20 Karya Seni Ajak Publik Menolak Lupa Kasus Pelanggaran HAM
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Momentum September Hitam diperingati dengan cara berbeda di Surabaya. Seni jalanan, mural, poster, stand-up comedy hingga musik dipadukan dalam sebuah rangkaian kegiatan yang mengajak masyarakat mengingat berbagai kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang hingga kini belum tuntas.
Kegiatan tersebut digelar di kantor KontraS Surabaya, Jalan Monginsidi. Kegiatan di mulai pada 26 hingga 30 September 2026. Sebanyak 20 karya seni ditampilkan dalam pameran yang menjadi salah satu rangkaian kegiatan September Hitam.
Penanggung jawab kegiatan, Zaldi Maulana, mengatakan kegiatan tersebut digelar melalui kolaborasi dengan seniman jalanan Surabaya, XGo, bersama kolektifnya, Bunuh Diri Revolt.
“Memang dia sering beberapa kali mural di jalanan dan di beberapa pameran. Kali ini kita berkolaborasi dengan XGo dengan mengangkat satu tema besar namanya ‘Disobey’,” kata Zaldi, Jumat (25/9/2026).
Menurut dia, kegiatan tidak hanya melibatkan seniman mural atau street artist. Sejumlah pelaku seni lainnya, termasuk komika, turut dilibatkan. Seni, kata dia, sebagai medium menyampaikan pesan dan mengajak masyarakat tidak melupakan berbagai peristiwa pelanggaran HAM.
“Jadi, kita coba mengumpulkan berbagai lini seni di sini. Ada seni jalanan, mural, street art, artwork, kemudian stand-up comedian. Kita jadikan satu bagian dari alat perjuangan untuk menolak lupa,” ujarnya.
Dari total 20 karya yang ditampilkan, sebanyak 10 di antaranya merupakan karya baru dengan tema Black September atau September Hitam.
Karya-karya tersebut antara lain berupa poster yang sebelumnya dibuat dalam bentuk ilustrasi, kemudian dicetak dalam ukuran besar. Selain itu, kantor KontraS Surabaya juga akan mendapat respons visual melalui mural.
Rangkaian acara dimulai pada 26 September dengan pembukaan pameran, artist talk dan music performance atau mini gigs.
Hari berikutnya diisi pameran dan stand-up comedy open mic bersama komunitas Bedigasan Reborn. Masyarakat juga diberi kesempatan untuk ikut tampil dalam sesi open mic tersebut.
Pada hari ketiga, kegiatan dilanjutkan dengan workshop kolase zine yang menghadirkan pemantik dari Diary Foto Zine. Selanjutnya, workshop stensil digelar pada hari keempat dengan menghadirkan XGo dari Bunuh Diri Revolt.
Rangkaian kegiatan ditutup pada 30 September melalui diskusi publik dan music performance.
Zaldi mengatakan September Hitam menjadi momentum untuk merefleksikan berbagai peristiwa pelanggaran HAM yang hingga kini masih menyisakan persoalan.
Sejumlah peristiwa yang disebut antara lain tragedi 1965, Tanjung Priok, Semanggi I, Semanggi II hingga pembunuhan aktivis HAM Munir Said Thalib pada 7 September 2004.
“Di sini kita mencoba untuk merefleksikan dan juga memberikan satu penghormatan kepada keluarga korban yang hingga saat ini masih berdiri untuk memperjuangkan keadilan,” katanya.
Melalui pameran dan berbagai kegiatan seni tersebut, Zaldi berharap pesan mengenai penyelesaian kasus pelanggaran HAM dapat menjangkau lebih banyak masyarakat, khususnya generasi muda.
Dia juga mengajak masyarakat menjadikan karya seni sebagai ruang untuk membangun kembali ingatan kolektif terhadap berbagai peristiwa yang terjadi di Indonesia.
“Semoga ini bisa menjadi salah satu pengingat kita untuk mengembalikan kita pada ingatan kolektif bahwasanya negara masih banyak dosa, masih banyak kasus yang belum terselesaikan hingga saat ini,” ujarnya.
Zaldi menegaskan, kegiatan tersebut terbuka bagi masyarakat. Pesan utama yang ingin disampaikan adalah agar kasus-kasus pelanggaran HAM tidak dilupakan.
“Pesannya, tuntaskan kasus pelanggaran berat HAM. Pameran ini untuk kalian semua, dan pameran ini untuk kita semua menolak lupa,” pungkasnya.
Editor: Arif Ardliyanto