get app
inews
Aa Text
Read Next : Kepercayaan Global Menguat, Bank Ini Raup USD 750 Juta dari Pasar Internasional

Kopi Jatim Diburu Pasar Belanda, Petani Bakal Dapat Akses Langsung ke Eropa

Kamis, 03 September 2026 | 08:06 WIB
header img
Kopi Jawa Timur dilirik pengusaha Belanda. Batavia Roast menjajaki pembelian langsung dari petani dan menargetkan pasokan kopi Jatim mulai 2027. Foto iNewsSurabaya.id/arif

Informasi tersebut nantinya dapat mencakup identitas petani hingga lokasi kebun tempat kopi ditanam.

"Kami ingin dalam produk kami disediakan barcode yang berisi wajah petani dan kebun di mana kopi itu ditanam. Sehingga orang Belanda mengerti asal-usul kopi yang mereka minum," jelas Jan.

Bagi Batavia Roast, cara tersebut penting untuk membangun hubungan antara konsumen dengan petani di balik produk kopi yang mereka nikmati.

Selain membuka pasar, perusahaan asal Belanda tersebut juga berencana memberikan kontribusi terhadap pengembangan petani. Sebagian nilai dari setiap kilogram kopi yang dipasarkan akan dialokasikan untuk mendukung peningkatan kesejahteraan dan kapasitas petani.

Jan melihat pasar kopi Belanda memiliki peluang besar. Budaya minum kopi yang kuat membuat konsumsi kopi menjadi bagian dari keseharian masyarakat di negara tersebut.

"Orang Belanda identik dengan minum kopi. Bisa lima kali setiap hari, dari pagi hingga malam. Jadi kopi sangat potensial dipasarkan di Belanda," katanya.

Pada tahap awal, Batavia Roast akan memetakan komoditas serta potensi petani kopi di Indonesia, dengan Jawa Timur menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian.

Tahun 2026 akan digunakan untuk melakukan pemetaan. Sementara pembelian kopi ditargetkan mulai berjalan pada 2027.

"Kami ingin menjadikan petani kopi Indonesia mendunia," tegas Jan.

Tidak berhenti di kopi, Batavia Roast juga membuka peluang mengembangkan komoditas Indonesia lainnya. Rempah-rempah seperti cengkeh dan vanila menjadi komoditas yang berpotensi dikembangkan setelah bisnis kopi berjalan.

Ketua Umum Kadin Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, menyambut positif penjajakan tersebut. Menurutnya, Jawa Timur mempunyai modal kuat untuk memperluas pasar kopi ke tingkat internasional.

Data Bank Indonesia menyebut Indonesia merupakan salah satu produsen kopi terbesar dunia, dengan produksi nasional sekitar 780 ribu ton per tahun.

Jawa Timur sendiri menjadi salah satu sentra produksi kopi terbesar di Pulau Jawa dengan produksi sekitar 53 ribu ton per tahun. Angka tersebut berada di atas produksi Jawa Barat dan Jawa Tengah yang masing-masing berada di kisaran 25 ribu ton per tahun.

"Dari jumlah tersebut, Jawa Timur menjadi sentra produksi kopi terbesar di Pulau Jawa dengan produksi sekitar 53 ribu ton per tahun. Sementara Jawa Barat dan Jawa Tengah masing-masing berada di kisaran 25 ribu ton per tahun," kata Adik.

Kekuatan kopi Jawa Timur juga terletak pada keragaman karakter produknya. Malang memiliki Kopi Dampit yang dikenal dengan jenis robusta dan arabika.

Bondowoso memiliki kopi arabika dari kawasan Ijen-Raung yang telah mengantongi sertifikasi Indikasi Geografis. Sementara Jember dan Banyuwangi juga dikenal sebagai daerah penghasil kopi dengan produktivitas tinggi.

Adik berharap kedatangan Batavia Roast dapat menjadi pintu masuk baru bagi kopi Jawa Timur menuju Belanda dan pasar Eropa.

Apalagi, pertemuan tersebut mempertemukan berbagai mata rantai industri kopi, mulai dari petani, pengolah, roaster hingga produsen kopi olahan.

Sekjen Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI), Isdarmawan Asrikan, turut melihat peluang besar dari pasar Eropa. Ia mengingatkan bahwa perdagangan kopi antara Indonesia dan Belanda memiliki sejarah panjang.

Menurut Isdarmawan, kopi arabika pernah dibawa dan dikembangkan Belanda di Indonesia. Sementara kopi robusta kemudian berkembang di wilayah Malang dan sejumlah kawasan perkebunan di Jawa Timur.

Namun, di tengah meningkatnya permintaan, industri kopi menghadapi tantangan serius berupa perubahan fungsi lahan.

Sebagian lahan yang sebelumnya digunakan untuk tanaman kopi mulai beralih menjadi lahan tebu. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kebutuhan kopi di pasar domestik maupun internasional terus bertumbuh.

"Permintaan kopi sangat besar dan terus meningkat. Permintaan dalam negeri juga naik," katanya.

Peluang Jawa Timur memasuki pasar Eropa juga ditopang oleh pengalaman sejumlah pelaku usaha yang telah menjual produk kopi ke luar negeri.

Salah satunya Santos Jaya Abadi melalui merek Kapal Api yang disebut telah mengekspor produknya ke sekitar 60 negara.

Perwakilan Gabungan Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (GAEKI) Jawa Timur, Cholis Idham, mengatakan kapasitas ekspor kopi dari Jawa Timur terus berkembang.

Total ekspor berbagai jenis kopi Jawa Timur disebut mencapai sekitar 94 ribu ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 66 ribu ton merupakan robusta, sekitar 3 ribu ton arabika, sedangkan sekitar 25 ribu ton lainnya berupa kopi olahan.

"Dari jumlah itu, sekitar 66 ribu ton merupakan robusta, sekitar 3 ribu ton arabika, sedangkan sisanya sekitar 25 ribu ton merupakan kopi olahan," ujar Cholis.

Potensi kopi Jawa Timur tidak hanya terlihat dari besarnya produksi. Setiap daerah memiliki karakter dan cerita yang berbeda.

Pengusaha kopi dari Sidoarjo, misalnya, mengembangkan kopi campuran rempah dengan tambahan cengkeh serta menggunakan resep khas Manado. Kapasitas produksinya mencapai sekitar 450 hingga 500 kilogram per hari.

Dari Trenggalek, Tatik Susilowati membawa kisah pohon-pohon robusta peninggalan Belanda yang terus dikembangkan. Pada 2024, tercatat sekitar 12 ribu pohon kopi masih hidup dan dimanfaatkan untuk menghasilkan berbagai produk, mulai dari roasted bean hingga kopi siap konsumsi.

Cerita lain datang dari Pasuruan. M Alfi Dahlan melalui Kopi Ledug mengembangkan kopi dari kawasan lereng Welirang dengan melibatkan 22 petani dan lahan sekitar 80 hektare.

Karakter geografis kawasan Gunung Welirang dinilai memberikan ciri tersendiri terhadap kopi yang dihasilkan.

Alfi mulai mengembangkan kopi sejak 2009. Awalnya, ia melihat banyak kawasan hutan ditebang untuk memenuhi kebutuhan ekonomi masyarakat. Penanaman kopi kemudian dipilih sebagai salah satu solusi untuk menjaga kawasan sekaligus memberikan sumber pendapatan bagi petani.

Kini, Kopi Ledug tidak hanya menghasilkan biji kopi. Produk roasted bean dan kopi bubuk dari robusta, arabika hingga kopi luwak juga dikembangkan. Sejumlah produk premium dan specialty coffee bahkan telah menembus pasar Selandia Baru dan Jepang.

"Kami berharap ke depan bisa mengirim kopi yang sudah roasted," kata Alfi.

Potensi lainnya berasal dari Wonosalam, Jombang. Kawasan tersebut memiliki beragam jenis kopi, mulai dari robusta, arabika hingga liberika atau excelsa.

Karena produksinya belum terlalu besar, pelaku usaha di Wonosalam memilih strategi berbeda. Mereka lebih mengutamakan peningkatan nilai tambah dibandingkan mengejar produksi dalam jumlah besar.

Pemberdayaan dilakukan dengan melibatkan seluruh anggota keluarga petani. Laki-laki menangani proses tanam hingga panen, perempuan berperan dalam sortasi, sedangkan generasi muda dilibatkan dalam pengolahan kopi.

Produk kopi Wonosalam bahkan telah dibawa ke Amsterdam dan diperkenalkan melalui jaringan kopi Tuku.

Sementara itu, PT Graha Rejeki Indonesia melalui merek Kopi Giras mengembangkan kopi blended dengan menggabungkan biji kopi dari Lampung, Malang, Bali hingga Nusa Tenggara Barat.

Perusahaan tersebut mampu memproduksi sekitar 4-8 ton kopi bubuk setiap hari. Selain kopi bubuk, mereka juga mengembangkan roasted bean serta kopi instan yang dipadukan dengan gula aren.

Beragam cerita tersebut menunjukkan bahwa kekuatan kopi Jawa Timur bukan hanya terletak pada produksi biji kopi. Industri kopi di daerah ini mulai bergerak menuju produk bernilai tambah dan specialty coffee.

Tantangan berikutnya adalah memastikan kualitas dan kontinuitas pasokan, memperkuat sertifikasi, meningkatkan kemampuan pengolahan, serta membuka akses pasar yang lebih luas.

Penjajakan bersama Batavia Roast menjadi salah satu peluang untuk mempertemukan potensi tersebut dengan kebutuhan konsumen Eropa.

Jika proses pemetaan pada 2026 berjalan sesuai rencana, pembelian kopi dari petani Jawa Timur ditargetkan mulai dilakukan pada 2027. Dari lereng pegunungan hingga perkebunan rakyat, kopi Jawa Timur kini memiliki peluang lebih besar untuk membawa nama petani lokal ke pasar Belanda dan Eropa.

 

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut