yang rutin digelar setiap tahun.
Konsistensi itu menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan melalui berbagai ruang, termasuk lingkungan perguruan tinggi. Wayang kulit tidak hanya ditempatkan sebagai warisan masa lalu, tetapi juga dihadirkan sebagai hiburan dan ruang pertemuan antara kampus dengan masyarakat.
Di tengah perubahan pola hiburan masyarakat akibat perkembangan teknologi, keberadaan pagelaran seperti ini menjadi salah satu cara untuk memastikan kesenian tradisional tetap memiliki panggung.
Melalui lakon Wahyu Katentreman, Untag Surabaya tidak hanya mengajak masyarakat menikmati seni pertunjukan, tetapi juga menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga kebersamaan, ketenteraman, dan keberlanjutan budaya di tengah perubahan zaman.
Editor : Arif Ardliyanto