Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Penyakit Jantung Serang Usia 30–40 Tahun, RS di Surabaya Ini Buat Terobosan Penanganan Pasien
Advertisement . Scroll to see content

Serangan Jantung Mengintai Usia di Bawah 40 Tahun, Dokter Ungkap Pemicu yang Sering Diabaikan

Selasa, 29 September 2026 | 10:13 WIB
  • author Arif Ardliyanto
Serangan Jantung Mengintai Usia di Bawah 40 Tahun, Dokter Ungkap Pemicu yang Sering Diabaikan
Serangan jantung tak lagi hanya menyerang lansia. Dokter mengungkap faktor pemicu pada usia di bawah 40 tahun, mulai rokok, obesitas hingga gaya hidup tidak sehat. Foto iNewsSurabaya.id/ist

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Penyakit jantung kini tak lagi identik dengan kelompok lanjut usia. Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian terhadap serangan jantung pada usia muda semakin besar karena kasusnya juga dapat terjadi pada kelompok berusia di bawah 40 tahun.

Dokter Spesialis Jantung RS Premier Surabaya, dr. Christian Pramudita Budianto, Sp.JP, mengatakan perubahan pola hidup menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai. Kebiasaan merokok dengan intensitas tinggi, pola makan tidak sehat, hingga obesitas dapat meningkatkan risiko penyakit jantung pada usia produktif.

"Rokok dengan intensitas tinggi, disertai gaya hidup tidak sehat seperti obesitas menjadi penyebab paling sering pada usia di bawah 40 tahun," kata dr. Christian.

Menurutnya, kebiasaan sehari-hari yang terlihat sederhana juga perlu diperhatikan. Salah satunya konsumsi kopi yang kerap disertai gula, krimer, atau susu kental manis.

Di kalangan anak muda, kopi juga sering dikonsumsi bersama camilan berkalori tinggi. Kombinasi tersebut dapat meningkatkan asupan gula dan kalori apabila dilakukan terlalu sering.

"Yang jahat itu kalau kopi dicampur gula, krimer, dan susu kental manis. Pendamping kopi seperti pisang goreng juga menaikkan kadar gula darah pemicu serangan jantung," ujarnya.

Selain pola makan, kurang tidur dan stres yang menumpuk juga menjadi bagian dari pola hidup yang perlu diperhatikan. Beban pekerjaan yang tinggi dapat membuat seseorang mengurangi waktu istirahat dan mengabaikan kebutuhan tubuh untuk memulihkan kondisi.

"Kurangnya istirahat, akumulasi stres, ditambah gaya hidup buruk menyebabkan terjadinya serangan jantung. Jadi bukan semata-mata stres karena pekerjaan banyak lalu langsung terkena serangan," jelasnya.

Editor: Arif Ardliyanto

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut