Ratusan Sekolah Jatim Masuk Program Revitalisasi 2027, 3T Jadi Prioritas
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menargetkan revitalisasi 71.744 satuan pendidikan pada 2027.
Program tersebut akan kembali dilaksanakan melalui mekanisme swakelola oleh masing-masing sekolah, sebagaimana diterapkan pada tahun sebelumnya.
"Mekanismenya tetap sama dengan tahun lalu, yakni swakelola oleh masing-masing satuan pendidikan. Jadi, tidak ada perubahan," kata Abdul Mu'ti, Senin (28/9/2026).
Menurut Abdul Mu'ti, jumlah sasaran revitalisasi tersebut masih berpotensi bertambah. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) saat ini tengah menghitung kemungkinan penambahan sekitar 6.000 satuan pendidikan.
Penentuan sekolah penerima program tetap mengacu pada tiga prioritas, yaitu sekolah yang terdampak bencana,mengalami kerusakan berat, serta berada di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Di Jawa Timur (Jatim), program revitalisasi sekolah juga mendapat perhatian dari Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim.
Kepala Dindik Jatim Aries Agung Paewai menyebutkan, berdasarkan data yang disampaikan melalui Data Pokok Pendidikan (Dapodik), terdapat 673 satuan pendidikan yang menjadi sasaran revitalisasi.
Rinciannya terdiri atas 324 SMA, 208 SMK, dan 141 SLB. "Sesuai dengan data yang kami kirim berdasarkan Dapodik ke Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, alhamdulillah tahun ini terdapat 324 SMA, 208 SMK, dan 141 SLB yang mendapatkan program revitalisasi," ujar Aries.
Meski demikian, Dindik Jatim masih menemukan sejumlah sekolah yang membutuhkan penanganan.
Pemerintah Provinsi Jatim kembali mengusulkan 24 SMA, lebih dari 100 SMK, dan 48 SLB untuk mendapatkan program revitalisasi.
Usulan tersebut didasarkan pada hasil peninjauan lapangan yang menunjukkan masih adanya sekolah yang membutuhkan perbaikan, termasuk penambahan ruang kelas. "Ada sekolah yang membutuhkan ruang kelas baru," katanya.
Aries mengatakan, sekolah-sekolah tersebut tersebar di berbagai daerah, terutama di wilayah pelosok yang selama ini belum mendapatkan alokasi anggaran untuk revitalisasi.
Editor: Arif Ardliyanto