Hadapi Burnout hingga Self-Harm, Mahasiswa di Surabaya Ini Dapat Pembekalan Kesehatan Mental
Salah satu materi yang menjadi perhatian dalam kuliah pakar tersebut adalah kemampuan regulasi emosi. Kemampuan tersebut berkaitan dengan bagaimana seseorang memahami sekaligus mengelola emosinya ketika menghadapi situasi tertentu. Regulasi emosi yang baik dapat membantu seseorang menghadapi tekanan dengan lebih adaptif, menjaga hubungan dengan orang lain, hingga mempertimbangkan keputusan secara lebih matang.
Bagi mahasiswa, kemampuan tersebut memiliki arti penting. Lingkungan perkuliahan tidak hanya menghadirkan tuntutan akademik, tetapi juga berbagai dinamika sosial dan tantangan dalam mempersiapkan diri memasuki dunia kerja.
Apalagi, mahasiswa STIKES Hang Tuah Surabaya dipersiapkan untuk terjun ke bidang pelayanan kesehatan. Pemahaman terhadap aspek psikologis pasien menjadi salah satu bekal penting agar pelayanan tidak hanya berorientasi pada kondisi fisik.
Calon tenaga kesehatan nantinya dapat berhadapan dengan pasien yang mengalami persoalan kesehatan sekaligus menghadapi tekanan emosional, kondisi sosial, maupun persoalan psikologis.
Karena itu, kemampuan memahami kondisi mental pasien dinilai dapat membantu mahasiswa mengembangkan pendekatan pelayanan yang lebih menyeluruh.
Ketua STIKES Hang Tuah Surabaya, Dr. Setiadi, S.Kep., Ns., M.Kep., mengatakan pendidikan calon tenaga kesehatan tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan akademik dan keterampilan klinis.
Mahasiswa juga perlu memiliki kemampuan komunikasi, empati, pengelolaan emosi, serta kesiapan menghadapi berbagai karakter dan kondisi pasien ketika memasuki dunia profesional.
“Mahasiswa sebagai calon tenaga kesehatan perlu memiliki pemahaman yang utuh mengenai kesehatan, termasuk aspek mental. Pembekalan seperti ini diharapkan dapat memperkuat kemampuan mereka dalam memahami kondisi pasien dan memberikan pelayanan secara lebih holistik,” katanya.»
Ia menambahkan, pembekalan mengenai kesehatan mental di lingkungan pendidikan menjadi bagian penting untuk membangun kesiapan mahasiswa sebelum mereka memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Kuliah pakar tersebut merupakan bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-31 STIKES Hang Tuah Surabaya. Pengangkatan isu kesehatan mental juga sejalan dengan pendekatan promotif dan preventif dalam bidang kesehatan.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya mampu mengenali persoalan kesehatan mental pada dirinya sendiri, tetapi juga memahami bagaimana aspek psikologis dapat memengaruhi kondisi kesehatan seseorang.
Kegiatan ini turut dikaitkan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 tentang kesehatan dan kesejahteraan serta SDG 4 mengenai pendidikan berkualitas.
Dengan bekal tersebut, mahasiswa diharapkan semakin siap menghadapi tuntutan akademik sekaligus memiliki perspektif yang lebih utuh ketika kelak memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Pemahaman mengenai kesehatan mental pun diharapkan tidak berhenti di ruang kuliah. Pengetahuan tentang burnout, regulasi emosi, dan pencegahan self-harm dapat menjadi bagian dari keterampilan hidup yang membantu mahasiswa menghadapi berbagai tekanan secara lebih sehat.
Editor: Arif Ardliyanto