Sekolah di Jombang Kembangkan Ketahanan Pangan, Khofifah Panen Sayur hingga Tanam Jeruk
JOMBANG, iNewsSurabaya.id – Sejumlah sekolah di Kabupaten Jombang mengembangkan inovasi ketahanan pangan dengan memanfaatkan lahan sekolah untuk budidaya berbagai komoditas pertanian. Program tersebut menjadi bagian dari Sekolah Inovasi Ketahanan Pangan (SIKAP) yang dikembangkan Pemprov Jawa Timur (Jatim).
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa bersama Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi meninjau hasil program SIKAP yang diterapkan SMA, SMK, dan SLB se-Kabupaten Jombang di SMA Negeri 2 Jombang.
Beragam hasil budidaya siswa dipamerkan, mulai dari jambu, melon, pisang, belimbing, pepaya, jeruk, cabai, sawi hidroponik, hingga terong ungu dan putih. Sejumlah komoditas tersebut ditanam dengan memanfaatkan lahan yang tersedia di lingkungan sekolah.
Khofifah dan Arifah juga berkesempatan menanam bibit jeruk madu sebagai bagian dari pengembangan program SIKAP di SMA Negeri 2 Jombang. Selain meninjau hasil budidaya, Khofifah melihat berbagai karya prakarya dan kewirausahaan yang dihasilkan siswa SMA Double Track Kabupaten Jombang.
“Ini tahun ketiga program SIKAP. Ini program inisiatif Dinas Pendidikan Jatim yang dibangun berbasis pemanfaatan lahan sekolah secara produktif dan berkelanjutan,” kata Khofifah, Senin (1/9/2026).
Menurutnya, ketahanan pangan tidak selalu membutuhkan lahan yang luas. Lingkungan sekolah maupun rumah dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan bahan pangan sekaligus menjadi sarana edukasi bagi generasi muda.
“Sesungguhnya kita tidak bisa mengandalkan luasan lahan. Di setiap area yang ada di sekeliling institusi, rumah, bahkan sekolah, sangat memungkinkan menyiapkan format ketahanan pangan,” ujarnya.
Khofifah mendorong program serupa terus dikembangkan di sekolah-sekolah di Jatim. Menurutnya, sekolah memiliki peran strategis untuk mengenalkan sekaligus mempraktikkan konsep ketahanan pangan kepada siswa.
Hal itu terlihat dari sejumlah hasil panen yang dibudidayakan siswa, seperti ikan nila, pakcoy, dan sawi samhong. Sawi samhong yang telah berusia 31 hari bahkan sudah siap dipanen.
“Kami ingin program inovasi ini bisa diimplementasikan di seluruh sekolah di Jatim. Tadi kami juga berkesempatan melakukan panen ikan nila yang dibudidayakan sekolah, ada juga panen sawi pakcoy, sawi samhong,” katanya.
Selain ditanam langsung di tanah, sejumlah tanaman juga dikembangkan menggunakan polybag dan sistem hidroponik. Model tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan lahan bukan menjadi hambatan untuk mengembangkan kegiatan pertanian di lingkungan sekolah.
“Memungkinkan untuk kita siapkan bagaimana saling bertanam, menyiapkan format ketahanan pangan. Kita bisa melihat ada terong dengan media tanam polybag, ada jeruk, tomat, dan hidroponik,” jelas Khofifah.
Program SIKAP juga diintegrasikan dengan pembelajaran Produk Kreatif dan Kewirausahaan (PKWU), khususnya bagi siswa kelas XI. Siswa tidak hanya mendapatkan teori, tetapi terlibat langsung dalam proses produksi.
Editor: Arif Ardliyanto