Kebakaran Kawah Ijen Belum Padam, Helikopter Water Bombing Fokus Amankan Jalur Pendakian
Bagio menyebut kondisi angin di kawasan Ijen menjadi salah satu tantangan utama dalam operasi pemadaman dari udara.
“Kalau seperti di Semeru, sehari bisa 20 kali karena lokasi air dekat. Kalau di sini (Ijen) kita nggak bisa memutuskan. Tergantung weather, apalagi di atas anginnya kencang sekali,” jelasnya.
Untuk mendukung operasi helikopter, petugas telah menyiapkan sejumlah sumber air. Salah satunya berasal dari embung yang berada di kawasan Medco Geothermal.
BPBD Jawa Timur juga berencana mengusulkan pembangunan embung khusus kepada Perhutani dan BKSDA di kawasan Ijen. Infrastruktur tersebut dinilai penting untuk mempercepat penanganan apabila kebakaran kembali terjadi di kawasan pegunungan.
Menurut Bagio, selama ini petugas di sejumlah wilayah Jawa Timur masih mengandalkan sumber air yang tersedia di sekitar lokasi ketika terjadi kondisi darurat.
“Karena kebanyakan di Jawa Timur ini kita tidak siap untuk itu, jadi yang sering kita ambil air di kolamnya orang, hotel, embung petani dikarenakan keadaan darurat,” katanya.
Selama proses pemadaman berlangsung, kawasan yang berada di sekitar titik kebakaran telah disterilkan dari wisatawan. Jalur pendakian Kawah Ijen juga masih ditutup demi keselamatan pengunjung dan petugas.
Petugas di lapangan terus melakukan pemantauan visual untuk mengetahui perkembangan kebakaran. Hasil pemantauan tersebut menjadi dasar dalam menentukan titik api yang harus menjadi prioritas penyiraman dari udara.
Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur, Nur Patria Murniawan, mengatakan terdapat dua titik api yang menjadi perhatian utama dalam operasi water bombing.
“Jadi yang mengarah ke jalur pendakian, sama satu lagi yang jelas yang mengarah ke bawah. Jangan sampai api malah turun dan merembet ke Gunung Ranti,” ujar Patria.
Patria menjelaskan salah satu titik kebakaran berada di kawasan yang cukup panjang dan memiliki arah pergerakan menuju bawah. Kondisi medan di lokasi tersebut semakin sulit karena terdapat jurang yang dalam.
Sementara itu, api yang bergerak ke arah atas disebut telah berhenti di sekitar bibir kawah. Meski demikian, petugas masih menghadapi medan yang kompleks karena kawasan tersebut memiliki banyak punggung bukit yang menyerupai labirin.
Karakter medan tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan pola pemadaman melalui udara. Selain arah pergerakan api, sumber air yang digunakan helikopter juga harus memperhitungkan jarak dan kondisi rintangan di sekitar lokasi.
“Untuk pengambilan air tadi sudah dipastikan oleh BPBD untuk mengambil dari dua embung di Medco. Karena yang paling dekat dan paling memungkinkan secara obstacle,” terang Patria.
Dengan dikerahkannya helikopter water bombing, penanganan karhutla di kawasan Kawah Ijen kini dilakukan melalui kombinasi pemantauan dari darat dan pemadaman dari udara. Sementara jalur pendakian tetap ditutup hingga kondisi dinyatakan aman.
Editor: Arif Ardliyanto