Ekspor Jatim Jeblok 5,33 Persen, Perhiasan Anjlok 54 Persen
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Nilai ekspor Jawa Timur (Jatim) sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai USD16,08 miliar. Angka tersebut turun 5,33 persen dibandingkan periode yang sama 2025 yang mencapai USD16,99 miliar.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim menunjukkan, penurunan terutama dipengaruhi melemahnya ekspor nonmigas dan migas. Nilai ekspor Januari-Juli 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu disebabkan oleh penurunan ekspor nonmigas sebesar 4,43 persen, dari USD16,64 miliar menjadi USD15,90 miliar.
Sementara ekspor migas anjlok 48,07 persen, dari USD349,45 juta menjadi USD181,47 juta. Penurunan tersebut terutama berasal dari ekspor minyak mentah yang merosot 65,54 persen menjadi USD109,28 juta.
“Pada Juli 2026 saja, nilai ekspor Jatim mencapai USD2,65 miliar atau turun 9,15 persen dibandingkan Juli 2025. Ekspor nonmigas juga turun 7,94 persen menjadi USD2,64 miliar,” kata Plt Kepala BPS Jatim Herum Fajarwati dalam rilisnya, Selasa (1/9/2026).
Di tengah penurunan total ekspor, sejumlah komoditas utama justru mencatat pertumbuhan positif. Tembaga (HS 74) menjadi komoditas dengan kenaikan nilai ekspor terbesar, yakni 39,51 persen menjadi USD2,08 miliar.
Tiongkok dan Thailand menjadi pasar utama tembaga Jatim dengan nilai ekspor masing-masing USD565,08 juta dan USD562,13 juta.
Komoditas lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) juga tumbuh 28,41 persen menjadi USD1,67 miliar. Ekspor komoditas ini terutama ditujukan ke Tiongkok sebesar USD745,41 juta dan Malaysia USD142,03 juta.
Sementara ekspor olahan ikan, krustasea, dan moluska (HS 16) meningkat 17,04 persen menjadi USD503,70 juta. Amerika Serikat menjadi pasar terbesar dengan nilai USD251,14 juta, disusul Jepang USD68,34 juta.
Sebaliknya, perhiasan/permata (HS 71) mengalami penurunan paling dalam, yakni 54,17 persen menjadi USD1,73 miliar. Hong Kong dan Singapura menjadi tujuan utama komoditas tersebut dengan nilai masing-masing USD440,22 juta dan USD413,78 juta.
Berbagai produk kimia (HS 38) juga turun 8,75 persen menjadi USD675,51 juta, dengan tujuan utama Tiongkok sebesar USD239,70 juta dan Malaysia USD73,89 juta.
Secara keseluruhan, 10 golongan barang utama menyumbang 63,90 persen terhadap total ekspor nonmigas Jatim pada Januari-Juli 2026. Namun, nilai ekspor kelompok tersebut turun 9,02 persen secara tahunan, salah satunya akibat penurunan ekspor perhiasan/permata.
Dari sisi negara tujuan, Tiongkok menjadi pasar ekspor nonmigas terbesar Jatim dengan nilai USD2,70 miliar atau 16,99 persen dari total ekspor nonmigas.
Komoditas utama yang dikirim ke Tiongkok antara lain lemak dan minyak hewani/nabati, tembaga, bahan kimia organik, serta berbagai produk kimia.
Amerika Serikat berada di posisi berikutnya dengan nilai ekspor USD2,39 miliar. Produk utama yang diekspor ke negara tersebut meliputi ikan, krustasea dan moluska; olahan ikan; perabotan dan alat penerangan; serta kayu dan barang dari kayu.
BPS mencatat ekspor nonmigas Jatim ke 13 negara/wilayah tertentu mencapai USD11,54 miliar atau 72,55 persen dari total ekspor nonmigas. Nilai tersebut meningkat 14,54 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan antara lain ditopang ekspor ke Tiongkok yang naik 29,54 persen dan Hong Kong yang melonjak 116,86 persen.
Berdasarkan kawasan, ekspor nonmigas Jatim ke ASEAN mencapai USD3,55 miliar, tumbuh 11,19 persen secara tahunan. Kontribusinya mencapai 22,34 persen terhadap total ekspor nonmigas.
Sementara ekspor ke Uni Eropa mencapai USD1,08 miliar atau meningkat 9,24 persen dibandingkan Januari-Juli 2025, dengan kontribusi 6,77 persen.
Editor : Arif Ardliyanto