get app
inews
Aa Text
Read Next : Tradisi Langka di Lereng Gunung Arjuno Ini Bikin Wisatawan Tertarik, Warga Arak Hasil Bumi Bersama

Nekat Tembus Tebing Terjal, Warga Jatiarjo Ceritakan Kisah Padamkan Api di Lereng Arjuno 2.860 Mdpl

Selasa, 01 September 2026 | 13:48 WIB
header img
Warga Jatiarjo Padamkan Api di Ketinggian 2.860 Mdpl hingga minum air comberan demi untuk bisa bertahan hidup. Foto iNewsSurabaya.id/ist

Persoalan lain muncul ketika warga menemukan titik api kecil di kawasan yang memiliki medan sangat curam. Api berada di lokasi yang sulit didatangi secara langsung.

Korib menyebut salah satu titik api berada di deretan kawasan sepanjang sekitar empat meter. Posisi tebing membuat warga kesulitan berdiri maupun bergerak dengan leluasa.

“Kita sempat lempar batu karena posisinya tebing. Untuk berdiri saja susah. Kita duduk sambil lempar batu, karena memang tidak mampu menjangkau api yang di situ,” jelasnya.


Warga Jatiarjo Padamkan Api di Ketinggian 2.860 Mdpl hingga minum air comberan demi untuk bisa bertahan hidup. Foto iNewsSurabaya.id/ist

Mereka kemudian memilih tetap bertahan dan memantau pergerakan api selama sekitar dua jam.

Namun, setelah beristirahat, kondisi berubah. Api kembali terlihat membesar di bagian atas sehingga warga harus kembali bergerak melakukan pemadaman.

Kesulitan medan membuat warga tidak bisa sepenuhnya mengandalkan jalur pendakian biasa. Rombongan kemudian mencari jalur alternatif yang dinilai lebih memungkinkan untuk mencapai lokasi.

Salah satunya melalui kawasan yang dikenal warga setempat sebagai jalur menuju Putuk. Jalur tersebut dipilih karena terdapat aliran sungai kecil yang dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan air.

“Kita inisiatif lewat jalur yang biasanya orang sini bilang Putuk. Yang penting bagaimana caranya ada titik api dan ada sungai. Walaupun airnya kecil, kita pakai untuk naik ke atas,” tutur Korib.

Keputusan tersebut diambil setelah sebelumnya muncul informasi mengenai kondisi jalur Lembah Kijang yang sulit digunakan untuk mencapai titik kebakaran.

Dari kawasan tersebut, rombongan akhirnya mengambil arah lain dan memutar menuju lokasi api.

Perjalanan ini membuat waktu tempuh menjadi lebih panjang. Dari kawasan pemandian, warga tidak bisa langsung menuju titik kebakaran karena kondisi tebing yang sulit dilalui.

Mereka harus memutar dan kembali menanjak hingga akhirnya mencapai kawasan titik api pada sore hari.

Logistik Jadi Kendala

Selain medan yang ekstrem, pemadaman kebakaran di ketinggian juga menghadirkan persoalan lain, yakni keterbatasan logistik.

Korib mengungkapkan, salah satu kebutuhan yang cukup terasa selama berada di lokasi adalah air mineral. Kondisi tersebut menjadi tantangan karena warga harus bertahan cukup lama di kawasan dengan akses yang sangat terbatas.

Medan menuju lokasi juga tidak memungkinkan warga berjalan seperti biasa. Pada sejumlah bagian, kemiringan jalur membuat mereka harus menggunakan tangan sebagai pegangan.

“Kalau jalannya biasa, kita tidak perlu pakai tangan. Waktu itu kita pakai tangan untuk pegangan, bahkan satu teman berpegangan ke teman yang lain untuk naik menuju titik api,” ungkap Korib.

Hingga kini, penyebab pasti kebakaran belum dapat dipastikan oleh warga. Korib mengatakan pihaknya belum bisa melakukan identifikasi mengenai sumber awal munculnya api.

Namun bagi masyarakat di lereng Gunung Arjuno, keberadaan hutan dan kawasan sumber mata air menjadi alasan utama mereka memilih ikut bergerak ketika kebakaran terjadi.

Bagi mereka, menjaga hutan bukan sekadar menyelamatkan pepohonan dari kobaran api. Ada sumber kehidupan masyarakat desa yang berada di bawahnya yang juga harus dipertahankan.

 

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut