Seru! 50 Anak Berkebutuhan Khusus Belajar Kelola Sampah di Sidoarjo, Hasilnya Bikin Kagum
Antusiasme peserta terlihat ketika mereka mulai membuat berbagai karya sederhana dari barang bekas. Dengan didampingi orang tua dan dibantu Kader Lingkungan Kampung Edukasi Sampah, anak-anak diajari membuat tempat bolpoin dari botol bekas.
Mereka juga diajak memanfaatkan botol kaca sebagai media untuk menanam tanaman.
Bahan yang digunakan memang sederhana. Namun, kegiatan tersebut memberikan pengalaman baru bahwa barang yang selama ini dianggap tidak berguna masih dapat dimanfaatkan kembali.
Edi berharap keterampilan sederhana tersebut bisa diterapkan peserta dalam kehidupan sehari-hari.
“Peserta pelatihan bisa mengaplikasikan di rumah atau di sekolah tentang pemanfaatan sampah agar volume sampah yang dihasilkan bisa diminimalisir,” ujarnya.
Pembina LPK Aora, Yossie, mengaku bangga melihat anak didiknya mendapatkan kesempatan untuk belajar mengenai pengelolaan sampah secara langsung.
Menurutnya, selama ini pemahaman anak-anak mengenai sampah masih sebatas membuangnya ke tempat sampah. Melalui kegiatan tersebut, mereka mendapatkan pemahaman baru bahwa sampah perlu dipilah dan sebagian masih dapat diolah menjadi barang bernilai.
“Selama ini anak-anak tahunya, sampah itu dibuang di tempatnya. Ternyata sampah masih bisa dikelola menjadi barang berharga. Sampah juga perlu dipilah sebelum dibuang,” ujar Yossie.
Pendidikan K3L untuk Anak Berkebutuhan Khusus
Kegiatan tersebut juga mendapat perhatian dari anggota Komisi 2 DK3P Jatim, Karto Trisasmito. Ia hadir untuk memberikan dukungan sekaligus memastikan anak berkebutuhan khusus mendapatkan kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan dan pengalaman baru.
Menurut Karto, kegiatan pengelolaan lingkungan ini merupakan kelanjutan dari edukasi safety awareness yang sebelumnya diberikan DK3P atau Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Provinsi pada Juli 2026.
Jika sebelumnya anak-anak mendapatkan pembelajaran mengenai cara mengoperasikan alat pemadam, kali ini edukasi diperluas dengan kepedulian terhadap lingkungan.
“Setelah mendapat pelatihan cara mengoperasikan alat pemadam, kini anak-anak diajarkan kepedulian terhadap lingkungan,” ujar Karto.
Hal senada disampaikan dosen Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Malang, Ganif Djuwadi. Ia menilai Kampung Edukasi Sampah memiliki potensi untuk menjadi lokasi pembelajaran keselamatan, kesehatan kerja, dan lingkungan (K3L).
“Tempat ini sangat cocok untuk direplikasi dalam hal pendidikan K3L, terutama kepada pelajar maupun mahasiswa,” ujar Ganif, yang juga pemilik Wisata Edukasi Keselamatan Karangduren, Kabupaten Malang.
Melalui kegiatan tersebut, pengenalan lingkungan tidak hanya berbicara tentang menjaga kebersihan. Anak-anak berkebutuhan khusus juga diajak memahami bahwa barang bekas yang selama ini dianggap tidak berguna dapat dimanfaatkan kembali menjadi sesuatu yang memiliki nilai.
Editor: Arif Ardliyanto