AH Thony Buka Suara Soal Perombakan Pengurus DPC Gerindra Surabaya
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Pergantian sejumlah posisi dalam struktur kepengurusan DPC Partai Gerindra Kota Surabaya menjadi momentum penyegaran organisasi. Perubahan tersebut juga dinilai dapat membuka jalan bagi kader-kader muda potensial untuk mengambil peran lebih besar dalam kepemimpinan partai.
Mantan Wakil Ketua I Bidang Organisasi, Kaderisasi dan Keanggotaan (OKK) DPC Partai Gerindra Surabaya, A.H. Thony, menilai regenerasi merupakan bagian penting dalam menjaga keberlangsungan sebuah organisasi politik.
Menurutnya, Gerindra memiliki cukup banyak kader muda yang mempunyai kapasitas, kualitas, dan integritas untuk dikembangkan melalui struktur kepengurusan.
"Partai butuh penyegaran, banyak kader muda potensial, berkualitas dan berintegritas yang harus diorbitkan, supaya kaderisasi dan regenerasi kepemimpinan berjalan secara sistemik," kata Thony, Selasa (29/9/2026).
Thony melihat perubahan susunan pengurus tersebut sebagai bagian dari proses pembenahan organisasi. Ia menilai pergantian posisi menunjukkan adanya upaya untuk memperbaiki tata kelola internal partai.
"Adanya pergantian ini menunjukkan spirit dan upaya perbaikan yang kita programkan berhasil," ujarnya.
Mantan Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya periode 2019-2024 itu mengingatkan pentingnya budaya regenerasi dalam tubuh partai politik. Menurut dia, organisasi yang tidak memberikan ruang kepada kader baru justru berpotensi menghadapi persoalan dalam jangka panjang.
"Kalau tidak ada regenerasi di partai, itu justru masalah serius. Keluarnya dapat mengancam peningkatan kualitas demokrasi, ke dalamnya menjadi indikasi bahwa kematian partai sudah semakin dekat," katanya.
Karena itu, Thony berharap Gerindra mampu menjaga kesinambungan kaderisasi sekaligus menghindari krisis kepemimpinan. Ia menilai penguatan sumber daya manusia menjadi salah satu faktor penting bagi partai untuk mempertahankan keberlangsungan organisasi.
"Kita tidak ingin Gerindra sebagai partai modern yang memiliki tujuan mewujudkan tatanan masyarakat Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, demokratis, adil, makmur, beradab, dan berketuhanan yang berlandaskan Pancasila serta UUD 1945 ini mengalami krisis kader dan kepemimpinan," tuturnya.
Ia juga mendorong agar kader yang memiliki kemampuan ditempatkan sesuai dengan kompetensi masing-masing. Penempatan yang tepat dinilai dapat membantu organisasi menjalankan program sekaligus memperkuat fungsi partai dalam menyerap dan memperjuangkan kepentingan masyarakat.
"Kalau kader potensial ini duduk dalam kepengurusan yang tepat, maka program partai akan jalan, kepentingan masyarakat akan bisa diperjuangkan," ujarnya.
Thony menilai tantangan partai politik ke depan tidak hanya berkaitan dengan perolehan suara dan jumlah kursi. Menurutnya, kualitas organisasi dan kemampuan melahirkan program yang relevan dengan kebutuhan masyarakat juga menjadi tuntutan yang semakin besar.
"Tuntutan masyarakat terhadap partai ke depan makin tinggi. Yang dituntut tidak hanya kuantitas suara dan kursi yang diperoleh melalui sistem perpolitikan yang jorok dan konvensional, tapi kualitas partai yang mampu membangun demokrasi yang berkualitas, serta menyusun program yang mampu mengakomodasi kepentingan-kepentingan rakyat dengan lebih cerdas," katanya.
Di sisi lain, Thony menyoroti posisi Gerindra dalam mengawal berbagai program pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ia menyebut program pemerintah memiliki tujuan besar, tetapi implementasinya juga menghadapi berbagai tantangan.
"Program Pak Presiden sekarang ini luar biasa mulia, namun konsekuensinya juga berat, banyak tantangan dan hambatan," katanya.
Menurutnya, Gerindra perlu menjalankan fungsi pengawalan terhadap program pemerintah melalui kader-kader yang memiliki kemampuan hingga tingkat daerah.
"Agar upaya mewujudkan cita-cita baik itu tercapai, Gerindra tidak boleh berdiam dan membiarkan Pak Prabowo berjuang sendirian. Gerindra harus menjadi partai pengawal yang kuat, mampu mencetak kader-kader organik di berbagai lini yang mampu menangkap maksud dan tujuan program nasional secara rasional, serta mampu menerjemahkan dan memastikan program Presiden sukses sampai pada tingkat lokal," pungkasnya.
Sebelumnya, DPC Partai Gerindra Kota Surabaya melakukan perubahan struktur kepengurusan. Perubahan tersebut ditetapkan melalui Surat Keputusan (SK) DPP Partai Gerindra tertanggal 27 September 2026.
Dalam susunan terbaru, posisi Ketua DPC Partai Gerindra Surabaya tetap ditempati Cahyo Harjo Prakoso. Begitu pula posisi Sekretaris yang masih dipercayakan kepada Bahtiyar Rifai.
Perubahan terjadi pada posisi bendahara. Ahmad Maududi yang sebelumnya menempati posisi tersebut kini digantikan Yona Bagus Widyatmoko.
Pergantian juga terjadi pada posisi Wakil Ketua I Bidang Organisasi, Kaderisasi, dan Keanggotaan (OKK). Posisi yang sebelumnya dijabat A.H. Thony kini dipercayakan kepada Ajeng Wira Wati.
Perubahan struktur tersebut menjadi bagian dari dinamika internal DPC Gerindra Surabaya dalam menata kepengurusan sekaligus mempersiapkan kader untuk menjalankan peran organisasi ke depan.
Editor: Arif Ardliyanto