Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Mengejutkan! Ahli Hukum Nilai Pembayaran Rp77,9 Miliar BUMD Jatim Berisiko Jadi Kasus Korupsi
Advertisement . Scroll to see content

AI Bisa Jadi Kunci Indonesia Kuasai Energi Nuklir, Benarkah Ini Masa Depan Ketahanan Energi?

Senin, 14 September 2026 | 06:37 WIB
  • author OPINI
AI Bisa Jadi Kunci Indonesia Kuasai Energi Nuklir, Benarkah Ini Masa Depan Ketahanan Energi?
Mahasiswa Pascasarjana S2 Wawasan Pertahanan Nasional Universitas Brawijaya dan Aktivis LTN PCNU Kota Surabaya, M. Bahrul Marzuki, S.Fil. Foto istimewa

M. Bahrul Marzuki, S.Fil

Mahasiswa Pascasarjana Wawasa  Pertahanan Nasional Universitas Brawijaya dan Aktivis LTM PCNU Kota Surabaya 

Ketika kata  “nuklir” disebut, bayangan yang muncul di kepala banyak orang masih sama: perang, kehancuran, radiasi, dan ancaman terhadap umat manusia. Persepsi itu tidak sepenuhnya keliru. Sejarah telah menunjukkan betapa mengerikannya senjata nuklir jika berada di tangan negara yang menjadikannya instrumen peperangan.

Namun, persoalannya menjadi berbeda ketika nuklir dibicarakan sebagai sumber energi. Di tengah kebutuhan listrik yang terus meningkat, perubahan iklim, ketergantungan terhadap energi fosil, dan tuntutan menuju ketahanan energi nasional, Indonesia sebenarnya perlu berani membuka ruang diskusi yang lebih rasional mengenai energi nuklir.

Bukan untuk membuat senjata, Bukan pula untuk mengikuti perlombaan persenjataan negara-negara besar. Tetapi untuk bertanya: apakah Indonesia akan terus menjadi konsumen teknologi energi atau mulai membangun kemampuan sendiri?

Pertanyaan tersebut semakin relevan memasuki era kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

AI telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, melakukan penelitian, hingga mengambil keputusan. Jika dahulu seseorang harus mengumpulkan buku dan jurnal selama berbulan-bulan untuk memahami sebuah bidang, kini akses terhadap pengetahuan jauh lebih terbuka. AI dapat membantu menjelaskan konsep rumit, mengolah data, membuat simulasi, hingga membantu peneliti menemukan pola yang sebelumnya sulit terlihat. Di sinilah peluang Indonesia sebenarnya berada. Nuklir Jangan Selalu Dipandang Sebagai Senjata

Presiden Prabowo Subianto pernah mengingatkan mengenai ancaman perang dunia dengan penggunaan senjata nuklir. Pesan tersebut menunjukkan bahwa nuklir memang memiliki dimensi keamanan yang sangat serius.

Tetapi membicarakan nuklir hanya dari sisi militer juga membuat kita kehilangan perspektif yang lebih luas.

Teknologi nuklir memiliki banyak penggunaan damai. Di bidang energi, nuklir dapat menjadi salah satu sumber listrik dengan emisi karbon yang rendah. Dalam bidang kesehatan, teknologi nuklir digunakan untuk diagnosis dan terapi sejumlah penyakit. Di bidang pertanian, radiasi dapat dimanfaatkan dalam penelitian dan pengembangan varietas maupun pengendalian tertentu.

Artinya, nuklir pada dasarnya hanyalah teknologi. Dampaknya sangat bergantung pada bagaimana manusia menggunakannya.

Karena itu, Indonesia tidak perlu terjebak pada dua kutub ekstrem: menganggap nuklir sebagai solusi untuk semua persoalan atau menganggap nuklir sebagai sesuatu yang selalu berbahaya.

Yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk memahami, menguasai, mengatur, dan mengawasinya.

AI Bisa Menjadi “Laboratorium Pengetahuan” Baru

Indonesia sebenarnya tidak harus langsung berbicara tentang membangun pembangkit listrik tenaga nuklir dalam skala besar. Langkah pertama yang lebih realistis adalah membangun kapasitas pengetahuan.

Generasi muda Indonesia sekarang memiliki akses terhadap berbagai sumber pengetahuan yang sebelumnya sulit dijangkau. Dengan AI, seseorang dapat mempelajari konsep dasar fisika nuklir, memahami prinsip reaksi fisi dan fusi, mengenal teknologi reaktor, mempelajari sistem keselamatan, hingga memahami persoalan limbah radioaktif.

Tentu saja AI bukan pengganti universitas, laboratorium, dosen, peneliti, maupun lembaga regulator. AI juga bisa memberikan jawaban yang keliru. Karena itu, informasi yang diperoleh dari AI tetap harus diverifikasi melalui jurnal ilmiah, lembaga resmi, perguruan tinggi, dan sumber akademik yang kredibel.

Dari sekadar rasa ingin tahu, seseorang bisa berkembang menjadi pembelajar. Dari pembelajar bisa lahir peneliti. Dan dari peneliti, suatu hari dapat muncul teknologi yang benar-benar dikembangkan oleh bangsa sendiri.

Pertanyaan sederhana seperti “bisakah saya belajar ilmu nuklir?” seharusnya tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang terlalu berat bagi masyarakat umum.

Jawabannya: bisa.

Tentu dengan proses pendidikan yang benar dan bertahap.

Mulai dari matematika, fisika dasar, fisika modern, mekanika kuantum, kemudian berkembang menuju teknik nuklir, keselamatan radiasi, sistem reaktor, manajemen limbah, hingga aspek kebijakan dan keamanan.

Membicarakan energi nuklir di Indonesia tidak cukup dengan mengatakan bahwa teknologi tersebut aman atau mampu menghasilkan listrik dalam jumlah besar.

Ada persoalan lain yang jauh lebih kompleks. Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang kompeten. Kita membutuhkan regulator yang kuat. Kita membutuhkan budaya keselamatan yang tidak boleh ditawar. Kita juga membutuhkan sistem pengawasan yang transparan dan dapat dipercaya masyarakat.

Selain itu, persoalan lokasi, pembiayaan, pengelolaan limbah, kesiapan jaringan listrik, kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat, serta penerimaan masyarakat harus dibahas sejak awal.

Dengan kata lain, pembangunan energi nuklir bukan sekadar proyek membangun reaktor. Ini adalah proyek membangun ekosistem. Dan ekosistem tersebut tidak mungkin dibangun dalam waktu singkat.

Ada ironi besar dalam perkembangan teknologi saat ini. AI sudah digunakan masyarakat Indonesia untuk membuat konten, mencari ide, menerjemahkan bahasa, mengerjakan pekerjaan administratif, bahkan sekadar bertanya tentang berbagai hal sehari-hari.

Semua itu sah.

Tetapi akan menjadi persoalan jika AI hanya berhenti sebagai alat produktivitas ringan, sementara negara lain menggunakannya untuk penelitian strategis, pengembangan teknologi, industri, energi, pertahanan, dan sains.

Indonesia memiliki bonus demografi dan jumlah pengguna teknologi yang sangat besar. Modal tersebut seharusnya diarahkan pula pada penguasaan ilmu pengetahuan strategis.

Energi nuklir merupakan salah satu bidang yang layak masuk dalam percakapan tersebut. AI dapat membantu mempercepat pembelajaran dan penelitian. Tetapi manusia tetap harus menjadi pengambil keputusan.

Prinsip ini menjadi semakin penting ketika AI bersinggungan dengan teknologi nuklir. Dalam konteks keselamatan maupun keamanan nuklir, keputusan kritis tidak boleh diserahkan begitu saja kepada mesin.

AI seharusnya menjadi alat bantu, bukan penguasa.

Indonesia Harus Mulai dari Pengetahuan

Indonesia tidak harus terburu-buru menjadi negara nuklir dalam arti membangun persenjataan.

Justru sebaliknya, Indonesia perlu memperkuat posisi sebagai negara yang menguasai teknologi nuklir untuk tujuan damai.

Perguruan tinggi dapat memperluas riset nuklir. Pemerintah dapat memperkuat laboratorium dan sumber daya manusia. Industri dapat mulai dilibatkan dalam pengembangan teknologi pendukung. Sementara masyarakat diberi ruang memperoleh informasi yang benar mengenai manfaat sekaligus risiko teknologi nuklir.

AI kemudian menjadi salah satu alat yang mempercepat proses tersebut. Bayangkan jika jutaan mahasiswa Indonesia memiliki akses terhadap tutor AI untuk mempelajari fisika dan teknologi nuklir, lalu sebagian dari mereka melanjutkan ke perguruan tinggi, melakukan penelitian, masuk ke industri, dan akhirnya menjadi tenaga ahli.

Dalam 10 atau 20 tahun, hasilnya mungkin jauh lebih besar daripada sekadar membeli teknologi dari negara lain. Inilah yang seharusnya menjadi cara pandang baru.

Energi nuklir bukan semata-mata tentang reaktor. Nuklir adalah tentang pengetahuan, kemandirian teknologi, keselamatan, dan ketahanan energi.

Sementara AI bukan sekadar chatbot untuk menjawab pertanyaan. Ia dapat menjadi instrumen untuk mempercepat proses belajar dan riset apabila digunakan secara bertanggung jawab.

Indonesia tidak perlu takut mempelajari nuklir. Yang harus ditakuti justru jika kita tidak mau belajar, sementara negara lain terus bergerak maju.

Pada akhirnya, kekuatan sebuah negara bukan hanya ditentukan oleh berapa banyak sumber daya alam yang dimiliki. Kekuatan juga ditentukan oleh kemampuan mengubah pengetahuan menjadi teknologi dan teknologi menjadi kemandirian.

Di era AI, kesempatan itu terbuka lebih lebar. Tinggal pertanyaannya: apakah Indonesia berani memanfaatkannya?

Editor: Arif Ardliyanto

Related News

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut